Pages

Banner 468 x 60px

 
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Agustus 2017

DOAKANLAH, TAK MESTI DIA TAU.

0 komentar
Cerita itu pernah ku dengar berapa tahun lalu, tentang seorang guru mengaji yang tinggal di seberang sungai mengabdikan diri dengan sepenuh jiwanya untuk penduduk itu, bersama istrinya yang setia dengan pengabdian sepenuh jiwanya juga untuk suaminya.
Setiap pagi bapak itu pergi mengajar mengaji di mushalla seberang sungai, sungai selebar kurang lebih 200 meter itu dia lewati dengan berjalan di atasnya, itu adalah hal yang biasa, masyarakat pun tau bahwa bapak itu seorang yang tulus dan ikhlas bisa berjalan di atas air.
Suatu ketika, seperti biasa sang guru yang bersahaja itu berangkat ke seberang, setelah berpamitan pada istrinya, dan melepasnya sampai di depan pintu.
Dengan mengucapkan bismillah, sang guru melangkahkan kakinya di tepian sungai yang airnya nampak tenang, hanya beberapa langkah saja, sang guru terjerembab ke dalam air, untung masih di pinggir yang tinggi airnya masih sepinggang, sehingga bajunya menjadi basah, kaget bukan kepalang, sambil terus beristighfar, dia kembali ke rumah dengan basah kuyup.
Betapa kagetnya sang istri, melihat suaminya yang baru saja berangkat sudah kembali dengan pakaian basah kuyup.
"Lho, ada bang? Kok sudah pulang, dan basah.seperti itu?" Tanya istrinya heran, karena biasanya sang guru kembalinya setelah ashar.
"Iya, nih dek, tidak seperti biasanya, tadi abang tidak bisa melewati sungai itu." Jawab sang guru dengan nada iba.
Tiba-tiba saja istrinya menangis dan dengan badan setengah membungkuk, dan memeluk tangan suaminya, lalu berkata, "oh, ya. Maafkan saya bang, tadi saya lupa sholat 2 rakaat seperti biasanya sebelum abang berangkat, maafkan saya bang.."
Sang guru tertegun, beristighfar semakin dalam di dalam hatinya.
"Ya, Allah, ampunkan atas kesombongan hamba, selama ini hamba mengira, semua yg karunia yang engkau berikan kepada hamba, karena ibadah dan pengabdian hamba padamu, ternyata sholat 2 rakaat dan doa istri hambalah yang membuat hamba bisa melewati sungai itu setiap hari".
Sobatku yang baik..
Pernahkah kamu menyadari bahwa dalam hidupmu ada orang lain yang selalu memperhatikan dan mendoakanmu tanpa engkau ketahui?
Dan bagimu para istri, setinggi dan sebanyak apa doa serta pengabdianmu untuk suamimu yang engkau sembunyikan tanpa harus dia tau?
Marilah saling mendoakan tanpa harus kita beri tahu bahwa "aku selalu mendoakanmu".
Karena doa kepada orang lain tanpa sepengetahuannya, itu sangat makbul, dan malaikat pun akan berkata "dan bagimu juga apa yang telah engkau doakan untuk saudaramu itu....."
Read more...

Minggu, 13 November 2016

Pak Tua

0 komentar
Seperti hari-hari biasanya, 15 menit sebelum berangkat, ku hidupkan mesin mobil Odong-odongku, biar agak panas dikit.....
tapi hari itu tak seperti biasa, jam 7.30 mobil sudah ku strarter, karena biasanya berangkat sekitar jam 10.
Sambil menunggu beberapa menit, biasanya ngopi dulu.... ketika membalikkan badan, mataku tertuju pada sorang Tua jarak 50 meter, sedang duduk diatas pohon kelapa yang sudah tumbang, wajahnya tertutup tongkat dan tangannya yang disandarkan tepat di depan wajahnya, sehingga menutupi bagian wajahnya.
Tapi dari postur dan rambutnya, aku mengenal sosok itu.
ada apa bapak itu pagi-pagi begini duduk di bawah pepohonan sawit yang sepi ini? Padahal jarak dari rumahnya 7 Km untuk sampai disini..... tentu ada hal yang sangat penting yang membuat dia mesti kesini pagi-pagi sekali.
Mungkin dia tak mengenalku.... tapi aku sangat mengenalnya, dan dia mengenal orang tua kami.
Siapakah di kecamatan ini yang tak mengenalnya?, seorang yang dulu terpandang, kaya dan gagah, omongannya di dengar dan perintahnya dipatuhi, badannya yang tinggi dan tegap, wajahnya yang ganteng, menambah karismanya. Kini dia berjalan harus dibantu sebatang tongkat dan perlahan-lahan dengan pakaiannya yang lusuh seperti tak terurus.
Tak jadi aku masuk ke rumah, aku belok kiri dan melangkah ke arah bapak itu, dia semakin menutupi wajahnya, sorot matanya yang masih tajam memandang dengan seksama.
“Assalamu’alaikum....”
“alaikum salam...” jawabnya singkat, dan matanya masih saja ke arahku, mungkin dia sedang mengingat-ingat siapa gerangan anak muda yang menghampirinya.
“Apa kabar, pak? Pagi-pagi begini sudah jalan jauh” tanyaku memulai obrolan.
“Lagi nunggu si polan, mau minjam uang tuk berobat ke medan, tapi dari tadi dia belum nampak”
Katanya dengan suara agak berat dan sayu.
Aku menoleh ke ruangan kecil, kantor tempat tempat timbangan kelapa sawit itu, ada anak muda yang duduk di kursi...
“Mana si Bos?” tanyaku pada anak muda itu.
“Masih di Rimo” jawabnya sangat singkat.
“Bapak ini menunggu dari tadi, kenapa tak kau telpon bos mu?”
Anak muda itu cuma tersenyum.
Kuambil HP dari kantong, dan si “bos” ku telpon.
“Dimana posisi”
“Di rumah” jawaban dari ujung telpon
“Ada orang tua menunggu disini sejak tadi, datanglah segera, kasihan... nampaknya penting..”
“Ok.. siapp!!”
Sambil menunggu di Bos datang, kami ngobrol panjang lebar.
“Bapak kenal sama saya?” tanyaku tersenyum agar dia terasanya nyaman tuk ngobrol
“ya.. rasanya saya kenal.. tapi siapa ya.......”
“Saya anak pak Abduh” kataku lagi.
“Ooo..ya..ya.... gimana kabar Bapakmu”
“Alhamdulillah.. baik pak... dia juga sudah lama sakit, stroke sudah 16 tahun, tapi alhamdulillah... meski fisiknya sakit, tapi fikirannya sehat dan tetap bisa sholat dan berdzikir, dan masih bisa berkomunikasi dengan baik, baik obrolan ringan atau pun berat...”
Dari wajahnya yang nampak layu, tersungging senyuman yang sulit saya terjemahkan.
Hanya jarak 5 menit, si bos sudah muncul berjalan kaki dengan menggendong anaknya yang masi balita.
Obrolan panjang, dan tawar menawar tentang pinjaman dan jaminan, Bapak tua itu tak berhasil meyakinkan Si bos, yang memang sudah mengenal bapak tua itu, dan mungkin sudah pernah berhubungan bisnis, saya sangat maklum keputusan sibos untuk"menangguhkan" permohonannya, Dari sudut pandang Mu’amalah sudah benar, tak ada yang salah.
“Yach.. sudahlah kalo begitu, baiklah.. saya pulang...” desah Pak tua sambil berusaha berdiri dengan topangan tongkatnya.
“Bapak mau kemana lagi?” tanyaku
“Mau pulang”
“lha.. tadi kemari naik apa?”
“Naik becak” jawabnya masih tetap sedang berusaha berdiri dan nafasnya nampak tersengal.
“Saya permisi dulu, nunggu becak di pinggir jalan sana” sambungnya lagi setelah mengatur pernafasannya.
“Saya mau berangkat kerja ke arah sana, Bagaimana kalo ikut saya saja sekalian?” tanyaku lembut, agar dia tidak merasa saya bantu. Apalagi becak hanya lewat 2 jam sekali di jalan itu.
“Hmm.... boleh.. boleh....” katanya.
Saya baru melihat kalo celananya sudah basah, rupanya dia Terkencing di celana, mungkin dari tadi dia menahan pipis dan tak melihat toilet disekitar sini, atau memang dia tak tau kalo celananya sudah basah.
Si bos buru-buru mengambil Kertas Kardus untuk mengalas jok mobil, agar saya tak repot lagi nanti mencuci jok mobil, dan menuntunya masuk dan mendudukknya di kursi depan.
Dalam perjalanan kami hanya diam, dalam benakku hanya terbayang bagaimana Gagah dan hebatnya Pak tua ini dulu di tahun 80 an s/d 90 an, dimasa jayanya, telah banyak menolong orang, dan dimasa tuanya ini, rasanya tak percaya dengan keadaannya.
Dia mulai bercerita tentang dirinya yang sakit, istrinya yang telah meninggalkannya, dan anak-anaknya yang tak pernah mengunjunginya, dengan nada suara yang lemah dan matanya yang berlinang, laju mobil ku perlambat, agar dia merasa sedang berjalan-jalan mengitari kampung di pagi hari yang sejuk itu.
“Pak.. bapak sudah tua... nanti pun saya akan seperti bapak, begitulah kehidupan ini berputar” aku berusaha berkomentar untuk menampakkan antusiasku pada obrolannya.
Bapak ini sepertinya butuh teman ngobrol, karena waktu yang begitu singkat itu dia bercerita seakan-akan merangkum dari seluruh masa hidupnya.
1 Km lagi akan sampai di kediamannya, aku tak menyangka dia tinggal di tempat itu, yang jelas itu bukanlah rumahnya, ternyata dia menumpang di sebuah tempat....., padahal hampir sepertiga dari tanah kampung ini adalah miliknya.
“Pak... apa pesan bapak buat saya, selaku orang tua yang hebat dan luar biasa, sebelum saya menjadi tua seperti usia bapak ini.”
“NAK... HIDUP ITU.... HARUS JUJUR... JUJUR... JUJURLAH.... DAN SELALU LAH MENGALAH.... NGOTOT ITU KADANG HANYA UNTUK MEMBUKTIKAN DIRI KEPADA ORANG LAIN BAHWA KITA BISA DAN MAMPU, PADAHAL SAAT KITA NGOTOT, SAAT ITU LAH KITA SEDANG MEMBANGUN LAWAN,”
Aku turunkan dia di pintu gerbang, dan dia mesti berjalan 100 meter lagi kedalam tuk bisa beristirahat.
“Turunkan saya disini....”
“Biarlah saya antar sampai ke depan pintu pak, tak repot bagi saya”
“Tak usah... disini saja, nak...” katanya sambil menarik handle pintu mobil yang masih berjalan”
Read more...

