Pages

Banner 468 x 60px

 

Rabu, 02 Agustus 2017

DOAKANLAH, TAK MESTI DIA TAU.

0 komentar
Cerita itu pernah ku dengar berapa tahun lalu, tentang seorang guru mengaji yang tinggal di seberang sungai mengabdikan diri dengan sepenuh jiwanya untuk penduduk itu, bersama istrinya yang setia dengan pengabdian sepenuh jiwanya juga untuk suaminya.
Setiap pagi bapak itu pergi mengajar mengaji di mushalla seberang sungai, sungai selebar kurang lebih 200 meter itu dia lewati dengan berjalan di atasnya, itu adalah hal yang biasa, masyarakat pun tau bahwa bapak itu seorang yang tulus dan ikhlas bisa berjalan di atas air.
Suatu ketika, seperti biasa sang guru yang bersahaja itu berangkat ke seberang, setelah berpamitan pada istrinya, dan melepasnya sampai di depan pintu.
Dengan mengucapkan bismillah, sang guru melangkahkan kakinya di tepian sungai yang airnya nampak tenang, hanya beberapa langkah saja, sang guru terjerembab ke dalam air, untung masih di pinggir yang tinggi airnya masih sepinggang, sehingga bajunya menjadi basah, kaget bukan kepalang, sambil terus beristighfar, dia kembali ke rumah dengan basah kuyup.
Betapa kagetnya sang istri, melihat suaminya yang baru saja berangkat sudah kembali dengan pakaian basah kuyup.
"Lho, ada bang? Kok sudah pulang, dan basah.seperti itu?" Tanya istrinya heran, karena biasanya sang guru kembalinya setelah ashar.
"Iya, nih dek, tidak seperti biasanya, tadi abang tidak bisa melewati sungai itu." Jawab sang guru dengan nada iba.
Tiba-tiba saja istrinya menangis dan dengan badan setengah membungkuk, dan memeluk tangan suaminya, lalu berkata, "oh, ya. Maafkan saya bang, tadi saya lupa sholat 2 rakaat seperti biasanya sebelum abang berangkat, maafkan saya bang.."
Sang guru tertegun, beristighfar semakin dalam di dalam hatinya.
"Ya, Allah, ampunkan atas kesombongan hamba, selama ini hamba mengira, semua yg karunia yang engkau berikan kepada hamba, karena ibadah dan pengabdian hamba padamu, ternyata sholat 2 rakaat dan doa istri hambalah yang membuat hamba bisa melewati sungai itu setiap hari".
Sobatku yang baik..
Pernahkah kamu menyadari bahwa dalam hidupmu ada orang lain yang selalu memperhatikan dan mendoakanmu tanpa engkau ketahui?
Dan bagimu para istri, setinggi dan sebanyak apa doa serta pengabdianmu untuk suamimu yang engkau sembunyikan tanpa harus dia tau?
Marilah saling mendoakan tanpa harus kita beri tahu bahwa "aku selalu mendoakanmu".
Karena doa kepada orang lain tanpa sepengetahuannya, itu sangat makbul, dan malaikat pun akan berkata "dan bagimu juga apa yang telah engkau doakan untuk saudaramu itu....."
Read more...

