Suatu kebanggan tersendiri bagiku mengaku sebagai putra daerah Aceh Singkil, meski jika di tanya padaku, "asli dari mana, bang?" aku biasanya menjawab "Aceh Singkil", lalu pertanyaan selanjutnya pasti mereka menimpali pertanyaan itu dengan "Asli Aceh??". Dan aku sudah mengerti jawaban yang mereka harapkan adalah "suku", Saya pasti mengatakan "Padang".
Itulah salah satu isitmewanya hidup di Indonesia, khususnya di Aceh Singkil ini, sebagiamana Firman Allah "Dan Aku Ciptakan kamu bersuku-suku dan berkelompok-kelompok agar kamu saling mengenal", maka sesuatu yang luar biasa dan lumrah jika suku itu tak bisa kita nafikan untuk disebutkan, hanya untuk saling mengakrabkan diri, bukan untuk berpecah belah, mengakrabkan diri dalam arti, jika teman kita bicara ternyata satu suku, akan lebih terasa akrab, dan jika berlainan suku, agar lebih bisa mengenal karakter dan mengakrabkan diri, agar dalam perkataan tidak saling menyinggung, kita sangat maklumi bahwa setiap suku punya adat dan kebiasaan yang berbeda, karena dengan mengenal suku terlebih dahulu kita bisa mengatur redaksi dan isi pembicaraan, agar obrolan lebih nyambung dan tidak saling menyinggung perasaan, karena ada beberapa kebiasaan yang bertentangan antara satu suku dengan suku yang lain, dan pertentangan itu tidak boleh kita masukkan dalam obrolan yang baru kita mulai itu, mungkin itu diantara sekian banyak hikmah yang saya rasakan dari suku-suku.
Beberapa tahun terakhir ada yang aneh pada negeriku tercinta ini, beberapa bulan saya meninggalkan negeri itu, ternyata jika melihat dari kejauhan, semua terasa lebih jelas dan objektif, dan jika kita berada di dalamnya sebagai pemain, kita terlalu sibuk bermain dan kadang tak sadar apa yang sedang terjadi sebenarnya.
Gejala dari fenomena ini sebenarnya sudah lama terbesit dalam fikiranku, hanya saja saya tidak begitu "care" karena terlalu terlena dan tak sempat berfikir banya tentang keanehan-keanehan yang sedang terjadi. Meski tak berada di dalamnya, tapi informasi dan komunikasi tentang tanah tumpah darahku itu tak pernah luput dari mata dan telingaku, melalui internet, obrolan dengan teman-teman melalui Handhpone, keluh kesah sahabat-sahabat dalam mengarungi kehidupan di negeri nan betuah itu.
Apa yang sedang terjadi di negeriku?? jika saja kekhawatiran ini benar, semoga Allah memberi ampunan, dan jika ini hanya sekedar su'udzhon... semoga Allah mengampuniku.
PERUBAHAN ITU PUN DIMULAI.....
Aceh Singkil dulu di kenal sebagai negeri Dollar dengan kayunya yang terkenal, banyak orang kaya mendadak darinya, kehidupan begitu indah dan nyaman pada waktu itu, sejak itu perkembangan begitu pesat, Aceh Singkil menjadi daerah berkembang dan menjadi kota di tengah hutan, masyarakat yang sejahtera dari sisi ekonominya, kekeluargaan yang kental, dengan sumber daya alam yang begitu menggiurkan, "tamu-tamu" dari luar berdatangan untuk mengais rezeki di negeriku.
Pada dasarnya masyarakat Aceh Singkil memang hidup rukun dengan beragam sukunya, dan karakter tiap-tiap suku bisa di baca dan saling memahami, sarana komunikasi yang ada cuma Telephon kabel, itupun hanya ada di kota Singkil yang berjarak 30 KM dari Rimo kampungku dengan jarak tempuh 1.5 jam, untuk dapat menyaksikan televisi dengan berbagai siaran harus menggunakan parabola, transportasi darat memakan waktu lama jika keluar kota karena jalan belum di aspal, berbatu dan berlubang, sementara sarana transportasi laut untuk keluar kota paling hanya menuju kota sibolga atau Barus.