Minggu, 30 Juni 2013

Ayahku

1 komentar
Ayahku....kami memanggilnya sehari-hari dengan kata "Abak"
Namanya Muhammad Abduh Jamil, tak banyak yang  memiliki nama itu dikampung kami, hanya ada satu orang sahabat dan tetangganya dulu saat tinggal di Desa Handle namanya Abduh Pohan. Beliau Lahir di Lipat Kajang 71 Tahun  yang lalu tepatnya 15 Maret 1942, saat negeri ini masuh hutan belantara, beliau ikut juga merasakan pahitnya jaman Belanda, Jepang dan PKI di desa terpencil itu, hingga pada saat heboh Referenum dan GAM bergejolak di Aceh, kami merasa resah dan cemas, ayah menangkan ku dan mengatakan "kamu ndak usah khawatir, disini (Rimo) Insya Allah tak akan rusuh, selama hidup ayah  di Rimo ini sejak zaman Belanda, Jepang dan PKI, tak begitu berpengaruh, sebab daerah kita bukan daerah politik, tapi daerah Ekonomi, masyarakat kita tidak begitu peduli dan tak tertarik dengan urusan seperti itu"


Beliau anak Ke 3 dari 4 bersaudara (alm. Ramsis Jamil, Nurhuda Jamil, M. Abduh Jamil dan A. Malik Jamil) ayahnya bernama Muhammad Jamil, kami tak begitu banyak tau tentang kakek itu, yang kami tahu makamnya ada di seberang rumah kami, hanya nenek Hj. Nurhalifah yang biasa kami panggil Uci  yang sempat bertemu dan kami bermanja ria padanya. Beliau juga sudah meninggal sekitar tahun 80an di usianya tepat 80 tahun sewaktu aku duduk di kelas 2 SD Tulaan. Masih segaar dalam ingatanku penyelenggaraan fardhu kifayah nenek yang kami cintai itu.
Ayah jarang bercerita tentang kisah-kisah masa lalunya ataupun silsilah keturun, beliau hanya sering bercerita kepada kami tentang masa depan, angan-angan dan impiannya yang besar,  yang mungkin baginya tak sempat lagi untuk mewujudkannya. Bagi kami beliau adalah seorang yang hebat, hingga suatu hari ayah pernah bertanya pada adikku Ahmad Firdaus yang waktu itu masih duduk di kelas I SD, "kalau kamu disuruh memilih presiden, siapa yang kamu pilih?? spontan saja dia menjawab "Aku pilih ayah...!!" begitulah dia bangganya terhadap ayah meski masih Kelas 1 SD, tapi dia sudah mengidolakan ayah.

Tak banyak yang kami tahu tentang silsilah garis keturunan ayah, kami hanya tahu sebatas kakek Muhammad Jamil, dan itu pun hanya namanya saja, dan beberapa cerita tentang beliau yang sering diceritakan ayah pada sela-sela taushiyahnya kepada kami, mungkin saat dia bercerita tentang kakek, dia sedang merindukannya.

Bagi kami Ayah adalah orang terhebat dan kami banggakan selain dan setelah Rasulullah, dan mungkin semua orang sayang dan bangga pada ayahnya.
Beliau bukan hanya seorang ayah, tapi juga seorang sahabat, tempat bertukar pikiran, diskusi tentang agama maupun bisnis dan tentang apa saja, bercanda dan bercengkrama, duduk disampingnya sangat mengasyikkan dengan berbagai macam nasehat, cerita dan Bual dan candanya karna beliau memang seorang homoris. Dikampung itu saya rasa.... semua orang mengenalnya, dan kadang kami "menjual" nama baiknya untuk kepentingan kami.. :-)
Tak ada yang terlalu istimewa dalam hidupnya, hanya orang biasa yang memiliki impian luar biasa, mendidik anak-anaknya juga tidak begitu luar biasa, Metodenya sangat sederhana.... beliau hanya menerapkan disiplin sholat dan akhlak karimah kepada anak-anaknya, tak terlalu perduli dengan rangking atau nilai kelas anak-anaknya, dan tak pernah bertanya "kamu rangking berapa, IP mu berapa? saat aku kuliah, yang sering dia tanya hanya "bagaimana sholatmu? bagaimana teman-temanmu? apakah kamu sudah punya banyak teman? ceritakan tentang satu orang temanmu pada ayah..."

MASA MUDA
Kadang-kadang ketika memberi wejangan dan nasehat kepada kami, dengan cara mengisahkan masa lalunya, mungkin saat melihat kami dan teringat masa lalunya, spontan beliau bercerita, tapi itu sangat jarang sekali, sekelumit yang pernah kudengar dari mulutnya bercerita...
Semasa kecil beliau tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Banda Aceh, orang menyebutnya Asrama Penyantun, hingga saat ini asrama itu masih ada, jarak antara ayah dan abangnya alm. Ramsis Jamil terpaut cukup jauh, jarak usia mereka 15 tahun, dan belaiu sangat menyayangi dan menyegani Abang tertuanya itu, karena sepeninggal kakek, abangnya itulah yang mengurusnya, kami memangilnya Pak Tuo.
Sejak Sekolah Dasar ayah sudah tinggal di asrama Yatim, disana beliau di sekolahkan hingga mengecap pendidikan SMEP (Sekolah Ekonomi Pertama) tapi tidak selesai, karena ayah kabur dari asrama.
Beliau kabur karena ngambek sama pengurus asrama, pasalnya....... guru sekolahnya mengintruksikan agar setiap murid membawa pas photo segera dan menyerahkan kepada guru untuk administrasi Ujian Akhir Sekolah.
Kembali dari sekolah, pesan guru itu disampaikannya kepada kepala asrama, kepala asrama menjawab "apa pula pakai foto-foto segala, seperti pejabat saja???!!" dengan nada ketus. Ayah seorang yang mudah t
ersinggung, sore harinya beliau mengemas barang-barang dan meninggalkan asrama, menghilang tak ada kabar berita, dan kembali ke Rimo yang pada waktu itu jarak antara Banda Aceh-Rimo bisa memakan waktu 2 hari perjalanan karena jalannya masih begitu parah dan melalui hutan belantara.
cerita ini sering di ucapkannya padaku, saat beliau menasehati.."jangan mudah tersinggung.... kamu tau nggak, gara-gara sifat itulah ayah dulu gak selesai sekolah, hanya gara-gara omongan kepala asrama tentang pasfoto. karena setelah beberap tahun kemudian ayah menghilang dari asrama, kami bertemu dengan kepala asrama, dan memeluk ayah sambil menangis.... Abduh..abduh.. .. kemana kamu menghilang.. padahal kami mau mengirimmu ke Jawa untuk sekolah disana.. tiba-tiba saja ayah terperanjat dan timbul rasa menyesal yang sangat dalam, "kenapa waktu itu saya mesti kabur?" kalo lah tidak karena sifat itu, mungkin ayah sudah jadi pejabat sekarang..." guraunya.