AYO MEMULAI USAHA

0 komentar
Anda tak percaya? Bahwa memulai usaha itu diawali dengan langkah yang paling kecil, sebagai bukti bahwa kita sudah action, meski dengan seadanya, Ya.. Seadanya.. tak perlu malu. 
Saya akan ceritakan bagaimana saya memulainya, sebagai bukti bahwa kalimat itu adalah benar.
Beberapa tahun lalu, saya tinggal di Medan tanpa pekerjaan dan penghasilan yang semestinya, hanya sebatas bisa bertahan hidup (tidak mati) saja, itu sudah cukup bagi saya.
Dengan bantuan seorang teman, saya dimasukkan ke sebuah percetakan di dekat sebuah Kampus ternama di Sumatera Utara sebagai Desainer, padahal saya cuma desainer Amatiran. Agak berat memang, karena biasanya pekerjaan saya diselesaikan dan dibantu oleh orang lain, tapi pada saat itu saya pula yang mesti harus membantu dan menyelesaikan pekerjaan orang lain.
Satu bulan saya bekerja di situ, sebagai desainer, yang harus menggunakan Potoshop dan Corel, padahal saya tidak begitu mahir menggunakan dua software itu, tapi keadaan sering kali memaksa kita untuk harus bisa. Selama bekerja, ada yang aneh saya perhatikan disitu, Toko itu menerima segala jenis bahan cetakan, mulai spanduk, undangan, kartu nama, ID card dan banyak lagi.
Biasanya setiap adzan zuhur saya izin ke masjid yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat saya bekerja, Tapi hari itu saya terlambat, dan harus shalat di tempat kerja, Si bos mengajak saya sholat Jamaah bersamanya.
"Ayo yar, sudah jam 2, kita sholat",
Saya pun mengikuti langkahnya, dan meninggalkan meja kerja. Sebenarnya saya sudah lama penasaran, ingin melihat mesin Cetaknya, karena setiap orderan yang diterimanya, konsepnya di taruh di mejaku, setelah selesai saya desain, dia mengambil softcopynya, saya tidak pernah melihat bagaimana Finishingnya, tau-tau gambar yang saya desain tadi sudah berada di tempat barang menunggu costumer datang mengambil.
Ajakan si Bos sholat Jamaah itu, saya manfaatkan untuk melihat-lihat isi dalam rumah itu lebih jauh, ternyata pintu yang saya duga di dalamnya mesin itu, hanyalah gudang sampah, tak ada mesin. "Lalu.. bagaimana dan dimana si Bos ini mencetak semua hasil desainan saya?"
Suatu ketika, saat kesibukan begitu memuncak, si bos tidak sempat mengambil softcopy desainan saya, dia perintahkan mengirim Desainan itu lewat email, dengan menggunakan Email Perusahaan, setelah di bukakan Emailnya.
"Yar, kirimkan desainanmu itu ke alamat Email ini." sambil memberi secarik kertas.
Disitu baru saya tau bahwa tempat saya bekerja ini hanyalah menerima order dan desain, produksinya ternyata jauh 10 KM dari tempat ini.
Satu bulan saya bekerja, saya minta Resign, dengan alasan sudah tidak sanggup lama mata memandang Monitor mulai Pagi jam 8.00 sampai jam 10.00 malam nonstop. Gaji pertama saya terima, sekaligus gaji terakhir.
Sampai dirumah, saya ceritakan kepada isitri saya, Bos itu sebenanrya tidak punya apa-apa kecuali kepercayaan, pelayanan, dan teknnologi, "kalau begitu caranya.... saya juga bisa..!!!" kataku pada Istri,
"Ayo, kita mulai..!"
"hmmm... dari mana memulainya?" katanya bingung
"Kita mulai.. bahwa mulai besok kita buka usaha sendiri.."
"Dengan tempat seperti ini?" katanya heran.
karena tempat tinggal kami jauh dari keramaian, masuk gang keluar gang, dan tertutup tembok yang tinggi".
"Ya.. kita mulai, kita buat brosur Iklan, bahwa kita menerima order." katakau mantap.
Dengan Laptop 11 Inci yang kumal dan seadanya, saya buat sebuah brosur, "Menerima Service Komputer, Laptop, Printer, buka 24 Jam"
Brosur itu saya perbanyak sebanyak 50 lembar.
Tapi,... memang saya bukan orang marketing, saya tidak berani menawarkan bahkan menempel brosur itu di luar rumah.
Karena brosur sudah di cetak, tapi tidak berani menempelkannya, akhirnya brosur itu saya tempel banyak-di dinding dalam rumah sebelah Meja Kerja sederhana itu, bahkan di daput".
Sambil senyum-senyum sendiri, "ahh. ini pun jadilah"
Sambil menunggu Cotumer yang tidak mungkin datang, saya utak atik komputer membuat sebuah Blog Bisnis, yang namana www.medanpercetakan.blogspot.com.
Begitulah kami memulainya, dengan membuat brosur, menggeser dan menyusun meja, berpakaian rapi setiap hari di dalam rumah, seakan-akan itu adalah meja kerja dan siap menerima costumer.
Hari itu saya sudah membuat langkah kecil, tekad dalam hati, dan tindakan yang sangat kecil, tapi dari langkah kecil itulah semua bermula.
"Ya... hanya dengan mencetak brosur dan menempelnya didinding dalam rumah, dan merapikan meja, berpakaian rapi, lalu bertawakkal kepada Allah, karena pada hari itu, hanya begitulah yang kami mampu."
Alhamdulillah, dengan langkah kecil itulah saya sampai ke tahapan ini, dan masih melangkah terus...
"Ayo... mulailah usaha anda... lakukan dengan perlahan, dan terus menerus, jangan berhenti... karena langkah-langkah kecil itu akan membawamu meninggalkan tempat yang sulit itu, dan usaha yang paling bagus itu adalah usaha yang di mulai, bukan yang di tanya-tanya melulu.
"Berani memulai, gigih saat bertahan... = Sukses.!
Read more...