Para pendatang yang mulai mengais rezeki di negeriku membawa budaya masing-masing dengan karakter masing-masing, khazanah budaya dan kebiasaan mulai bertambah, mempengaruhi pola pikir dan pola hidup masyarakat, heteroginiasi itu membawa pengaruh perubahan yang sangat besar seiring berkembangnya informasi, komunikasi dan transportasi, sementara foundasi pertahanan dari dalam rumah yang ditumbuhkan di dalam generasi-generasi muda tidak begitu kokoh, karena masing-masing sibuk dan bangga serta hanyut dengan rezeki yang didapat... sungguh ni'mat Allah tiada tara. Lalu tiba-tiba UANG telah merajai fikiran dan hidup pada setiap individu, kebutuhan pun semakin meningkat, keinginan pun semakin banyak, semua mudah didapat, karena hampir semuanya mendapat bagian dari Rahmat Allah itu, baik yang bodoh, pintar, berpendidikan maupun tidak, lelaki dan perempuan, mendapatkan uang itu sangat mudah.
Pada saat itulah perubahan itu dimulai.....
Saat kami semua bisa memenuhi kebutuhan kami, mendapatkan apa yang diinginkan...
Saat telah terbukanya pintuk komunikasi dengan dunia luar melalui Handphone, kami mulai pandai berbicara menirukan gaya "toke-toke"nya.
Saat jalan sudah mulus dengan aspal, yang biasanya jarak 30 KM ditempuh dengan waktu 2 jam, bisa dipersingkat menjadi 45 menit, Rimo-Medan biasanya memakan waktu 15 jam bahkan satu hari satu malam, bisa di potong menjadi 7 jam.
Saat kami sudah merasakan empuk dan nyamannya tidur di atas springbath yang biasanya diatas kasur kapuk yang sudah mulai mengeras.
Saat kami sudah merasa nyaman dan leluasanya mengendari mobil sendiri saat pergi ke Medan, yang biasanya harus berdesak-desakan dengan berbagai macam bebauan di dalam Mobil L-300.'
Saat di proklamirkannya Aceh Singkil menjadi Kabupaten
Saat kami mulai pandai main tender dan mendapatkan uang banyak dengan waktu sekejab
Sudah banyak di dapat.. tapi kurang banyak terpaksa harus mencuri dari spesifikasi yang ada dalam kontrak.
Saat lowongan-lowongan PNS mulai di buka di tiap daerah
Saat SK-SK sudah bisa di gadaikan di Bank dan bisa memegang uang banyak dalam waktu singkat.
Saat Bank-Bank mulai bermunculan memberikan pinjaman yang besar, dan tiba-tiba saja bisa membeli asset mewah dalam sekejap dan bergaya parlente dengan "uang Pinjaman" itu yang nantinya akan melilit leher kami sendiri.
Saat kami selalu ingin mencoba-coba hal yang baru.... permainan baru yang selama ini hanya kami dengar dan tak pernah kami sentuh... saat itu sudah ada dihadapan kami dan sudah kami miliki, dan yang lama pun sedikit demi sedikit mulai terlupakan.....
Pada saat itulah perubahan itu dimulai.....
Saat kami semua bisa memenuhi kebutuhan kami, mendapatkan apa yang diinginkan...
Saat telah terbukanya pintuk komunikasi dengan dunia luar melalui Handphone, kami mulai pandai berbicara menirukan gaya "toke-toke"nya.
Saat jalan sudah mulus dengan aspal, yang biasanya jarak 30 KM ditempuh dengan waktu 2 jam, bisa dipersingkat menjadi 45 menit, Rimo-Medan biasanya memakan waktu 15 jam bahkan satu hari satu malam, bisa di potong menjadi 7 jam.
Saat kami sudah merasakan empuk dan nyamannya tidur di atas springbath yang biasanya diatas kasur kapuk yang sudah mulai mengeras.
Saat kami sudah merasa nyaman dan leluasanya mengendari mobil sendiri saat pergi ke Medan, yang biasanya harus berdesak-desakan dengan berbagai macam bebauan di dalam Mobil L-300.'
Saat di proklamirkannya Aceh Singkil menjadi Kabupaten
Saat kami mulai pandai main tender dan mendapatkan uang banyak dengan waktu sekejab
Sudah banyak di dapat.. tapi kurang banyak terpaksa harus mencuri dari spesifikasi yang ada dalam kontrak.
Saat lowongan-lowongan PNS mulai di buka di tiap daerah
Saat SK-SK sudah bisa di gadaikan di Bank dan bisa memegang uang banyak dalam waktu singkat.
Saat Bank-Bank mulai bermunculan memberikan pinjaman yang besar, dan tiba-tiba saja bisa membeli asset mewah dalam sekejap dan bergaya parlente dengan "uang Pinjaman" itu yang nantinya akan melilit leher kami sendiri.
Saat kami selalu ingin mencoba-coba hal yang baru.... permainan baru yang selama ini hanya kami dengar dan tak pernah kami sentuh... saat itu sudah ada dihadapan kami dan sudah kami miliki, dan yang lama pun sedikit demi sedikit mulai terlupakan.....