"BERBAKTI"  KEPADA ABANG
     Di Rimo, ayah tinggal bersama Pak Tuo dan nenek, bekerja membantu Pak Tuo yang memang sorang pedagang kelontong, Pak Tuo sangat di kenal di kampung itu sebagai sudagar dengan Toko Madya Suka, Pak Tuo yang jaraknya sangat jauh dengan ayah, sikapnya layaknya seperti seorang ayah kepada anaknya, berwibawa dan jarang bicara apalagi canda dengan ayah,  Ayah tinggal dan makan disitu, banyak kisah yang diceritakan ayah padaku tentang suka duka tinggal di rumah warisan itu. salah satunya begini.

     "Pak Tuo adalah seorang sudagar yang sangat pintar melihat peluang pada zamannya, mungkin keturunan dari buyut kami, atau kakekya, kono kakeknya adalah soerang saudagar "importir" pada masa itu, yang sering berlayar dan berbelanja di Malaysia dan Singapur, sehingga dia memiliki banyak tanah di daerah Kepulauan Pulau Banyak, dan Pak Tuo lahir disana, karna itu namanya Jaziri yang artinya Pulauku, dan dia dikenal dengan nama Ajo Jiri di kampungku, tapi terahir Pak Tuo merubah namanya  menjadi Ramsis Jamil, aku tak tahu apa alasan nama Raja Mesir itu dibuatnya.
Tapi bagi Pak Tuo Bisnis adalah urusan utama, hingga akhirnya dia tak begitu sempat memperhatikan adiknya itu, sekolahnya ataupun kebutuhannya, Sebenarnya Ayah sering mendongkol sama Pak Tuo, tau nya hanya dagangannya saja yang ada dalam fikirannya,  hingga suatu hari Pak Tua melihat peluang bisnis Kerbau.
Pak Tuo memerintahkan ayah untuk pergi ke Desa Kandang Aceh Selatan, untuk melihat dan membeli Kerbau disana, untuk dibawa ke Rimo dan dijual, Jarak Rimo dengan Desa Kandang 2 hari perjalanan, Ayah berangkat menggunakan sepeda menyusuri bibir Pantai Samudra Hindia dengan berbekal Nasi Ketan, yang dimakan sedikit sedikit hanya sekedar menahan lapar, nasi ketan bisa tahan lebih lama dari pada nasi. Perjalanan yang jauh dan melelahkan itu membuat "pantat" ayah menjadi luka karena sedel sepeda, jika lelah beliau berhenti dan berisitrahat dibawah pohon.
Sesampainya di Desa Kandang dan negosiasi tentang harga, akhirnya Kerbau jadi juga dibawa ke Rimo, tapi ayah sudah tidak sanggup lagi untuk naik sepeda ke Rimo,  Ayah meminta kepada empunya Kerbau yang namanya Muhammad, kami memanggilnya Pak Cut Muhammad, untuk  mengantar sampai ke Rimo, sementara abak menjual sepeda itu dan melanjutkan perjalannya ke Banda Aceh dengan menggunakan Angkutan Umum.
Mendengar kabar itu dari Pak Cut Muhammad ketika sudah sampai di Rimo, Pak Tuo sangat marah, dan mengatakan  "Sepeda Pusaka kau jual, duh????"
Ayah tak perduli, memang tabiat ayah mungkin seperti itu, jika ada suatu hal yang tak disenanginya, dia tak perduli, dan di tinggalkan begitu saja dan tak mau dengar lagi orang yang ngomel.
Ayah tinggal di Banda Aceh untuk waktu beberapa  lama, lalu dari Banda Aceh Ayah pergi ke Medan, disana beliau menginap di rumah Kost anak Pak Tuo yang bernama Dahrusyid yang sedang menyelesaikan Kuliah Kedokteran di Medan,
Beliau menikmati makan dan tidur di kamar Keponaknnya itu, sampai akhirnya Pak Tuo menyuruhnya segera pulang.

AYAH MENIKAH
 bersambung...................................





Read more...

Senin, 31 Desember 2012

0 komentar
Siang itu di Letda Sujono

Di Masjid Al Hidayah di Letda Sujono, baru saja selesai sholat zuhur, Duduk di anak tangga masjid sambil memakai sepatu, ditemani seorang bocah yang dari tadi menunggui sepatuku, namanya aku lupa.... Dia masih kelas III SD, dan semua pertanyaan ku di jawab dengan cepat dan lancar.
Tiba-tiba saja kerumunan massa lewat di depan masjid itu, mereka menyeret dua orang lelaki yang diikat tangannya, kepalanya berdarah... darahnya berhamburan di wajahnya, Dua orang polisi menyeretnya seperti menarik kambing.

Seorang Tinggi berbadan bagus, wajahnya berlumuran darah, temannya lebih pendek, meski di seret massa, sepertinya di begitu pasrah, tatapan mata kami beradu.. tiba-tiba saja jantungku berdegup keras, meski berlumuran darah... wajahnya nampak seperti tersenyum saja....
"Kesalahan apakah gerangan yang telah diperbuatnya, hingga wajahnya begitu hancur?" 

Di Depan Kantor Polisi itu aku berhenti, dan bertanya pada seorang anak muda di sebelah ku.
"kenapa dia bang, dek?"
"Ah... apa abang gak liat?? habis mukanya dipukuli..., rampok, bang..." katanya bersemangat
"Ngerampok apa, ya?" tanyaku lagi.
"Rampok, baaang.... jambrettt...." jawabnya dengan logat Medan.

Apakah memang harus begitu menghakimi seorang jambret? ih..... ngeri bah.... 
Sungguh kasihan abang itu, dia harus merampok
Dan massa telah menghakiminya. 
Aku bingung saja... KOK BISA BEGITU, YA... antara kasihan dan kasihan......
Ah.. Entah lah mak rossss

Read more...

Sabtu, 13 Oktober 2012

DETIK DETIK KEPERGIAN RASULULLAH SAW |

0 komentar

♥ Bismillahirrahmaanirrahiim ♥

Pagi itu Rasululloh dengan suara terbata-bata berkutbah, " Wahai umat ku. kita semua dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih_Nya, maka taat dan bertaqwala kepada_Nya. Ku wariskan dua perkara kepada kalian, Al Qur'an dan Sunnahku. Siapa yang mencintai Sunnahku, berarti mencintaiku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama-sama aku"

Kutbah singkat itu di akhiri dengan pandangan mata rasululloh yang tenang dan penuh minat menatap satu persatu sahabatnya. Abu bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepala.

Isyarat telah datang, saatnya telah tiba, " Rasululloh akan meninggalkan kita semua" keluh hati sahabat. Manusia tercinta itu, hampi selesai tunaikan tugasnya. Tanda-tanda itu makin kuat. Ali dengan cekatan memeluk rasululloh yang lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.

Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah rasululloh masih tertutup. Di dalamnya rasul terbaring lemah dengan kening berkeringat membasahi pelepah kurma alas tidurnya. Tiba-tiba dari luar pintu terdengar salam, "bolehkah saya masuk?'
tanyanya.

Fatimah tak mengijinkan masuk. "Maafkan ayahku sedang demam."

Ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya, "siapakah itu wahai anakku" "Tak taulah ayahku, sepertinya baru kali ini aku melihatnya" tutur Fatimah lembut.

Rasul menatap putrinya dengan pandangan yang mengetarkan. Seolah-olah bagian demi bagian wajah putrinya hendak di kenangnya.

" Ketahuilah. Dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. dialah malaikul maut" kata rasululloh. Fatimahpun menahan ledakan tangisnya.

Ketika malaikat maut datang mendekat, rasul menanyakan kenapa jibril tidak menyertainya. Kemudian di panggilah jibril yang sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah ini.

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah" tanya rasul dengan suara yang teramat lemah.

"Pintu-pintu langit telah terbuka. para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril. Ternyata itu tidak membuat rasul lega. Matanya masih penuh gambaran kecemasan.

" Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" tanya jibril.

" Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"

" Jangan khawatir ya rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepada ku, Ku haramkan surga bagi siapa saja, kecuali umat muhammad telah berada di dalamnya" kata jibril.