Minggu, 11 Desember 2016

Andai Rasulullah SAW datang mengetuk pintu rumahku….

0 komentar
Andai Rasulullah SAW datang mengetuk pintu rumahku….

Terbayang olehku sorot mata yang tajam dan teduh bisa meluluhkan hati yang keras dapat menenangkan hati yang gusar. Ingin kusentuh dan kucium tangannya yang lembut bagaikan sutra. Dapat kucium harum tubuhnya yang lekat. Dapat kulihat tubuh tegap dan gagah yang Allah ciptakan dengan rupa terbaik.

Ingin aku berkata apa adanya :

“Ya Rasulullah do’akan aku agar dapat terangkat segala kesulitan hidupku, semoga Allah melapangkan rizkiku, do’akan aku ya Rasulullah agar baik urusanku di dunia dan akhirat dan jadikan aku kelak mendampingimu di syurga, hidup abadi bersamamu.”

Namun….

Belum sempat aku membuka pintu rumahku, tiba-tiba aku teringat di ruang tamuku ada televisi lengkap dengan DVD playernya, sebuah benda yang mungkin akan menjadi pertanyaan nabiku terkasih, “Benda apa ini? Apa yang engkau saksikan di dalamnya?” Oh…aku pasti malu, karena aku dan keluargaku sering menghabiskan waktu di depan televisi hingga lalai shalatku.

Aku mulai melihat sekelilingku, ternyata buku-buku bacaanku lebih banyak berisi buku-buku umum yang kumiliki. Bahkan Al-Qur’an yang ada nyaris hanya sebagai pajangan belaka karena covernya pun masih bagus dan halamannya masih rapih meski  telah bertahun-tahun menghiasi ruang bacaku. Pasti Rasulullah akan bertanya padaku, “Berapa banyak Al-Qur’an yang engkau baca setiap hari? Apakah ada buku-buku yang menceritakan tentang diriku?” Ah..aku pasti akan terbata-bata menjawabnya, karena jarang sekali aku membukanya karena memang aku tidak tahu cara membacanya.

Aku mulai berjalan ke kamar tidurku kalau-kalau Rasulullah ingin bermalam di rumahku… Ternyata di kamarku hanya ada sedikit ruang untuk shalat sekedar untuk badanku saja. Aduh alangkah repotnya kalau Rasulullah mengajak kami untuk shalat berjamaah, karena di rumahku tak ada mushola keluarga.

Aku melihat foto keluargaku terpampang di kamarku, ada wajah anak-anakku yang ekspresinya lucu. Kalau Rasulullah melihat pasti akan kuceritakan keceriaan mereka yang menggemaskan. Tapi….. aku agak khawatir kalau-kalau Rasulullah bertanya, “Apakah mereka mengenal nabinya dengan baik sebagaimana generasi masaku?” Karena memang aku tidak pernah mengenalkan sosok tentang Rasulullah kepada mereka kecuali sedikit saja. Tentang kelahirannya di tahun gajah….cuman itu yang aku ketahui tentang nabiku.

Oh, hatiku mulai teriris-iris oleh perasaan malu, khawatir dan cemas. Harapanku untuk berakrab-akrab dengan Rasul tercinta mulai pupus…Maafkan aku ya Rasulullah aku belum bisa membuka pintu rumahku untukmu, karena masih banyak pertanyaan yang akan keluar dari lisanmu yang lembut sementara aku belum bisa menjawabnya. Mungkin engkau akan menyaksikan wajahku dengan sebuah senyuman saja…ya sebuah senyuman
Read more...

Kamis, 24 November 2016

Karena KEKUASAAN atau PENGARUH?

