Pages

Banner 468 x 60px

 

Minggu, 30 Juni 2013

Ayahku

1 komentar
Ayahku....kami memanggilnya sehari-hari dengan kata "Abak"
Namanya Muhammad Abduh Jamil, tak banyak yang  memiliki nama itu dikampung kami, hanya ada satu orang sahabat dan tetangganya dulu saat tinggal di Desa Handle namanya Abduh Pohan. Beliau Lahir di Lipat Kajang 71 Tahun  yang lalu tepatnya 15 Maret 1942, saat negeri ini masuh hutan belantara, beliau ikut juga merasakan pahitnya jaman Belanda, Jepang dan PKI di desa terpencil itu, hingga pada saat heboh Referenum dan GAM bergejolak di Aceh, kami merasa resah dan cemas, ayah menangkan ku dan mengatakan "kamu ndak usah khawatir, disini (Rimo) Insya Allah tak akan rusuh, selama hidup ayah  di Rimo ini sejak zaman Belanda, Jepang dan PKI, tak begitu berpengaruh, sebab daerah kita bukan daerah politik, tapi daerah Ekonomi, masyarakat kita tidak begitu peduli dan tak tertarik dengan urusan seperti itu"


Beliau anak Ke 3 dari 4 bersaudara (alm. Ramsis Jamil, Nurhuda Jamil, M. Abduh Jamil dan A. Malik Jamil) ayahnya bernama Muhammad Jamil, kami tak begitu banyak tau tentang kakek itu, yang kami tahu makamnya ada di seberang rumah kami, hanya nenek Hj. Nurhalifah yang biasa kami panggil Uci  yang sempat bertemu dan kami bermanja ria padanya. Beliau juga sudah meninggal sekitar tahun 80an di usianya tepat 80 tahun sewaktu aku duduk di kelas 2 SD Tulaan. Masih segaar dalam ingatanku penyelenggaraan fardhu kifayah nenek yang kami cintai itu.
Ayah jarang bercerita tentang kisah-kisah masa lalunya ataupun silsilah keturun, beliau hanya sering bercerita kepada kami tentang masa depan, angan-angan dan impiannya yang besar,  yang mungkin baginya tak sempat lagi untuk mewujudkannya. Bagi kami beliau adalah seorang yang hebat, hingga suatu hari ayah pernah bertanya pada adikku Ahmad Firdaus yang waktu itu masih duduk di kelas I SD, "kalau kamu disuruh memilih presiden, siapa yang kamu pilih?? spontan saja dia menjawab "Aku pilih ayah...!!" begitulah dia bangganya terhadap ayah meski masih Kelas 1 SD, tapi dia sudah mengidolakan ayah.

Tak banyak yang kami tahu tentang silsilah garis keturunan ayah, kami hanya tahu sebatas kakek Muhammad Jamil, dan itu pun hanya namanya saja, dan beberapa cerita tentang beliau yang sering diceritakan ayah pada sela-sela taushiyahnya kepada kami, mungkin saat dia bercerita tentang kakek, dia sedang merindukannya.

Bagi kami Ayah adalah orang terhebat dan kami banggakan selain dan setelah Rasulullah, dan mungkin semua orang sayang dan bangga pada ayahnya.
Beliau bukan hanya seorang ayah, tapi juga seorang sahabat, tempat bertukar pikiran, diskusi tentang agama maupun bisnis dan tentang apa saja, bercanda dan bercengkrama, duduk disampingnya sangat mengasyikkan dengan berbagai macam nasehat, cerita dan Bual dan candanya karna beliau memang seorang homoris. Dikampung itu saya rasa.... semua orang mengenalnya, dan kadang kami "menjual" nama baiknya untuk kepentingan kami.. :-)
Tak ada yang terlalu istimewa dalam hidupnya, hanya orang biasa yang memiliki impian luar biasa, mendidik anak-anaknya juga tidak begitu luar biasa, Metodenya sangat sederhana.... beliau hanya menerapkan disiplin sholat dan akhlak karimah kepada anak-anaknya, tak terlalu perduli dengan rangking atau nilai kelas anak-anaknya, dan tak pernah bertanya "kamu rangking berapa, IP mu berapa? saat aku kuliah, yang sering dia tanya hanya "bagaimana sholatmu? bagaimana teman-temanmu? apakah kamu sudah punya banyak teman? ceritakan tentang satu orang temanmu pada ayah..."