Detik-detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh rasululloh di tarik. Nampak sekujur tubuh rasul bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini" rasululloh mengaduh lirih. Fatimah terpejam. Ali yang berada di sampingnya menunduk semakin dalam. Jibril memalingkan muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya rasululloh pada malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapa yang sanggup melihat kekasih Allah di renggut ajal," kata Jibril. Kemudian terdengar rasul memekik karena sakit yang tak tertahankan. "Ya Allah, dasyat nian maut ini, timpahkan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku".

Badan rasul mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali segera mendekatkan telinganya, " Uushikum bis shalati, wa maa malakat aymanukum. Peliharalah sholat dan peliharalah orang-orang lemah diantara kamu"

Di luar pintu tangispun mulai terdengar bersahutan. Sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Dan Ali kembali mendekatkan telinga di bibir rasul yang mulai kebiruan, " Ummatii..., ummatii...., ummatii...,"

Berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi."
Read more...

Senin, 24 September 2012

PREMAN BERTATO

0 komentar
Counter HP yang berada di lantai 2 Plaza Millenium di pojok dekat pintu parkiran itu baru buka, hari itu adalah hari pertamanya berjualan, aku lupa nama counternya, tapi aku mengenal salah satu dari yang duduk di disitu yang mengaku sebagai pemilik counter gotongroyong itu, aku mengenalnya di Subulussalam sebagai teknisi HP di salah satu counter terbesar di kota itu.

Mereka seperti bersemangat sekali berjualan, mungkin semangat baru karena counter baru, mereka ada ber 6, 3 orang perempuan, 1 berjilbab dan yang 2 lagi berpakain seksi dan berkacamata, 3 lelaki, yang satu berpakaian gamis dan mengenakan lobe, dengan janggut nya yang panjang tanpa kumis.

Seorang teman yang ku kenal tadi bercerita panjang lebar tentang usaha mereka yang baru, dan memperkenalkan satu persatu teman-temannya, salah satu yang berjenggot itu......
Aku melihat tangan sebelah kanannya penuh dengan tato, sangat singkron dengan pakaiannya, teman itu tersenyum dan berkata "Dulu dia seorang preman, kepala manusia tidak ada harganya, hidupnya lebih lama di penjara daripada di luar, seluruh tubuhnya penuh tato, dan sekarang dia menyesal... bagaimana cara menghilangkan tato yang ada di sekujur tubuh nya itu, dan sekarang dia menjadi seorang yang taat dan baik, dunia hitamnya telah di tinggalkan dan tak pernah di sebutnya lagi dilidahnya, tak pernah dikenangnya, di tanya orang pun.... dia tak mau ceritakan lagi..."  Subhanallah....... begitu beruntungnya dia, kataku dalam hati.

Tak berapa lama orang bertato itu menghampiri ku dengan senyum, mereka seperti bergantian melayani obrolan dengan pelanggan, jangan sampai pelanggan di tinggal sendirian seperti orang sangak, dan setiap pelayan yang ngobrol dengan pelanggan, masing-masing ceritanya berbeda-beda tema, kalo tadi aku bercerita tentang subulussalam..... dan dengan yang bertato ini bercerita tentang manis nya iman... lho.. apa hubungnanya dengan barang dagangan yang di jajakan padaku ?? malah cerita tentang iman.. bukan cerita tentang HP yang dia jual.
Toko ini memang unik, lelaki bertato itu berada ditengah wanita-wanita berpakain seksi.... dan setiap mereka punya obrolan sendiri-sendiri dengan costumer, dan sepertinya dia bukan hanya berjualan HP, tapi berjualan sesuatu yang tak pernah rugi.... yaitu dia sedang jaualan "da'wah", dan Allah yang menjadi toke nya, setiap orang yang mendengar dan membeli dagangannya itu, Allah telah membayarnya dengan tunai berupa pahala disisinya... dan mungkin dia sangat meyakini itu, berjualan HP hanya sebagai sunnatullah dan sampingan saja agar dia bisa menjual misi da'wahnya.

"Abang dari mana?" tanyaya
"Saya dari Singkil" jawabku
"Ooo, saya pernah ke singkil, selama 4 bulan disana" tambahnya
"Tapi tak menetap, dari masjid ke masjid, di Subulussalam juga pernah, tapi yang agak lama di perkebunan Nafasindo"

Lalu dia melanjutkan ceritanya, kali ini dia lebih banyak bercerita tentang Allah... tak lagi bercerita tentang HP yang akan ku beli darinya.

Iman itu seperti akar, jika sering di siram maka akan tumbuh batang, daun dan cabang-cabangnya, tapi kita jarang terlalu peduli tentang iman, maka perbaharuilah iman selalu, bagiamana cara memperbaharu iman? memperbahari iman adalah dengan kalimat Lailaha Illallah.... bukan hanya disebut di lidah, tapi diceritakan kepada orang, setiap duduk dalam sebuah majlis, sempatkan lah bercerita tentang "kehebatan" Allah. Mengapa Allah tak terasa hebat dan besar lagi bagi kita, karena kita jarang membicarakannya, sesuatu yang sering di bicarakan, meski pun kecil maka dia akan menjadi besar, tapi sesuatu yang besar, jika jarang diceritkan maka dia akan menjadi kecil bahkan bisa hilang.

Kemenangan Jokowi pada Pemiliahan Gubernur di DKI, padahal JOkowi itu biasa-biasa saja, tapi media telah memebesar-besarkannya, sering disebut-sebut media, maka dia menjadi besar, karena besarnya.. dia menjadi menang.

Hidup ini hanya sebentar, sehabis itu kita akan berpindah ke alam lain, dan setiap perpindahan alam itu, kita tidak pernah menyadarinya, alam rahim, alam dunia, alam kubur dan alam akhirat, saat ini kita berada di alam dunia, dan akan memasuki alam kubur, sebelum kita memasuki alam kubur, kita sudah dikabarkan tentang alam kubur, di beri gambaran tetang alam kubur, tapi kita anggap itu cuma dongeng, dan di saat kita di alam kubur, kita akan diberi gambaran tentang alam akhirat.

Selama menunggu alam akhirat, bagi orang yang baik, sudah dihembuskan dan di nampakkan tentang indahnya alam akhirat ketika dia dalam kubur. Dan bagi yang amalannya buruk, sudah ditakut-takuti tentang pedihnya kehidupan akhirat yang akan dia tempuh, dan itu terjadi di alam kubur hingga kiamat datang, sampai waktu kita dibangkitkan, kita begitu lelah di takut-takuti di alam kubur, dan kita begitu bahagia dan tak sabar dialam kubur agar segera masuk ke alam akhirat jika kita memiliki amal yang baik.

Setalah tibanya hari kiamat, kita semua dibangkitkan, berkumpul di padang mahsyar, pada waktu itu ada orang yang masuk surga tanpa hisab, dan juga ada masuk neraka tanpa hisab, dan ada orang yang di hisab.
pada hari itu sudah ada penyeleksian, yang tersisa hanya orang-orang yang akan di hisab, dan kita tidak tahu diantara 3 golongan ini, kita berada di posisi mana, (1) masuk surga tanpa Hisab (2) masuk neraka tanpa hisab (3) orang yang di hisab.

Sedangkan orang yang dihisab akan masuk para penyeleksian selanjutnya, mereka akan dibawa ke titian shiratal mustaqim, diantara mereka ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang terbang, ada yang berlari, berjalan...ada yang merangkak, ada pula yang masih beberapa langkah sudah terjatuh dari titian itu, semua tergantung amal perbuatannya di alam dunia.
Dan kira-kira anda masuk tahap seleksi ini atau tidak? anda golongan yang mana? secepat kilat, terbang, berlari, berjalan atau merangkak? atau bahkan belum masih beberapa langkah lalu terjatuh... atau malah tidak ikut sama sekali dalam tahapan ini????
hufft..... aku menelan ludah dan menarik nafas panjang...... aku tak bisa jawab, dan tak berani menjawab......
Terbayang dibenakku waktu menunggu antrian di Kedutaan Saudi Arabia di Mesir, sewaktu antri untuk mendapatkan visa haji, kami tidur di halaman itu selama 3 hari 3 malam, dan tak bisa meninggalkan antrian, makan pun mesti bergantian, di tangan penuh berkas-berkas, itupun masih harap-harap cemas, apakah berkasku sudah lengkap atau tidak, bayangkan saja.... sudah mengantri 3 hari, sampai di loket ternyataka berkasnya kurang, dan harus mengulangi antri dari belakang?? capeekk deeh.. itu baru antri 3 hari dengan hanya beberapa ratus orang, sedangkan di padang mahsyar nanti yang antri dengan berkas-berkas ditangannya adalah......hmm... berapa orang ya... bayangkan saja, sejak zaman kakek adam hingga sampai saat ini, berapa sudah nyawa manusia yang hidup didunia?????