0 komentar
Mengapa orang itu patuh pada sesorang?
pertanyaan ini sagat sederhana, namun sebenarnya ini merupakan dasar dari beberapa prinsip kepemimpinan (Leadership). Banyak orang tidak menyadari mengapa orang lain mengikutinya atau sebaliknya mengapa ia mengikuti orang lain. Para pemimpin, mulai pemimpin suatu organisasi, daerah, agama, adat, pejabat, pengusaha, cendekiawan sampai preman, semua memiliki pengikut. Pertanyaannya mengapa para pengikut tersebut mau saja patuh terhadap pemimpinnya?
Terdapat tiga motif, mengapa seseorang mau saja mengikuti orang lain.
1. Mendapatkan rasa aman.
Rasa aman tersebut diperoleh sesorang pengikut karena si pemimpin dinilai bisa memberikan perlindungan atau sebaliknya, bila tidak taat pada sang pemimpin, maka sang pemimpin tersebut justru yang mengancam dirinya dirinya.

2. Mendapatkan reward atau Imbalan.
Seorang patuh terhadap pemimpinnya karena si pemimpin bisa memberikan imbalan (biasanya dalam bentuk materi) kepada si pengikut tersebut.

3. Kepuasan Emosional, Intelektual, atau Spiritual.
Dalam motif ini, seorang mengikuti sang pemimpian karena sang pemimpin bisa memberikan kegembiraan yang bisa memuaskan hasrat emosionalnya, atai ilmu pengetahuan yang bisa memuaskan hasrat intelektual orang itu, atau kedamaian yang bisa memenuhi hasrat spiritualnya.
Ketiga motif para pengikut tersebut dipuaskan oleh sang pemimpin dengan menggunakan kekuasaan atau Power, dalam hal keilmuan, para petugas keamanan dipatuhi k arena diyakini orang yang mematuhinya akan aman-aman saja. 
Demikian pula atasan ditempat ia bekerja, dipatuhi karena jika patuh maka ia tidak dimarahi, atau misalnya dalam hal imbalan, para majikan dipatuhi karena bisa memberikan upah kepada para karyawannya.
begitu juga para cendekiawan diikuti karena kekayaan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, para tokoh agama ditaati karena kebenaran yang sampaikannya.
bila kita artikan Kekuasaan dalam arti positif, dibutuhkan untuk memuaskan motif orang yang diarahkannya untuk tujuan tertentu. Namun demikian satu hal yang sering kali dilupakan para pemimpin, bahwa KEKUASAAN ITU MEMILIKI MASA KADALUARSA. pada saat kekuasaan kehilangan Tuahnya, para pemimpin akan terkejut karena tiba-tiba saja orang-orang pengikutnya meninggalkannya.
Mengapa tuah kekuasaan itubisa hilang? pada dasarnya serendah apapun kedudukan seseorang dalam struktur kekuasaan, mereka memiliki ego. Ego adalah sebuah sifat yang terus menerus menuntut untuk dipenuhi. Pada suatu ketika motif aman atau reward/imbalannya tidak terpenuhi, maka ego sesorang akan muncul kepermukaan dalam bentuk Perasaan ingin dihargai. Ego tersebut membuat kekuasaan tidak lagi efektif untuk digunakan, dan power dari kekuasaan itu pun hilang. pada awalnya ego masih bisa diarahkan dengan menambah dosis kekuasaan yang lebih tinggi, misalnya dalam kasus petugas keamanan, aturan di perketat dan hukum diperberat jika tak dipatuhi, atau dalam kasus majikan gajinya naikkan. Namun cara-cara seperti ini tidak bertahan lama, karena setelah itu ego akan kembali mendorong ke permukaan. Untuk menghindari melemahnya power dari sebuah kekuasaan, maka sang pemimpin tidak cukup hanya menggunakan powernyanya, tapi dia harus mampu memiliki PENGARUH, karisma yang membuat ia dicintai dan disukai. 
Pengaruh ini adalah cara yang sangat praktis dan efektif untuk digunakan agar orang lain mau melakukan apa yang kita inginkan berdasarkan keinginannya. Atau dalam bahasa lebih mudah... pengaruh membuat orang lain jadi ingin mengikuti dan melakukan keinginan kita, kalau bisa begini, asyik bukan?? tinggal bagaimana cara menggunakannya dengan tepat. 
karena ego merupakan suatu faktor yang sangat mempengaruhi tindakan seseorang, maka ego merupakan kunci dalam mengarahkan orang tersebut. Ego manusia memang memiliki sifat aneh, agar kita bisa memenangkan ego sesorang, maka kita harus membuat ego orang itu merasa menang, sehingga dia merasa kita sedang mengikuti keinginannya, agar kita bisa membuat seseorang tersebut mengikuti kemauan kita, maka kita harus membuat orang tersebut merasa sedang diikuti keinginannya.
Jadi, kesimpulannya, kita menggunakan pengaruh untuk mengarahkan orang lain dengan cara membuat orang tersebut merasa terpenuhi egonya. Nah, Tantangannya adalah, pada saat kita berusaha memenuhi ego seseorang, pada saat itu pula kita merasa ego kita tidak terpenuhi. Di sinilah seninya.
Di tengah godaan ego kita pula, khususnya untuk menunjukkan superioritas atas orang yang sedang kita pengaruhi, kita harus selalu ingat pada tujuan kita semula. Tujuan kita dalam hal ini adalah membuat orang tersebut melakukan apa yang telah ditetapkan, biasanya sesuai tujuan kita, Sesungguhnya, tidak penting ego siapa yang lebih menang karena yang penting adalah tercapainya tujuan. Di sinilah pentingnya membuat orang lain merasa penting. 
Sebagai contoh, dalam konteks Pilkada di Aceh Singkil ini, para kandidat yang berkampanye dengan berbagai program dan “iming-iming”, baik imbalan, atau program-program yang dijualnya, seakan-akan mereka sedang mengikuti keinginan dan ego konstituennya, padahal bisa jadi mereka sedang menggiring konstituen untuk mengikuti egonya sendiri dalam mendapatkan kekuasaan, dan konstituen juga terkadang sebenarnya tahu hal itu, sehingga konstituen juga berfikir bahwa kandidat mereka mau memenuhi ego mereka. 
Sebagai seorang pemimpin, baik di tingkat organisasi besar maupun kecil dan bahkan sampai ke tingkat keluarga, tentu Anda memiliki kekuasaan. Namun perlu selalu Anda ingat bahwa kekuasaan Anda akan tergerus dari waktu ke waktu. Jika anda menggunakan power kekuasaan untuk mempengaruhi orang lain, ingatlah bahwa kekuasaan itu memiliki masa kadaluarsa, maka cara yang lebih cerdik dan bijak adalah menggunakan pengaruh. Ingatlah, tujuan kita bukanlah untuk menunjukkan siapa yang lebih kuat, akan tetapi untuk membuat seseorang tersebut melakukan apa yang menjadi tujuan kita yang dia pikir sesuai keinginannya.
Demikian juga bagi anda sang pengikut... anda mesti faham dan mengerti, MENGAPA ANDA MENGIKUTINYA? MENGAPA ANDA MAU MEMILIHNYA? TANYAKAN PADA HATI NURANI ANDA.... anda mesti punya prinsip...
Karena merasa orang itu bisa memberi imbalan materi?
Karena bisa memberi rasa aman?
Karena anda kagum dengan intelektulitas dan kepribadiannya?
dari jawaban yang jujur dari diri anda sendiri ....anda akan tau..kwalitas diri anda.....
Calon anda maju karena punya materi, atau karena punya pengaruh (karisma, kepribadian atau intelektulitas)

Read more...