Sejak saat itu...
Silaturrahmi mulai berkurang karena sibuk, dan masing-masing orang sudah mampu mengurus dirinya sendiri, tak meras butuh orang lain lagi, sudah punya uang sendiri, sudah punya rumah sendiri sudah punya sendiri-sendiri...... dan kami tak ingin lagi berbagi kecuali pada keluarga terdekat saja.
Agama tak lagi bisa mengatur kehidupan kami... tapi uang lah yang mengatur semua, uang bisa mewujudkan apa yang kami mau.
Lalu cerita surga dan neraka yang sering di ceritakan para ustadz di atas mimbar menjadi seperti dongeng anak kecil sebelum tidur, karena saat muballigh itu berceramah, kami langsung mendengkur sambil duduk, padahal kalo dirumah sangat sukar untuk tidur.
Duduk bersama komunitas orang-orang berpakaian koko, berpeci atau lobe tidak lagi mengasyikkan dan terasa kaku, duduk di mesjid setelah selesai sholat jama'ah yang menjadi budaya kami dulu sudah tak ada lagi, karena semuanya harus buru-buru kembali ke aktifitas yang sangat padat dan Pekerjaan yang menunggu lebih banyak dari pada waktu yang tersisa, seakan-akan waktu yang berputar tak cukup 24 jam untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan itu.
Andai saja manusia bisa mengubah putaran waktu, mungkin ada juga yang membuat putaran jam menjadi 60 jam dalam sehari semalam.
Tapi untuk duduk di warung kopi bersama teman-teman sambil nonton dan bercerita yang tak tentu arah serta canda tawa yang penuh dengan kesia-siaan bisa tahan berjam-jam meski yang di minum hanya kopi segelas di warung Aceh.
Majlis ilmu, pengajian rutin yang dulu menjadi pendidikan non formal sebagai sumber ilmu sudah kurang peminatnya, pengajian yang diadakan setiap habis magrib sambil menunggu isya di masjid, bisa di hitung dengan jari berapa orang yang hadir, tapi jika ada acara-acara seremonial seperti isra' mi'raj, maulid nabi ... itu lebih lumayan pesertanya dibandingkan acara Keyboard, cross, Ulang Tahun dan acara-acara yang heboh dengan kemerihan dan seremonial penuh hura-hura..... yaa.. kami menikmatinya.
Duduk di depan monitor membuka Google dan facebook adalah rutinitas bukan hanya remaja saat ini tabi bahkan orang-orang tua, kita bisa melihat masing-masing orang sibuk dengan jemari tangannya menekan keypad HP untuk update status hanya sekedar membuat keluhan dan menyatakan existensi diri, karena Facebook bisa membuat ramai suasana meski sedang dalam keadaan sendiri, dan tak lagi terdengar suara Al-Qur'an yang dilantunkan oleh para remaja di rumah-rumahnya seperti dulu, suara qur'an hanya ada di corong masjid menjeleng adzan tiba.... qur'an mulai di tinggalkan karena tak lebih menarik dari pada majalan Kartini, Femina atau Sophia Martien.
Saat kegalauan dan kecemasan datang menyelubungi hati, yang pertama kali di jangkau oleh tangan adalah Handhpone lalu membuka www.facebook.com... update status, karena sholat dan al-qur'an terasa tak punya kekuatan lagi menghalau rasa cemas dan galau itu.
Para orang tua sangat susah melihat anak-anaknya yang tak punya pekerjaan, cemas karena anaknya tak juga bisa hidup layak, iba dan kasihan melihat putrinya tak juga kunjung di pinang lelaki sehingga mereka welcome saja jika anaknya di apeli lelaki pada malam hari, duduk berdua diteras rumahnya yang gelap, sementara orang tuanya didalam menonton televisi.
Tapi mereka tak pernah risau melihat anak-anaknya yang sudah remaja dan baligh masih saja mendengkur tidur meski matahari sudah tinggi, dan tak pernah menyuruh anaknya sholat bahkan pada umur 7 tahun dan memukulnya pada umur 10 tahun jika meninggalkan sholat, yang mereka tanyakan adalah "sudah makan, kamu nak?, berapa dapat penghasilan hari ini?"
Para orang tua tak lagi berani menegur anaknya yang melanggar aturan syari'at Tuhan, takut untuk menegur anaknya jika tidak sholat... nanti anak itu tersinggung... padahal orang tua memiliki hak untuk menasehati dan memerintahkan anaknya untuk kebaikan meskipun anaknya itu seorang raja.