Atau bagi anda yang pernah mendaftar di PNS, bagaimana rasanya antrian untuk memberikan berkas pada panitia, sibuk tidak karuan, setelah menyerahkan berkas...eee..e.e. ternyata Legalisir ijazahnya kurang 1 lembar, dan anda harus kembali mencari stempel dan tanda tangan lagi, bisa anda bayangkan bagaimana sibuknya???

Pada cerita itu, entah kenapa air mata ini  berlinang, rasa takut, cemas itu muncul, membayangkan sibuknya hari itu, tidak lagi terfikir..."mana anakku.... mana istriku... mana ibu/ayahku... dibarisan manakah mereka?? apakah mereka sudah di depan masuk surga terlebih dahulu.. atau jangan-jangan mereka masuk neraka tanpa hisab..na'uzubillah.... semuanya nafsi-nafsi.. tak ada yang membantu, urus diri masing-masing, bagaimana jika ternyata salah satu keluarga kita ada di neraka, dan kita sudah berada di surga?? atau sebaliknya, mereka sudah di surga dan kita dihajar habis-habisan di neraka?


Lalu dia meneruskan ceritanya.....
Kita harus selalu belajar tentang agama ini, kita tidak boleh merasa sudah faham dan sudah pintar tentang agama ini, seperti sabda Rasulullah, "siapa yang merasa pintar tentang agama, maka dialah sebenarnya orang yang bodoh"
Dunia ini memiliki ruh, ruhnya adalah agama, dan agama ini memiliki ruh, ruhnya adalah da'wah.

Pada akhir pertemuan itu, timbul pertanyaan dalam hati.
"Dibarisan mana kamu berdiri di padang mahsyar?
"Pada golongan mana kamu dikumpulkan?"
"Kamu yakin, nanti kamu baik-baik saja di sana?"
"kamu  yakin, kamu sempat di hisab?"

Kamu pasti bisa menjawabnya... jawab sajalah dalam hati....

Preman itu seperti menangis.... dan semakin lama semakin lunak dan lembut tutur katanya, meski di sekeliling lengannya banyak tato, tapi dia benar-benar beruntung......meski telah membunuh 3 orang, dan ternyata saya tak seberuntung dia....




Read more...