Minggu, 13 November 2016

Pak Tua

0 komentar
Seperti hari-hari biasanya, 15 menit sebelum berangkat, ku hidupkan mesin mobil Odong-odongku, biar agak panas dikit.....
tapi hari itu tak seperti biasa, jam 7.30 mobil sudah ku strarter, karena biasanya berangkat sekitar jam 10.
Sambil menunggu beberapa menit, biasanya ngopi dulu.... ketika membalikkan badan, mataku tertuju pada sorang Tua jarak 50 meter, sedang duduk diatas pohon kelapa yang sudah tumbang, wajahnya tertutup tongkat dan tangannya yang disandarkan tepat di depan wajahnya, sehingga menutupi bagian wajahnya.
Tapi dari postur dan rambutnya, aku mengenal sosok itu.
ada apa bapak itu pagi-pagi begini duduk di bawah pepohonan sawit yang sepi ini? Padahal jarak dari rumahnya 7 Km untuk sampai disini..... tentu ada hal yang sangat penting yang membuat dia mesti kesini pagi-pagi sekali.
Mungkin dia tak mengenalku.... tapi aku sangat mengenalnya, dan dia mengenal orang tua kami.
Siapakah di kecamatan ini yang tak mengenalnya?, seorang yang dulu terpandang, kaya dan gagah, omongannya di dengar dan perintahnya dipatuhi, badannya yang tinggi dan tegap, wajahnya yang ganteng, menambah karismanya. Kini dia berjalan harus dibantu sebatang tongkat dan perlahan-lahan dengan pakaiannya yang lusuh seperti tak terurus.
Tak jadi aku masuk ke rumah, aku belok kiri dan melangkah ke arah bapak itu, dia semakin menutupi wajahnya, sorot matanya yang masih tajam memandang dengan seksama.
“Assalamu’alaikum....”
“alaikum salam...” jawabnya singkat, dan matanya masih saja ke arahku, mungkin dia sedang mengingat-ingat siapa gerangan anak muda yang menghampirinya.
“Apa kabar, pak? Pagi-pagi begini sudah jalan jauh” tanyaku memulai obrolan.
“Lagi nunggu si polan, mau minjam uang tuk berobat ke medan, tapi dari tadi dia belum nampak”
Katanya dengan suara agak berat dan sayu.
Aku menoleh ke ruangan kecil, kantor tempat tempat timbangan kelapa sawit itu, ada anak muda yang duduk di kursi...
“Mana si Bos?” tanyaku pada anak muda itu.
“Masih di Rimo” jawabnya sangat singkat.
“Bapak ini menunggu dari tadi, kenapa tak kau telpon bos mu?”
Anak muda itu cuma tersenyum.
Kuambil HP dari kantong, dan si “bos” ku telpon.
“Dimana posisi”
“Di rumah” jawaban dari ujung telpon
“Ada orang tua menunggu disini sejak tadi, datanglah segera, kasihan... nampaknya penting..”
“Ok.. siapp!!”
Sambil menunggu di Bos datang, kami ngobrol panjang lebar.
“Bapak kenal sama saya?” tanyaku tersenyum agar dia terasanya nyaman tuk ngobrol
“ya.. rasanya saya kenal.. tapi siapa ya.......”
“Saya anak pak Abduh” kataku lagi.
“Ooo..ya..ya.... gimana kabar Bapakmu”
“Alhamdulillah.. baik pak... dia juga sudah lama sakit, stroke sudah 16 tahun, tapi alhamdulillah... meski fisiknya sakit, tapi fikirannya sehat dan tetap bisa sholat dan berdzikir, dan masih bisa berkomunikasi dengan baik, baik obrolan ringan atau pun berat...”
Dari wajahnya yang nampak layu, tersungging senyuman yang sulit saya terjemahkan.
Hanya jarak 5 menit, si bos sudah muncul berjalan kaki dengan menggendong anaknya yang masi balita.