Dan yang paling dibanggakan adalah ketika anaknya sudah bisa memberinya rupiah, jika anaknya sudah memiliki kebun sawit meski hanya 2 hektar, dan para orang tua berusaha untuk mengumpulkan uang dan mereka bercerita pada teman-temannya di warung kopi atau saat "rewang" undangan pesta, "pokoknya aku gak khawatir lagi lah, jika aku nanti meninggal, sudah ada yang ku tinggalkan untuk anak-anakku kelak, kebun sawit yang 10 hektar itu akan kubagi kepada mereka kelak, agar mereka tak bertengkar".
Para suami pun segan untuk menyuruh istri dan anak perempuannya menutup aurat, karena takut istrinya marah dan ngomel, dari pada ribut... "terserah kamu dech.. yang penting aku dah ingatin", otoritas suami tak ada lagi, bahkan tidak merasa risih jika aurat istri dan anak-anak perempuannya terbuka. Apalagi jika istrinya menjadi penopang ekonomi dalam keluarga, suami tambah tak punya nyali untuk bertindak tegas melaksanakan otoritasnya.
Jarang sekali kami mendengar bahkan hampir tidak ada yang berkata "Anak itu akan ku tempah untuk menjadi seorang hafidz Qur'an, Alhamdulillah.. di usianya yang baru 7 tahun, sudah hafal Juz 'Amma".
Rasa cemas dalam meninggalkan generasi yang tak beragama itu.. tak ada lagi..... dan selalu saja ada alasan dengan slogan "memang uang bukan segala-galanya... tapi segalanya butuh uang."
BALA ITU MULAI DATANG
Seperti halnya kepercayaan terhadap Allah, jika kita ditanya "percayakah anda kepada Allah?" 1000% kita yakin, kita akan menjawab dengan tegas dan cepat akan mengatakan "PERCAYA", dan belum ada seorang yang beragama Islam pun yang mengatakan "aku ragu". Jika saya beri gambaran kepercayaan kita kepada Allah itu, mungkin seperti ini :
Seorang sniper yang sangat mahir menembak, apa saja yang di bidiknya tak pernah meleset, bahkan batang korek api yang diletakkan dengan jarak 20 meter bisa tepat dalam bidikannya tanpa meleset, anda tahu dan melihat dengan mata kepala sendiri, dia sering menembak dan tak pernah meleset, anda pasti mengakui bahwa dia sangat jago dan mahir menembak, dengan haqqul yakin anda akan mengatakan "ya dia sangat jago menembak", anda menyaksikan bukan hanya sekali, tapi berpuluh kali dia menembak dan tak pernah meleset, dan saat ditanya kepada anda "apakah dia jago menembak?" anda akan mengatakan "ya... dia sangat jago menembak, tak bisa anda pungkiri" seandainya pun anda bertaruh untuk dia, pasti anda akan memilih dan memasang taruhan untuknya.
Dengan keyakinan anda pada kemahirannya, lalu dia menawarkan kepada anda, "tolong taruh buah apel ini di atas kepala anda, saya akan membidiknya dalam jarak 3 meter, dan pasti tidak akan meleset".
Apakah anda berani meletakkan buah apel itu diatas kepala anda, dan membiarkannya membidik untuk menembak buah apel yang ada diatas kepala anda itu? saya sangat yakin, anda akan berkata "ooo..no..no..no.... tidak..tidak..tidak.....kalo lagi apes.. bisa bocor kepalaku..."
Mungkin begitulah gambaran keyakinan kita kepada Allah, hanya di bibir saja, tapi tidak haqqul yakin, tidak bisa merasakan kehadiran akan kebesaran dan kekuasaannya yang melebihi langit dan bumi.
Kebesaran Allah sudah mulai hilang karena jarang sudah dibicarakan dikampungku, dimana-mana orang berbicara tentang uang, sesuatu yang kecil jika sering di sebut-sebut maka akan menjadi besar, dan sesuatu yang besar jika jarang disebut maka dia akan menjadi kecil. Saat ini uang adalah menjadi tolok ukur, meskipun orang itu bodoh dan gila, tapi jika dia memiliki uang, orang akan menghargainya, tapi jika seorang itu pintar, namun tidak punya uang, orang akan memandangnya biasa-biasa saja, apalagi orang yang bodoh dan miskin pula....
UANG sudah menggantikan posisi kebesaran ALLAH, itu tidak diakui siapapun... tapi terpancar dari sikap dan prilaku kami sehari-hari di negeri itu.