Sabtu, 22 September 2012

MENGENAL WAKAF HABIB BUGAK ASYI

0 komentar

Salah seorang hartawan dan dermawan Aceh  Tgk Haji Habib Bugak  mewakafkan sebuah rumah dua tingkat beserta tanahnya yang terletak di daerah Qusyasyiah (antara Marwah dan Mesjid Haram,  di sekitar pintu Bab al Fatah sekarang). Tanah dan rumah wakaf ini sering disebut dengan Baitul Asyi, dan kadang-kadang disebut juga dengan Wakaf Habib Bugak Asyi.
Menurut akta Ikrar Wakaf yang disimpan dengan baik oleh Nazhir, wakaf tersebut diikrarkan oleh Habib Bugak Asyi pada tanggal 18 Rabi’ul Akhir tahun 1224 Hijriyah (sekitar tahun 1800 Masehi) di depan Hakim Mahkamah Mekkah. Di dalam ikrar wakaf disebutkan bahwa:
  1. Rumah tersebut harus digunakan untuk penginapan orang Aceh yang datang dari Aceh untuk menunaikan haji, serta orang Aceh yang menetap di Mekkah baik untuk tujuan belajar ataupun tujuan lainnya, sesuai dengan daya tampung rumah tersebut.
  2. Sekiranya karena sesuatu sebab jemaah dari Aceh tidak ada lagi yang datang ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dan orang aceh pun tidak ada lagi yang bermukim di mekkah, maka manfaat tanah dan rumah wakaf ini diserahkan untuk kesejahteraan para pelajar dan mahasiswa asal Jawi–Melayu (istilah yang waktu itu digunakan untuk enunjuk wilayah Asia Tenggara) yang belajar di Mekkah al Musyarrafah.
  3. Apabila mereka inipun karena sesuatu hal sudah tidak ada lgi di Mekkah, maka tanah wakaf ini digunakan untuk kemaslahatan para mahasiswa yang belajar agama di Tanah Haram.
  4. sekiranya karena sesuatu hal tidak ada lagi mahasiswa yang belajar agama di Mekkah  maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram asy-Syarif, dan digunakan untuk perawatan dan kemaslahatan Masjid Haram.
Untuk menjadi nazhir beliau menunjuk salah seorang ulama asal Aceh yang telah menetap di Mekkah, yaitu Syaikh Muhammad Shalih bin almarhum Syeikh Abdussalam Asyi,  dengan tugas dan kewenangan sebagai berikut:
  1. Sekiranya karena sesuatu sebab dia merasa tidak mampu lagi mengelola wakaf ini atau dia memutuskan akan pindah atau pergi dari Mekkah (misalnya pulang ke Aceh) maka dia harus menunjuk salah seorang ulama asal Aceh yang ada di Mekkah sebagai nazhir.
  2. Sekiranya dia meninggal dunia maka hak nazhir beralih kepada salah seorang anaknya yang alim yang dia tunjuk;
  3. Kalau nazhir yang ada merasa anaknya  tidak mampu mengelolawakaf, maka dia boleh menunjuk orang lain yang dia anggap mampu, sehingga pengurusan wakaf ini tidk akan terbengkalai.
  4.  Nazhir berhak memilih orang yang akan tinggal di dalam rumah wakaf sesuai dengan kapasitas rumah wakaf tersebut.
  5. Nazhir juga berhak melarang orang yang tidak dia sukai masuk ke dalam rumah wakaf serta berhak mengusir orang yang sudah dia beri izin tinggal di dalamnya apabila merugikan wkaf atau berperilaku tidak patut.
  6. Nazhir berhak menyewakan sebagian rumah wakaf untuk biaya perawatan dan biaya pengelolannya.
Di dalam akta ikrar wakaf disebutkan bahwa rumah ini terdiri atas dua lantai, mempunyai saluran pembuangan air, disebutkan jalan dan pintu masuk, batas tanah pun disebutkan secara jelas dan rinci dan beberapa keterangan lainnya. Semua yang berkaitan dengan tanah ini ikut diwakafkan, termasuk marafiq, manafi’, diwan bimanafi’ihi, tawabi’, lawahiq, dan seluruh hak lain yang melekat padanya. Semuanya sudah diwakafkan secara sempurna, karena itu tidak boleh dijual, dihibahkan, digadaikan, diwariskan, ditelantarkan atau dihancurkan dengan cara apapun. Wakaf ini harus dipertahankan menurut syarat yang telah ditentukan wakif seperti disebutkan di atas sepanjang zaman, tidak boleh terpengaruh dengan perubahan penguasa dan kebijakan. Harus dipertahankan sesuai dengan syarat yang dibuat wakif, karena begitulah ketentuan wakaf dalam agama Islam.
Adapun urutan nazhir yang telah mengelola wakaf ini sejak yang pertama sampai sekarang adalah sebagai berikut:
  1. Muhammad Shalih bin Abdussalam Asyi (1224 – 1246 H);
  2. Asiyah binti Abdullah Ba’it Asyi dan kakaknya Muhammad bin Abdullah Ba’it Asyi  (1246 – 1264 H);
  3. Mahmud bin Ahmad bin Abdullah Ba’it Asyi (1264 – 1293 H);
  4. Abdul Ghani bin Umar bin Ahmad bin Abdullah Ba’it Asyi (1293 – 1375 H);
  5. Muhammad bin Abdul Ghani bin Umar bin Ahmad Ba’it Asyi (1375 – 1392 H);
  6. Abdullah bin Abdul Ghani bin Umar Asyi dan saudaranya Shalih bin Abdul Ghani Asyi (1392 – 1408 H);
  7. Shalih bin Abdul Ghani bin Umar Asyi dan anak saudaranya Abdul Ghani bin Mahmud Abdul Ghani Asyi  (1408 – 1420 H);
  8. Abdul Ghani bin Mahmud Abdul Ghani Asyi dan sepupunya Muhammad Ahmad bin Abdullah bin abdul Ghani Asyi (1420 – 1424 H);
  9. Munir bin Abdul Ghani bin Mahmud Asyi dan Dr. Abdullathif Muhammad Balthu Balthu (1424 – sekarang);
Seperti terlihat, sejak dari pertama diikrarkan sudah ada sembilan orang/generasi nazhir yang mengelola wakaf ini, salah seorang daripadanya adalah perempuan yaitu Nazhir nomor dua. Nazhir yang sekarang tidak lagi dalam bentuk tunggal tetapi sudah merupakan Dewan Nazhir yang ditunjuk oleh Mahkamah Mekkah. Nazhir utama adalah Munir bin Abdul  Ghani, serta Syekh Dr. Abdullathif Balthu yang ditunjuk sebagai penasehat dan tenaga ahli, serta  Khalid bin Abdurrahim Abdul Wahab Asyi yang ditunjuk sebagai sekrtetaris.
Waktu perluasan Mesjid Haram yang pertama, dimasa pemerintahan Raja Sa’ud bin Abdul Aziz, pada tahun 50-an, rumah wakaf ini masuk ke dalam wilayah yang harus dibebaskan dan karena itu diberi ganti rugi oleh Pemerintah Arab Saudi. Nazhir waktu itu membeli penggantinya dua buah rumah beserta tanahnya di Jiyad Bir Balilah. Sebuah rumah dekat pintu masuk  Terowongan  Jiyad  dan sebuah lagi di depan Hotel Syuhada’.  Setelah ini Nazhir masih membeli sebuah gedung berlantai empat beserta tanahnya di belakang Sekolah Menengah  Atas (Madrasah ats Tsanawiyyah) Aziziyah, dan sepetak tanah lagi di Aziziyah Selatan, yang akan dibangun gedung tempat tinggal jemaah haji, diharapkan mampu menampung sekitar 5000 jemaah. Dengan demikian sekarang ini sudah ada empat lokasi wakaf sebagai pengganti dari sebuah yang asli yang di Qusyasyiah dahulu.
Rumah wakaf ini dikelola dengan baik oleh Nazhir dan digunakan untuk tempat tinggal jamaah haji asal Aceh, tempat tinggal sebagian orang (keluarga) Aceh yang sudah menjadi penduduk Mekkah  serta tempat tinggal sebagian mahasiswa asal Aceh yang belajar di Mekkah secara berkesinambungan dari generasi ke generasi. Tetapi mulai tahun 80-an, ketika Pemerintah Saudi menukar system pengelolaan haji dari sistem Syekh menjadi sistem mu’assasah,  maka rumah wakaf ini tidak lagi ditempati jamaah haji asal Aceh. Pada system syeikh jemaah memilih langsung syeikh yang akan membimbingnya selama di Mekkah dan Syeikh inilah yang mencari/menyewa rumah untuk jemaahnya. Karena Nazhir Wakaf Habib Bugak adalah Syeikh untuk jemaah haji asal Aceh, maka jemaah Aceh yang memilih dia sebagai syeikh otomatis akan dimasukkan ke Rumah Aceh (Baitul Asyi) tersebut. Sedang pada sistem mu’assasah  pemerintahIndonesia yang menyewa rumah dan menentukan (memilih, mengundi) jemaah yang akan menempatinya dan baru sesudah itu menyerahkannya kepada syeikh (maktab) untuk dikelola. Dengan sistem ini jemaah asal Aceh tidak dapat lagi memilih rumah Aceh (wakaf Habib Bugak) ini sebagai tempat tinggal mereka. Mereka akan terpencar di berbagai tempat dan berpindah-pindah setiap tahunnya sesuai dengan undian yang ditetapkan oleh PemerintahIndonesia.
Pada musim haji tahun 2002 (1423 H) Nazhir Wakaf Habib  Bugak Asyi waktu itu, Syekh abdul Ghani Asyi, menjamu Bapak Abdullah Puteh, Gubernur Aceh waktu itu yang pergi menunaikan haji. Dalam jamuan ini hadir beberapa tokoh dan pejabat dari Aceh yang kebetulan ikut menunaikan ibadah haji, antara lain, penulis sendiri (Al Yasa’ abubakar, Kepala Dinas syari’at Islam Aceh), Bapak Tgk. Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman), Bapak almarhum Tgk. Zainuddin Saman (Asisten III pada Sekretariat Gubernur) dan beberapa orang lain yang tidak penulis ingat. Pada waktu ini Nazhir menyerahkan kepada bapak Gubernur seberkas surat-surat yang berkaitan dengan Wakaf Habib Bugak ini, dengan harapan dapat diketahui dan kalau perlu dipelajari.  Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan tiga hal yang mungkin bermanfaat untuk diketahui khalayak sebagai berikut:
