Seperti hari-hari biasanya, 15 menit sebelum berangkat, ku hidupkan mesin mobil Odong-odongku, biar agak panas dikit.....
tapi hari itu tak seperti biasa, jam 7.30 mobil sudah ku strarter, karena biasanya berangkat sekitar jam 10.
Sambil menunggu beberapa menit, biasanya ngopi dulu.... ketika membalikkan badan, mataku tertuju pada sorang Tua jarak 50 meter, sedang duduk diatas pohon kelapa yang sudah tumbang, wajahnya tertutup tongkat dan tangannya yang disandarkan tepat di depan wajahnya, sehingga menutupi bagian wajahnya.
Tapi dari postur dan rambutnya, aku mengenal sosok itu.
ada apa bapak itu pagi-pagi begini duduk di bawah pepohonan sawit yang sepi ini? Padahal jarak dari rumahnya 7 Km untuk sampai disini..... tentu ada hal yang sangat penting yang membuat dia mesti kesini pagi-pagi sekali.
tapi hari itu tak seperti biasa, jam 7.30 mobil sudah ku strarter, karena biasanya berangkat sekitar jam 10.
Sambil menunggu beberapa menit, biasanya ngopi dulu.... ketika membalikkan badan, mataku tertuju pada sorang Tua jarak 50 meter, sedang duduk diatas pohon kelapa yang sudah tumbang, wajahnya tertutup tongkat dan tangannya yang disandarkan tepat di depan wajahnya, sehingga menutupi bagian wajahnya.
Tapi dari postur dan rambutnya, aku mengenal sosok itu.
ada apa bapak itu pagi-pagi begini duduk di bawah pepohonan sawit yang sepi ini? Padahal jarak dari rumahnya 7 Km untuk sampai disini..... tentu ada hal yang sangat penting yang membuat dia mesti kesini pagi-pagi sekali.
Mungkin dia tak mengenalku.... tapi aku sangat mengenalnya, dan dia mengenal orang tua kami.
Siapakah di kecamatan ini yang tak mengenalnya?, seorang yang dulu terpandang, kaya dan gagah, omongannya di dengar dan perintahnya dipatuhi, badannya yang tinggi dan tegap, wajahnya yang ganteng, menambah karismanya. Kini dia berjalan harus dibantu sebatang tongkat dan perlahan-lahan dengan pakaiannya yang lusuh seperti tak terurus.
Tak jadi aku masuk ke rumah, aku belok kiri dan melangkah ke arah bapak itu, dia semakin menutupi wajahnya, sorot matanya yang masih tajam memandang dengan seksama.
Siapakah di kecamatan ini yang tak mengenalnya?, seorang yang dulu terpandang, kaya dan gagah, omongannya di dengar dan perintahnya dipatuhi, badannya yang tinggi dan tegap, wajahnya yang ganteng, menambah karismanya. Kini dia berjalan harus dibantu sebatang tongkat dan perlahan-lahan dengan pakaiannya yang lusuh seperti tak terurus.
Tak jadi aku masuk ke rumah, aku belok kiri dan melangkah ke arah bapak itu, dia semakin menutupi wajahnya, sorot matanya yang masih tajam memandang dengan seksama.
“Assalamu’alaikum....”
“alaikum salam...” jawabnya singkat, dan matanya masih saja ke arahku, mungkin dia sedang mengingat-ingat siapa gerangan anak muda yang menghampirinya.
“alaikum salam...” jawabnya singkat, dan matanya masih saja ke arahku, mungkin dia sedang mengingat-ingat siapa gerangan anak muda yang menghampirinya.
“Apa kabar, pak? Pagi-pagi begini sudah jalan jauh” tanyaku memulai obrolan.
“Lagi nunggu si polan, mau minjam uang tuk berobat ke medan, tapi dari tadi dia belum nampak”
Katanya dengan suara agak berat dan sayu.
Aku menoleh ke ruangan kecil, kantor tempat tempat timbangan kelapa sawit itu, ada anak muda yang duduk di kursi...