Obrolan panjang, dan tawar menawar tentang pinjaman dan jaminan, Bapak tua itu tak berhasil meyakinkan Si bos, yang memang sudah mengenal bapak tua itu, dan mungkin sudah pernah berhubungan bisnis, saya sangat maklum keputusan sibos untuk"menangguhkan" permohonannya, Dari sudut pandang Mu’amalah sudah benar, tak ada yang salah.
“Yach.. sudahlah kalo begitu, baiklah.. saya pulang...” desah Pak tua sambil berusaha berdiri dengan topangan tongkatnya.
“Bapak mau kemana lagi?” tanyaku
“Mau pulang”
“lha.. tadi kemari naik apa?”
“Naik becak” jawabnya masih tetap sedang berusaha berdiri dan nafasnya nampak tersengal.
“Saya permisi dulu, nunggu becak di pinggir jalan sana” sambungnya lagi setelah mengatur pernafasannya.
“Saya mau berangkat kerja ke arah sana, Bagaimana kalo ikut saya saja sekalian?” tanyaku lembut, agar dia tidak merasa saya bantu. Apalagi becak hanya lewat 2 jam sekali di jalan itu.
“Hmm.... boleh.. boleh....” katanya.
Saya baru melihat kalo celananya sudah basah, rupanya dia Terkencing di celana, mungkin dari tadi dia menahan pipis dan tak melihat toilet disekitar sini, atau memang dia tak tau kalo celananya sudah basah.
Si bos buru-buru mengambil Kertas Kardus untuk mengalas jok mobil, agar saya tak repot lagi nanti mencuci jok mobil, dan menuntunya masuk dan mendudukknya di kursi depan.
Dalam perjalanan kami hanya diam, dalam benakku hanya terbayang bagaimana Gagah dan hebatnya Pak tua ini dulu di tahun 80 an s/d 90 an, dimasa jayanya, telah banyak menolong orang, dan dimasa tuanya ini, rasanya tak percaya dengan keadaannya.
Dia mulai bercerita tentang dirinya yang sakit, istrinya yang telah meninggalkannya, dan anak-anaknya yang tak pernah mengunjunginya, dengan nada suara yang lemah dan matanya yang berlinang, laju mobil ku perlambat, agar dia merasa sedang berjalan-jalan mengitari kampung di pagi hari yang sejuk itu.
“Pak.. bapak sudah tua... nanti pun saya akan seperti bapak, begitulah kehidupan ini berputar” aku berusaha berkomentar untuk menampakkan antusiasku pada obrolannya.
Bapak ini sepertinya butuh teman ngobrol, karena waktu yang begitu singkat itu dia bercerita seakan-akan merangkum dari seluruh masa hidupnya.
1 Km lagi akan sampai di kediamannya, aku tak menyangka dia tinggal di tempat itu, yang jelas itu bukanlah rumahnya, ternyata dia menumpang di sebuah tempat....., padahal hampir sepertiga dari tanah kampung ini adalah miliknya.
“Pak... apa pesan bapak buat saya, selaku orang tua yang hebat dan luar biasa, sebelum saya menjadi tua seperti usia bapak ini.”
“NAK... HIDUP ITU.... HARUS JUJUR... JUJUR... JUJURLAH.... DAN SELALU LAH MENGALAH.... NGOTOT ITU KADANG HANYA UNTUK MEMBUKTIKAN DIRI KEPADA ORANG LAIN BAHWA KITA BISA DAN MAMPU, PADAHAL SAAT KITA NGOTOT, SAAT ITU LAH KITA SEDANG MEMBANGUN LAWAN,”
Aku turunkan dia di pintu gerbang, dan dia mesti berjalan 100 meter lagi kedalam tuk bisa beristirahat.
“Turunkan saya disini....”
“Biarlah saya antar sampai ke depan pintu pak, tak repot bagi saya”
“Tak usah... disini saja, nak...” katanya sambil menarik handle pintu mobil yang masih berjalan”
Read more...