  1. Karena Nazhir selama ini bersifat turun temurun, dan di Mekkah (Arab Saudi) sudah terjadi perubahan politik dankebijakan yang relatif besar (dalam rentang waktu 200 tahun), maka kewenangan nazhir menjadi relatif tidak jelas. Apalagi ada intervensi dan keinginan sementara pihak untuk membelokkan penggunaan/peruntukan wakaf ke arah yang tidak sesuai dengan syarat wakaf. Untuk itu beliau mengajukan permohonan kepada Mahkamah Mekkah agar dapat mengukuhkan kembali penggunaan/peruntukan wakaf sesuai dengan keinginan Wakif, yaitu untuk kemaslahatan jemaah haji asal Aceh dan orang Aceh yang bermukim di Mekkah. Beliau juga memohon untuk dikukuhkan sebagai  Nazhir dengan kewenangan dan tanggung jawab sesuai dengan yang tertera dalam Akta Ikrar Wakaf. Alhamdulilah permohonan ini dikabulkan Mahkamah pada tahun 1420 H (1999 M).  Diantara isi Penetapan Mahkamah ini (a) Wakaf hanya boleh digunakan untuk kemaslahatan jemaah haji asal Aceh dan tempat tinggal orang asal Aceh yang bermukim di Mekkah, (b) Syekh Abdul Ghani bin Mahmud bin Abdul Ghani Asyi dikukuhkan sebagai Nazhir dan diberi tambahan tugas dan kewenangan (c) Nazhir diperintahkan mencari investor untuk mengembangkan tanah wakaf ini sehingga dapat dioptimalkan penggunaannya.
  2. Sejak ini beliau semakin serius berusaha agar jamaah haji asal Aceh mendapat manfaat dari wakaf ini. Beliau juga menceritakan bahwa Nazhir harus membuat laporan secara berkala kepada Mahkamah tentang pengelolaan wakaf (termasuk pemanfaatannya oleh Jemaah haji asal Aceh). Untuk ini beliau menceritakan dua rencana yang sudah beliau rancang kepada Gubernur yaitu:
  3. Pertama beliau berharap sebagian jemaah haji asal Aceh dapat menempati rumah tersebut (paling kurang rumah yang di Aziziah), atau Nazhir diberi izin oleh Konsul Haji Indonesia di Jeddah  untuk mencarikan rumah untuk sebagian jemaah asal Aceh dengan uang sewa rumah Wakaf Habib Bugak tersebut. Rencana kedua beliau sedang mencari investor untuk membangun hotel/penginapan modern di atas  kedua tanah tersebut sesuai dengan tugas dan kewenangan yang diberikan Mahkamah. Untuk ini beliau mengajak pemerintah Aceh agar bersedia membangun gedung tersebut, tetapi dengan syarat investasi yang ditanamkan itu akan menjadi bagian dari wakaf.
  4. Untuk merealisasikan rencana yang pertama, beliau pada tahun 1999 telah mengirim surat kepada Menteri Agama Indonesia melalui Konsulat haji pada Kedutaan Besar Indonesia di Jeddah, memohon agar jemaah Aceh (sebagian jemaah asal Aceh) diberi izin untuk tinggal di rumah wakaf tersebut selama berada di Mekkah. Jawaban Menteri Agama waktu itu, masalah haji merupakan urusan pemerintah dengan pemerintah (G to G), karena itu keterlibatan pihak swasta tidak dapat diterima. Karena jawaban Menteri ini, Nazhir meminta bantuan Gubernur Aceh, agar mempelajari kebijakan Pemerintah Indonesia dan kalau bisa mencarikan jalan agar manfaat wakaf ini dapat dirasakan oleh jemaah asal Aceh, sesuai dengan tujuan wakif seperti tertera dalam Akta Ikrar Wakaf.
  5. Sekiranya jemaah Haji asal Aceh diberi izin tinggal pada rumah wakaf seperti beliau harapkan, maka Nazhir meminta PEMDA Aceh bersedia memilih sekitar 700 jemaah asal Aceh yang akan tinggal di rumah-rumah tersebut, sesuai dengan daya tampung yang ada pada waktu itu.
Pembicaraan antara Nazhir dengan Pemerintah Provinsi  Aceh dilanjutkan kembali dalam musim haji 2003, dengan Bapak Azwar Abubakar (Wakil Gubernur) yang waktu itu naik haji. Pada waktu ini PEMDA Aceh memberitahu/menyurati Nazhir bahwa PEMDA Aceh tidak mampu menyediakan dana untuk membangun gedung wakaf tersebut dan investor (swasta) dari Aceh pun tidak ada yang bersedia menanamkan uang sebagai wakaf (tambahan atas wakaf yang sudah ada). Dengan demikian upaya mencari investor diserahkan sepenuhnya kepad Nazhir, sedang perhatian PEMDA Aceh difokuskan pada rencana Nazhir yang pertama, menjadikan jemaah haji asal Aceh dapat mengambil manfaat dari wakaf ini. Untuk itu pada tahun 2004 Pemerintah Aceh mengirimkan utusan resmi ke Mekkah yang terdiri dari Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman, Kepala Kantor Wilayah Departemen Agama Aceh, Kepala Dinas Syari’at Islam  Aceh, dan Kepala Biro Keistimewaan Aceh, sedang Ketua MPU Aceh yang direncanakan ikut, tidak dapat hadir karena beradu dengan kegiatan lain, menghadiri diskusi di Australia tentang perkembanan hukum dan pelaksanaan Syari’at di Aceh). Utusan ini  membawa usul dari PEMDA Aceh agar kepada jemaah haji asal Aceh diberikan uang pengganti sewa rumah, karena itulah solusi yang paling mungkin. Utusan PEMDA juga meminta seberapa pun besarnya uang pengganti sewa tersebut, maka harus dibagikan kepada semua jemaah Aceh, jangan hanya kepada sebagian mereka. Walaupun di dalam akta ikrar wakaf disebutkan bahwa Nazhir berhak memilih sebagian jemaah untuk tinggal  di dalam rumah wakaf dan berhak melarang jemaah yang tidak dia sukai untuk tinggal disitu, utusan PEMDA meminta agar jemaah asal Aceh tidak dipilah-pilah. PEMDA sangat berharap agar fasilitas wakaf ini dapat dinikmati seluruh jemaah Haji asal Aceh, bukan hanya oleh sebagian mereka.
Pada dasarnya Nazhir setuju dengan permintaan ini, tetapi untuk dapat merealisasikannya tentu harus disetujui juga oleh PemerintahIndonesia(Departemen Agama) dan Pemerintah Arab Saudi (Departemen Haji). Untuk itu masing-masing pihak diharapkan dapat melakukan pendekatan dengan Pemerinah masing-masing dan saling memberikan informasi. Bermanfaat penulis tambahkan, ketika utusan PEMDA Aceh tiba di Jeddah beliau sedang sakit dan dirawat di rumah sakit, sehingga dua kali pertemuan terpaksa dilakukan di ruang rawat beliau di rumah sakit, dihadiri oleh beliau selaku Nazhir, dibantu Sekretaris Nazhir (Khalid) serta utusan dari Aceh. Satu pertemuan lagi, yang beliau rancang secara lebih luas, dihadiri oleh tokoh-tokoh masyarakat Aceh di Mekkah sekitar 20 orang dilakukan di Kantor Wakaf Jeddah. Untuk ini beliau keluar sebentar dari rumah sakit dan setelah rapat selesai kembali lagi ke rumah sakit. Dalam berbagai pertemuan ini beliau secara sangsat serius mengatakan keinginannya agar utusan dari Aceh membantu beliau sehingga jemaah haji asal Aceh dpat mengambil manfaat dari rumah Wakaf habib Bugak ini secepatnya. Beliau berulang-ulang mengatakan tidak puas dan meras berdosa sebelum sebagian hasil wakaf ini dimanfaatkan oleh Jemaah haji asal Aceh, karena tugas utama beliau sebagai Nazhir adalah  menjadikan jemaah haji asal Aceh dapat mengambil manfaat dari wakaf ini.
Takdir Allah berlaku, beliau wafat beberapa minggu setelah pertemuan dengan rombongan dari Aceh, sebelum musim haji tahun 1424 H (2004 M). Setelah ini Mahkamah menunjuk sebuah Dewan Nazhir di bawah pimpinan anak beliau Munir bin Abdul Ghani Asyi sebagai ketua, serta Dr Abdul Lathif Balthu Balthu sebagai tenaga ahli/penasehat dan Khalid bin Abdurrahim bin Abdul Wahab Asyi sebagai sekretaris seperti telah diuraikan di atas.
Pada tahun 2005 Rombongan Nazhir Wakaf yang terdiri dari ketiga orang di atas berkunjung ke Aceh betemu dengan Gubernur waktu itu, Mustafa Abubakar. Pada waktu ini ditandatangani sebuah kesepakatan yang intinya:
  1. Nazhir wakaf untuk jangka pendek akan mengganti sewa rumah penginapan di Mekkah yang dibayarkan oleh jemaaah haji Aceh, maksimal sebesar sewa ril yang dibayar Konsulat HajiIndonesianamun begitu disesuaikan juga dengan kemampaun  keuangan wakaf.
  2. Teknis pelaksanaan pembayaran akan diatur oleh  Nazhir dan untuk itu PEMDA Aceh akan mengirimkan utusan untuk membantu Nazhir.
  3. PEMDA Aceh akan mengirimkan nama-nama jemaah haji asal Aceh kepada Nazhir secepat nama itu diketahui dan akan mengeluarkan kartu tanda pengenal kepada setiap jemaah asal Aceh, sesuai dengan kloter dan maktabnya.
  4. Hanya mereka yang mendapat kartu ini yang akan diberi uang pengganti sewa rumah oleh Nazhir.
  5. Konsulat haji Indonesia di Jeddah diharapkan akan memberikan data tentang rumah yang akan ditempati jemaah haji asal Aceh beserta besar uang sewanya.
  6. Untuk jangka panjang Nazhir akan membangun rumah sebagai tempat penginapan jemaah haji asal Aceh, dan setelah rumah itu selesai jemaah haji asal Aceh akan tinggal disana.
  7. Menunjuk Bapak Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh) sebagai penghubung/wakil PEMDA Aceh dalamsuratmenyurat atau pembicaraan dengan Dewan Nazhir (Sekretaris Dewan Nazhir).
  8.  Sebelum dilaksanakan, kesepakatan ini perlu memperolah persetujuan dari Menteri AgamaIndonesia, Menteri Haji Arab Saudi dan Gubernur Aceh.
Kesepaktan ini ditandatangani oleh kedua belah pihak, yaitu tiga orang Nazhir yang datang ke Aceh serta wakil PEMDA Aceh yang ikut dalam pembicaraan yaitu Ketua MPU Aceh (Muslim Ibrahim), Imam Besar masjid Raya Baiturrahman (Azman Ismail), Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh (Al Yasa’ Abubakar), Kepala Biro Sosial selaku Pejabat Asisten III SETWILDA Aceh (Saifuddin Abdurrahman) dan Kepala  Kantor Wilayah Departemen Agama Aceh (Ghazali Mohammad Syam).