“Lagi nunggu si polan, mau minjam uang tuk berobat ke medan, tapi dari tadi dia belum nampak”
Katanya dengan suara agak berat dan sayu.
Aku menoleh ke ruangan kecil, kantor tempat tempat timbangan kelapa sawit itu, ada anak muda yang duduk di kursi...
“Mana si Bos?” tanyaku pada anak muda itu.
“Masih di Rimo” jawabnya sangat singkat.
“Bapak ini menunggu dari tadi, kenapa tak kau telpon bos mu?”
Anak muda itu cuma tersenyum.
Kuambil HP dari kantong, dan si “bos” ku telpon.
“Dimana posisi”
“Di rumah” jawaban dari ujung telpon
“Ada orang tua menunggu disini sejak tadi, datanglah segera, kasihan... nampaknya penting..”
“Ok.. siapp!!”
Sambil menunggu di Bos datang, kami ngobrol panjang lebar.
“Masih di Rimo” jawabnya sangat singkat.
“Bapak ini menunggu dari tadi, kenapa tak kau telpon bos mu?”
Anak muda itu cuma tersenyum.
Kuambil HP dari kantong, dan si “bos” ku telpon.
“Dimana posisi”
“Di rumah” jawaban dari ujung telpon
“Ada orang tua menunggu disini sejak tadi, datanglah segera, kasihan... nampaknya penting..”
“Ok.. siapp!!”
Sambil menunggu di Bos datang, kami ngobrol panjang lebar.
“Bapak kenal sama saya?” tanyaku tersenyum agar dia terasanya nyaman tuk ngobrol
“ya.. rasanya saya kenal.. tapi siapa ya.......”
“Saya anak pak Abduh” kataku lagi.
“Ooo..ya..ya.... gimana kabar Bapakmu”
“Alhamdulillah.. baik pak... dia juga sudah lama sakit, stroke sudah 16 tahun, tapi alhamdulillah... meski fisiknya sakit, tapi fikirannya sehat dan tetap bisa sholat dan berdzikir, dan masih bisa berkomunikasi dengan baik, baik obrolan ringan atau pun berat...”
Dari wajahnya yang nampak layu, tersungging senyuman yang sulit saya terjemahkan.
“ya.. rasanya saya kenal.. tapi siapa ya.......”
“Saya anak pak Abduh” kataku lagi.
“Ooo..ya..ya.... gimana kabar Bapakmu”
“Alhamdulillah.. baik pak... dia juga sudah lama sakit, stroke sudah 16 tahun, tapi alhamdulillah... meski fisiknya sakit, tapi fikirannya sehat dan tetap bisa sholat dan berdzikir, dan masih bisa berkomunikasi dengan baik, baik obrolan ringan atau pun berat...”
Dari wajahnya yang nampak layu, tersungging senyuman yang sulit saya terjemahkan.
Hanya jarak 5 menit, si bos sudah muncul berjalan kaki dengan menggendong anaknya yang masi balita.
Obrolan panjang, dan tawar menawar tentang pinjaman dan jaminan, Bapak tua itu tak berhasil meyakinkan Si bos, yang memang sudah mengenal bapak tua itu, dan mungkin sudah pernah berhubungan bisnis, saya sangat maklum keputusan sibos untuk"menangguhkan" permohonannya, Dari sudut pandang Mu’amalah sudah benar, tak ada yang salah.
“Yach.. sudahlah kalo begitu, baiklah.. saya pulang...” desah Pak tua sambil berusaha berdiri dengan topangan tongkatnya.
“Bapak mau kemana lagi?” tanyaku
“Mau pulang”
“lha.. tadi kemari naik apa?”
“Naik becak” jawabnya masih tetap sedang berusaha berdiri dan nafasnya nampak tersengal.
“Saya permisi dulu, nunggu becak di pinggir jalan sana” sambungnya lagi setelah mengatur pernafasannya.