Sabtu, 22 Oktober 2016

Jangan Tinggalkan Sholat

0 komentar


Pada satu kondisi seseorang bisa saja kesiangan bangun sehingga 
melewatkan waktu subuh. Sekilas, hal ini adalah ketidaksengajaan. Namun, terlambat bangun tidak serta merta membolehkan kita untuk meninggalkan salat begitu saja.
Ternyata Nabi Muhammad SAW pernah bangun disaat matahari sudah mulai muncul. Saat itu Nabi bersama rombongan sedang melakukan perjalanan jauh. Karena lelah mereka memutuskan untuk beristirahat saat sudah menjelang fajar.

Namun hal ini justru membuat Rasulullah SAW bersama rombongannya terlambat bangun. Akan tetapi Beliau tidak lantas meninggalkan salat ini begitu saja. Namun  melakukan hal berikut ini. Apa yang dilakukan Nabi? Berikut ulasannya.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah r.a, yang berkata: Pada suatu malam kami menempuh perjalanan bersama Nabi s.a.w, sebagian orang mengatakan: “Ya Rasulullah! Sebaiknya kita beristirahat menjelang pagi ini.”

Rasulullah SAW bersabda: “Aku khawatir kalian tidur nyenyak sehingga melewatkan shalat subuh.” Kata Bilal: “Saya akan membangunkan kalian.”

Disaat semua terlelap, Bilal berusaha tetap terjaga dengan bersandar pada hewan tunggangannya. Namun Ia justru ikut tertidur dengan pulasnya sehingga tidak sadar jika waktu sudah menunjukan lewat Subuh.

Nabi yang bangun duluan kaget bukan kepalangan karena melihat busur tepian matahari sudah muncul.  Nabi Muhammad SAW berkata: “Hai Bilal! Mana bukti ucapanmu?