MASA MUDA
Kadang-kadang ketika memberi wejangan dan nasehat kepada kami, dengan cara mengisahkan masa lalunya, mungkin saat melihat kami dan teringat masa lalunya, spontan beliau bercerita, tapi itu sangat jarang sekali, sekelumit yang pernah kudengar dari mulutnya bercerita...
Semasa kecil beliau tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Banda Aceh, orang menyebutnya Asrama Penyantun, hingga saat ini asrama itu masih ada, jarak antara ayah dan abangnya alm. Ramsis Jamil terpaut cukup jauh, jarak usia mereka 15 tahun, dan belaiu sangat menyayangi dan menyegani Abang tertuanya itu, karena sepeninggal kakek, abangnya itulah yang mengurusnya, kami memangilnya Pak Tuo.
Sejak Sekolah Dasar ayah sudah tinggal di asrama Yatim, disana beliau di sekolahkan hingga mengecap pendidikan SMEP (Sekolah Ekonomi Pertama) tapi tidak selesai, karena ayah kabur dari asrama.
Beliau kabur karena ngambek sama pengurus asrama, pasalnya....... guru sekolahnya mengintruksikan agar setiap murid membawa pas photo segera dan menyerahkan kepada guru untuk administrasi Ujian Akhir Sekolah.
Kembali dari sekolah, pesan guru itu disampaikannya kepada kepala asrama, kepala asrama menjawab "apa pula pakai foto-foto segala, seperti pejabat saja???!!" dengan nada ketus. Ayah seorang yang mudah t
ersinggung, sore harinya beliau mengemas barang-barang dan meninggalkan asrama, menghilang tak ada kabar berita, dan kembali ke Rimo yang pada waktu itu jarak antara Banda Aceh-Rimo bisa memakan waktu 2 hari perjalanan karena jalannya masih begitu parah dan melalui hutan belantara.
cerita ini sering di ucapkannya padaku, saat beliau menasehati.."jangan mudah tersinggung.... kamu tau nggak, gara-gara sifat itulah ayah dulu gak selesai sekolah, hanya gara-gara omongan kepala asrama tentang pasfoto. karena setelah beberap tahun kemudian ayah menghilang dari asrama, kami bertemu dengan kepala asrama, dan memeluk ayah sambil menangis.... Abduh..abduh.. .. kemana kamu menghilang.. padahal kami mau mengirimmu ke Jawa untuk sekolah disana.. tiba-tiba saja ayah terperanjat dan timbul rasa menyesal yang sangat dalam, "kenapa waktu itu saya mesti kabur?" kalo lah tidak karena sifat itu, mungkin ayah sudah jadi pejabat sekarang..." guraunya.

"BERBAKTI"  KEPADA ABANG
     Di Rimo, ayah tinggal bersama Pak Tuo dan nenek, bekerja membantu Pak Tuo yang memang sorang pedagang kelontong, Pak Tuo sangat di kenal di kampung itu sebagai sudagar dengan Toko Madya Suka, Pak Tuo yang jaraknya sangat jauh dengan ayah, sikapnya layaknya seperti seorang ayah kepada anaknya, berwibawa dan jarang bicara apalagi canda dengan ayah,  Ayah tinggal dan makan disitu, banyak kisah yang diceritakan ayah padaku tentang suka duka tinggal di rumah warisan itu. salah satunya begini.

     "Pak Tuo adalah seorang sudagar yang sangat pintar melihat peluang pada zamannya, mungkin keturunan dari buyut kami, atau kakekya, kono kakeknya adalah soerang saudagar "importir" pada masa itu, yang sering berlayar dan berbelanja di Malaysia dan Singapur, sehingga dia memiliki banyak tanah di daerah Kepulauan Pulau Banyak, dan Pak Tuo lahir disana, karna itu namanya Jaziri yang artinya Pulauku, dan dia dikenal dengan nama Ajo Jiri di kampungku, tapi terahir Pak Tuo merubah namanya  menjadi Ramsis Jamil, aku tak tahu apa alasan nama Raja Mesir itu dibuatnya.
Tapi bagi Pak Tuo Bisnis adalah urusan utama, hingga akhirnya dia tak begitu sempat memperhatikan adiknya itu, sekolahnya ataupun kebutuhannya, Sebenarnya Ayah sering mendongkol sama Pak Tuo, tau nya hanya dagangannya saja yang ada dalam fikirannya,  hingga suatu hari Pak Tua melihat peluang bisnis Kerbau.
Pak Tuo memerintahkan ayah untuk pergi ke Desa Kandang Aceh Selatan, untuk melihat dan membeli Kerbau disana, untuk dibawa ke Rimo dan dijual, Jarak Rimo dengan Desa Kandang 2 hari perjalanan, Ayah berangkat menggunakan sepeda menyusuri bibir Pantai Samudra Hindia dengan berbekal Nasi Ketan, yang dimakan sedikit sedikit hanya sekedar menahan lapar, nasi ketan bisa tahan lebih lama dari pada nasi. Perjalanan yang jauh dan melelahkan itu membuat "pantat" ayah menjadi luka karena sedel sepeda, jika lelah beliau berhenti dan berisitrahat dibawah pohon.
Sesampainya di Desa Kandang dan negosiasi tentang harga, akhirnya Kerbau jadi juga dibawa ke Rimo, tapi ayah sudah tidak sanggup lagi untuk naik sepeda ke Rimo,  Ayah meminta kepada empunya Kerbau yang namanya Muhammad, kami memanggilnya Pak Cut Muhammad, untuk  mengantar sampai ke Rimo, sementara abak menjual sepeda itu dan melanjutkan perjalannya ke Banda Aceh dengan menggunakan Angkutan Umum.
Mendengar kabar itu dari Pak Cut Muhammad ketika sudah sampai di Rimo, Pak Tuo sangat marah, dan mengatakan  "Sepeda Pusaka kau jual, duh????"
Ayah tak perduli, memang tabiat ayah mungkin seperti itu, jika ada suatu hal yang tak disenanginya, dia tak perduli, dan di tinggalkan begitu saja dan tak mau dengar lagi orang yang ngomel.
Ayah tinggal di Banda Aceh untuk waktu beberapa  lama, lalu dari Banda Aceh Ayah pergi ke Medan, disana beliau menginap di rumah Kost anak Pak Tuo yang bernama Dahrusyid yang sedang menyelesaikan Kuliah Kedokteran di Medan,
Beliau menikmati makan dan tidur di kamar Keponaknnya itu, sampai akhirnya Pak Tuo menyuruhnya segera pulang.

AYAH MENIKAH
 bersambung...................................





1 komentar:

saifulikhwan mengatakan...

Ditunggu cerita selajutnya pak.

Posting Komentar