3 orang kaya lebih di dengar omongannya dari pada 1000 pendemo miskin, meski pendemo itu menyuarakan kebenaran. begitulah uang/materi sudah menguasai hati dan fikiran. Para ustadz alim ulama pun sudah enggan datang memberi pencerahan kepada kami jika waktunya sedang tidak lapang, jika jadwalnya bertabarakan, antara mengisi ceramah agama dan rapat tentang pembagian "jatah", dengan serta merta dia mengirim SMS kepada jama'ah "Maaf, saya tidak bisa hadir, ada rapat, tolong carikan ustadz pengganti"
Ulama adalah pilar penyangga langit, dengan do'a dan da'wahnya mampu menunda datangnya bala dari langit bagi sebuah negeri, dan bisa dibayangkan jika do'anya tak lagi ampuh untuk menahan bala Allah, dan fenomena itu telah muncul di negeri kami, tapi kami tidak sadar, seakan-akan kesulitan ini adalah karena kebodohan kami dalam megendalikan hidup, dan rezeki yang kami dapat adalah karena kecerdikan dan kepintaran kami dalam melobi rekan bisnis.
Lihatlah...... harga sawit anjlok, harga sarang burung walet dari 10 juta menjadi 3 juta, dan tak sanggup lagi menutupi hutang bank, karena gedung walet itu dibangun dengan uang pinjaman dari bank.
Para pengusaha di lilit hutang, karena semakin banyaknya Bank Konvensional yang tumbuh bagai jamur dan berburu nasabah meski dengan cara Take Over kredit.
Untuk menutupi hutang harus membuat hutang baru, karena terpaksa di kejar limit, berbunga pun tak masalah, dan rasa cemas dan takut pun mulai tumbuh tampa alasan. HP mulai sering dimatikan, SMS pun tak lagi dibalas, nada panggil dibiarkan, telpon tak diangkat karena seseorang di ujung sana selalu menagih janji.
Proyek-proyek pekerjaan pemerintah hanya untuk mereka yang punya koneksi dan bisa "menyulangi" para pimpro, Tender bukan dimenangkan oleh angka penawaran yang paling kecil, tapi yang bisa melobi dan "menyumbang" paling besar pada panitia. itu tidak bisa dipungkiri dan sudah rahasia umum.
Para istri tak lagi taat pada suaminya, karena suaminya tak lagi mampu menafkahi lebih kecuali untuk makan saja, dan istrinya lebih agresif dan punya peluang besar untuk bekerja, karena suaminya tak bisa lagi menjadi imam dan panutannya.
Bermain seorang dengan istri orang sudah lumrah dan dianggap lebih baik dari pada harus menikah, karena menikah akan merusak keharmonisan rumah tangga dan kasih sayang akan terbagi, jika "makan nasi bungkus" seperti barang habis pakai dan tak berbekas, itu lebih aman.
Pernahkah kita merasakan rasa cemas dan takut, hidup tak nyaman dan tak tentram itu karena keberkahan telah dicabut oleh Allah? rasa resah berkepanjangan..... lalu bertanya.. DIMANAKAH KEBAHAGIAAN ITU??
Pernakah kita merasa bahwa bala itu sudah berada diatas kepala kita? dan sebentar lagi Allah akan menumpahkannya karena keingkaran dan kekufuran kita pada nikmatNYA? apakah kita hanya percaya kepada Allah seperti kita percaya pada "sniper" itu? Apakah kita tidak merasa lelah mengejar dunia yang tak kunjung puas ketika kita mendapatkannya ?
PULANGLAH...
Teringat nasehat seorang kiyai saat aku akan meninggalkan pesantren itu dan akan melanjutkan kuliah di Mesir, tangannya menempel di bahuku, dan ditepuk-tepukkan dengan penuh rasa sayang, ya.. dia Utadz Abdul Halim, Tulus dia berkata :
"Carilah tempat tinggal di sekitar masjid, meski saya tahu kamu tidak suka "jaulah", tapi itu alternatif bagimu, jika kamu mengalami kegalauan dan keadaan yang sulit..... kembalilah ke masjid" minta tolonglah dengan SHOLAT dan berSABARlah...."
Sering-seringlah menyebut dan menceritakan tentang Allah agar DIA menjadi besar dihati kita, karena sesuatu yang sering disebut-sebut akan menjadi besar meski seuatu itu adalah hal yang kecil.
YA..... KEMBALI LAH KE MASJID.........
5 komentar:
mantap...expresi diri
hmmmmm ...sebuah "rasa"
truss...solusinya gimana bang ?
hmmm...... solusi nya hanya "sholat" yang bisa mencegah kekejian dan kemungkaran.
Posting Komentar