“Saya mau berangkat kerja ke arah sana, Bagaimana kalo ikut saya saja sekalian?” tanyaku lembut, agar dia tidak merasa saya bantu. Apalagi becak hanya lewat 2 jam sekali di jalan itu.
“Hmm.... boleh.. boleh....” katanya.
“Mau pulang”
“lha.. tadi kemari naik apa?”
“Naik becak” jawabnya masih tetap sedang berusaha berdiri dan nafasnya nampak tersengal.
“Saya permisi dulu, nunggu becak di pinggir jalan sana” sambungnya lagi setelah mengatur pernafasannya.
“Saya mau berangkat kerja ke arah sana, Bagaimana kalo ikut saya saja sekalian?” tanyaku lembut, agar dia tidak merasa saya bantu. Apalagi becak hanya lewat 2 jam sekali di jalan itu.
“Hmm.... boleh.. boleh....” katanya.
Saya baru melihat kalo celananya sudah basah, rupanya dia Terkencing di celana, mungkin dari tadi dia menahan pipis dan tak melihat toilet disekitar sini, atau memang dia tak tau kalo celananya sudah basah.
Si bos buru-buru mengambil Kertas Kardus untuk mengalas jok mobil, agar saya tak repot lagi nanti mencuci jok mobil, dan menuntunya masuk dan mendudukknya di kursi depan.
Dalam perjalanan kami hanya diam, dalam benakku hanya terbayang bagaimana Gagah dan hebatnya Pak tua ini dulu di tahun 80 an s/d 90 an, dimasa jayanya, telah banyak menolong orang, dan dimasa tuanya ini, rasanya tak percaya dengan keadaannya.
Dia mulai bercerita tentang dirinya yang sakit, istrinya yang telah meninggalkannya, dan anak-anaknya yang tak pernah mengunjunginya, dengan nada suara yang lemah dan matanya yang berlinang, laju mobil ku perlambat, agar dia merasa sedang berjalan-jalan mengitari kampung di pagi hari yang sejuk itu.
“Pak.. bapak sudah tua... nanti pun saya akan seperti bapak, begitulah kehidupan ini berputar” aku berusaha berkomentar untuk menampakkan antusiasku pada obrolannya.
Bapak ini sepertinya butuh teman ngobrol, karena waktu yang begitu singkat itu dia bercerita seakan-akan merangkum dari seluruh masa hidupnya.
Bapak ini sepertinya butuh teman ngobrol, karena waktu yang begitu singkat itu dia bercerita seakan-akan merangkum dari seluruh masa hidupnya.
1 Km lagi akan sampai di kediamannya, aku tak menyangka dia tinggal di tempat itu, yang jelas itu bukanlah rumahnya, ternyata dia menumpang di sebuah tempat....., padahal hampir sepertiga dari tanah kampung ini adalah miliknya.
“Pak... apa pesan bapak buat saya, selaku orang tua yang hebat dan luar biasa, sebelum saya menjadi tua seperti usia bapak ini.”
“NAK... HIDUP ITU.... HARUS JUJUR... JUJUR... JUJURLAH.... DAN SELALU LAH MENGALAH.... NGOTOT ITU KADANG HANYA UNTUK MEMBUKTIKAN DIRI KEPADA ORANG LAIN BAHWA KITA BISA DAN MAMPU, PADAHAL SAAT KITA NGOTOT, SAAT ITU LAH KITA SEDANG MEMBANGUN LAWAN,”
Aku turunkan dia di pintu gerbang, dan dia mesti berjalan 100 meter lagi kedalam tuk bisa beristirahat.
“Turunkan saya disini....”
“Biarlah saya antar sampai ke depan pintu pak, tak repot bagi saya”
“Tak usah... disini saja, nak...” katanya sambil menarik handle pintu mobil yang masih berjalan”
“Turunkan saya disini....”
“Biarlah saya antar sampai ke depan pintu pak, tak repot bagi saya”
“Tak usah... disini saja, nak...” katanya sambil menarik handle pintu mobil yang masih berjalan”

0 komentar:
Posting Komentar