Bilal menjawab: “Saya tidak pernahtidur sepulas malam ini.”


Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengambil nyawamu kapanpun Dia mau dan mengembalikannya kapanpun Dia mau. Hai Bilal! bangunlah dan suarakan azan.”

Kemudian Rasul dan rombongan mengambil air wudhu  dan melaksanakan shalat meski matahari agak meninggi sedikit dan bersinar putih. (Hadits Shahih Imam Bukhari, nomor 595).

Dari kisah di atas, diketahui jika Nabi Muhammad SAW sudah memberikan teladan bagi umatnya yang kesiangan salat Subuh. Namun hal ini bukan berarti kita tidak mempersiapkan diri untuk bangun lebih pagi.

Jika terpaksa mengalami kondisi ini, maka segeralah untuk mendirikan salat ketika teringat. Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwa Nabi s.a.w pernah bersabda: “Siapa yang lupa untuk melaksanakan shalat, maka laksanakanlah ketika ingat, tanpa kaffarah [denda] atas lupanya itu kecuali dengan mengerjakan shalat tersebut.” Kemudian Rasulullah s.a.w membaca ayat (yang artinya): “… dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (Al-Qur’an surat Thaahaa, ayat 14). (Hadits Shahih Bukhari, nomor 597)


Rasulullah SAW Pernah Shalat Ashar Pada Waktu Maghrib Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah r.a, bahwa pada saat perang Khandaq, Umar bin Khattab datang setelah matahari terbenam. Umar mencaci-maki orang-orang kafir Quraisy.

Kata Umar: “Ya Rasulullah! Saya hampir saja tidak melaksanakan shalat Asar sampai matahari hampir terbenam.”

Nabi SAW bersabda: “Demi Allah! Aku belum melaksanakan shalat Ashar.”

Kata Jabir: “Kami pergi ke Buthhan, kemudian Nabi SAW berwudhu untuk shalat dan kami pun berwudhu, lalu Nabi SAW melaksanakan shalat Asar setelah matahari terbenam, setelah itu beliau melaksanakan shalat Maghrib,” (Hadits Shahih Bukhari, nomor 596).

Berdasarkan kisah-kisah di atas, terlihat bahwa Nabi terlambat mengerjakan salat karena alasan yang masuk akal. Namun hal ini tidak berlaku bagi manusia yang sengaja melalai-lalaikannya. Sudah ingat, namun tetap saja memilih mengerjakan aktivitas duniawi dibanding salat.
Read more...

Selasa, 11 Oktober 2016

Profil

0 komentar
Nama :
MUHAMMAD AKHYAR ABDUH

Tempat/Tgl. Lahir :
BLOK VI BARU, 02 FEBRUARI 1977

Jenis Kelamin :
LAKI-LAKI

Pekerjaan :
WIRASWASTA (Percetakan FASTABIQ)

Nama Istri :
RITAWATI

Anak :
6 ORANG

Alamat :
Jl. Rimo-Singkil Km. 7 Desa Gunung Lagan - Kec. Gunung Meriah - Aceh Singkil



Pendidikan :
SD NEGERI TULAAN
MTs NEGERI SINGKIL
MA PONDOK PESANTREN  MODERN TA'MIRUL ISLAM SOLO - SURAKARTA
UNIVERSITAS AL-AZHAR CAIRO-MESIR


Riwayat Pekerjaan,  Organisasi dan Pelatihan
- GURU MTs / MA MUHAMMADIYAH GUNUNG MERIAH
- TEAM SCHOOL MAPING DIKMENJUR ACEH SINGKIL
- PENGURUS KOPERASI SURYA MELATI - TULAAN
- MAJELIS TARJIH  PD. MUHAMMADIYAH  ACEH SINGKIL
- MAJELIS TARJIH PC. MUHAMMADIYAH GUNUNG MERIAH
- SEKRETARIS UMUM PD. PARTAI MATAHARI BANGSA ACEH SINGKIL
- PENGASUH TAHFIZ QUR'AN PANTI ASUHAN AISYIYAH GUNUNG MERIAH
- PELATIHAN / MAGANG KOPERASI BINAAN BRR DI BMT PEKALONGAN
- DARUL ARQAM DASAR IMM ACEH







Read more...