Gubernur Aceh melaporkan hasil pertemuan ini kepada Menteri Agama, dan memohon saran serta petunjuk tentang tindakan yang mungkin diambil dan dikomunikasikan dengan Nazhir. Karena tidak ada keberatan dari pihak Aceh dan tidak mengganggu kebijakan pelaksanaan haji yang digariskan Pemerintah Indonesia, maka Menteri Agama Agama Indonesia memberikan persetujuan melalui Konsul Haji di Jeddah dengan tambahan syarat, kegiatan yang dilakukan oleh nazhir dan PEMDA Aceh ini tidak merusak atau bertentangan dengan rencana kerja/kesepakatan yang dibuat oleh Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Arab Saudi.   Departemen Haji Arab Saudi pun memberikan dukungan, denan syarat tidak akan merugikan jemaah haji Aceh dan tidak menganggu pelakanana ibadah haji mereka.
Dengan adanya persetujuan dari kedua pemerintah ini, maka Nazhir Wakaf Habib Bugak Asyi, pada musim haji Tahun 1427 H (2006 M) merealisasikan penggantian uang sewa rumah jamaah haji asal Aceh selama di Mekkah sebesar sewa yang telah dibayar Pemerintah Indonesia kepada pemilik rumah, yang besarnya berkisar antara SR 1.100,- s/d SR 2.000,-. Uang ini dibayarkan dalam bentuk Rial Saudi diserahkan secara langsung oleh Nazhir kepada setiap jemaah. Pada tahun 1428 H (2007 M) Nazhir kembali membayarkan uang sewa kepada setiap jemaah haji asal Aceh sebesarUS$ 337.- lebih kurang   SR 1250,-. Uang ini dibayarkan dalam bentuk cek kepada setiap jemaah dan tidak dapat diuangkan di Mekkah (Arab Saudi). Cek ini harus diuangkan di Aceh pada salah satu kantor Bank BNI. Seperti terlihat jumlah yang dibayarkan Nazhir pada tahun  1428 lebih kecil dari jumlah yang dibayarkan pada tahun 1427 H, karena disesuaikan dengan kemampuan keuangan Nazhir (Wakaf). Jemaah yang menerima penggantian uang sewa rumah ini adalah jemaah yang membawa Kartu Tanda Pengenal Jemaah Haji asal Aceh yang ditandatangani oleh Gubernur Aceh.
Mengenai gedung yang dibangun di atas dua petak tanah wakaf di daerah Ajyad, sudah dilakukan oleh dua orang investor: sebuah bernama FUNDUQ AJYAD (HOTEL JIYAD, terdiri atas 25 lantai, berjarak sekitar 600 meter dari Ka’bah) dan sebuah lagi BURJ AJYAD (MENARA JIYAD, 28 lantai, 800 meter dari Ka’bah). Kedua hotel ini dilengkapi dengan pertokoan, lapangan parkir, mushalla, ruang-ruang rapat dan akan dapat menampung sekitar 3500 jamaah pada setiap musim haji. Kedua gedung ini akan dikelola oleh investor selama 20 tahun sebagai ganti dari biaya yang mereka tanamkan, dan baru setelah itu (pada tahun 1448 H – 2027 M) diserahkan kepada Nazhir dan penuh menjadi milik wakaf. Dapat ditambahkan, walaupun belum sempurna, mulai tahun 1428 yang lalu, gedung ini sudah ditempati jemaah haji (disewakan oleh investor) dan mulai musim haji tahun 1429 H,  kedua gedung ini diharapkan sudah beroperasi secara penuh.
Sedang gedung yang satu lagi, yang terletak di belakang Madrasah Tsanawiyah Aziziyah dignkana sebagai tempat tinggal keluarga asa Aceh yang sudah menjadi penduduk Mekkah dan juga sebagai Kantor Nazhir Wakaf.
Mengenai gedung keempat, yang akan menjadi tempat tinggal jemaah haji, sudah mulai dibangun oleh Nazhir pada awal tahun 1429 yang lalu dan sekiranya tidak ada halangan pada musim haji 1430 H nanti sudah dapat ditempati oleh jemaah haji aal Aceh.
Selain ini  Nazhir juga menyewa beberapa buah rumah sebagai tempat tinggal keluarga Aceh  yang sudah menjadi penduduk Mekkah, yang tidak tertampung di gedung Aziziyah tadi.
Sebagai penutup, dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal:
  1. Baitul Asyi yang ada di Mekkah adalah wakaf salah seorang dermawan Aceh yaitu Tgk Haji Habib Bugak, untuk tempat tinggal (penginapan) jemaah haji asal Aceh. Jadi rumah tersebut bukan milik rakyat Aceh, bukan warisan dari Sultan Aceh masa lalu dan karena itu bukan milik Pemerintah Aceh. Penulis ulangi, rumah ini adalah rumah wakaf yang sudah berumur dua ratus tahun lebih, dan Alhamdulillah karena kesungguhan Nazhir menjaga dan merawatnya wakaf tersebut masih ada dan selamat sampai sekarang bahkan terus berkembang.
  2. Pemanfaatan rumah wakaf ini untuk kesejahteraan jemaah haji asal Aceh (seperti disebutkan di dalam Akta Ikrar Wakaf) , bukan hanya tergantung kepada kesungguhan dan perhatian Nazhir, tetapi juga tergantung kepada kebijakan Pemerintah Arab Saudi dan PemerintahIndonesia. Karena itu keterlibatan PEMDA Aceh sebagai  wakil jemaah Haji Aceh amat sangat diperlukan. Penulis berharap Pemerintah Aceh akan tetap dan terus pro aktif seperti sudah ditunjukkan sekarang ini.
  3. Karena harta kekayaan ini merupakan wakaf, maka pengelolaannya harus disesuaikan dengan syarat-syarat yang ditentukan wakif (sepeti tertera dalam ikrar wakaf) serta aturan mengenai wakaf yang berlaku di Arab Saudi. Campur tangan atau keinginan jemaah, bahkan PEMDA Aceh mengenai penggunaan atau pengelolaan wakaf ini, akan dipertimbangkan oleh Nazhir apabila sesuai dengan syarat wakif, sesuai dengan aturan wakaf di Arab Saudi dan sejalan pula dengan kebijakan Nazhir itu sendiri. Permintaan dan keinginan jemaah di luar itu pasti tidak akan diterima, bahkan ada yang tidak boleh diterima karena bertentangan dengan hukum yang berlaku Arab Saudi. Misalnya keinginan dan permintaan sebagian jemaah agar uang hasil wakaf ini dikirimkan ke Aceh untuk membiayai pendidikan di Aceh, akan sukar diterima oleh Nazhir karena tidak disebutkan di dalam ikrar wakaf.
  4. Nazhir ketika membagi-bagikan uang wakaf  kepada jemaah haji asal Aceh selalu menyampaikan/ mengharapkan tiga hal: a) Agar jemaah haji Aceh berdo’a untuk Teungku Habib Bugak yang telah mewakafkan rumah ini serta untuk semua nazhir yang sudah meninggal dunia yang telah mengelola wakaf ini dengan baik, agar memperoleh pahala  yang setimpal dari Allah swt; serta berdo’a juga untuk Nazhir yang ada sekarang dan Nazhir di masa yang akan datang agar mereka memperoleh kekuatan dan kemampuan untuk mengelola wakaf ini dengan ikhlas dan sungguh-sungguh sehingga wakaf ini semakin berkembang, sesuai dengan aturan yang berlaku. b) Agar jemaah haji Aceh memanfaatkan uang yang mereka terima dari harta wakaf ini secara baik,bahkan kalau mungkin mensedekahkan sebagian daripadanya di jalan Allah, menolong orang yang memerlukan atau membiayai kegiatan kebajikan dan keagamaan. c). Agar jemaah Haji Aceh melaksanakan semua ibadat haji dengan tekun dan ikhlas sehingga menjadi haji mabrur, tidak bergunjing dan tidak memfitnah.
  5. Penulis juga berharap semoga jamah haji Aceh yang telah mendapat manfaat dari wakaf ini bersyukur dengan tulus, menjaga silaturrahim dengan Nazhir, serta berdo’a agar Wakif mendapat pahala yang berlimpah atas amal jariah yang telah dia tanam sejak 200 tahun yang lalu dan Alhamdulilah  sampai sekarang masih kita nikmati hasilnya, serta berdo’a untuk Nazhir agar tetap mampu mengelola dan mengembangkan wakaf ini sesuai dengan syarat wakif; hendaknya jemaah juga berdo’a agar ada orang kaya Aceh sekarang yang bersedia menyisihkan hartanya sebagai wakaf, guna kesejahteraan generasi Aceh yang akan datang, baik di tanah Aceh ataupun di tempat lain.
  6. Penulis tidak mengetahui siapa Teungku Habib Bugak Asyi  yang telah mewakafkan rumah yang sangat berharga ini. Di Aceh ada beberapa tempat yang menggunakan nama “Bugak”. Mungkin yang paling dikenal adalah Bugak di Kabupaten Bireun; namun di Aceh Timur ada kampung  yang bernama Kuala Bugak (karena itu mungkin dahulu pernah ada kampong yang bernama Bugak),  dan di Bener Meriah pun ada kampung yang bernama Bugak, terletak di tepi Sungai Jambo Aye (Jemer) antara Rusip dan Samarkilang. Kampung Bugak ini telah ditinggalkan penduduknya sejak beberapa waktu yang lalu, sehingga sekarang ini hanya merupakan dusun kecil dengan beberapa buah rumah/keluarga saja. Mungkin di daerah pantai barat dan selatan pun ada kampung yang bernama Bugak. Lepas dari semua keadaan dan kemungkinan yang ada, barangkali mencari siapa Habib Bugak tidaklah terlalu penting. Semangat beliau beribadat, mewakafkan sebagian hartanya yang sangat berharga untuk kemaslahatan umat perlu kita tiru. Hendaknya ada orang kaya Aceh sekarang yang dermawan seperti Habib Bugak, yang bersedia mewakafkan sebagian hartanya untuk kemaslahatan umat. Penuois yakin kalau hal ini dilakukan, maka banyak orang yang akan berdo’a untuknya, dan namanya akan dikenang karena amal jariah yang dia lakukan.
  7. Mengambil ibarat dari semua ini, sekiranya wakaf yang ada di Aceh kita kelola dengan baik seperti Nazhir di mekkah mengelola Wakaf Habib Bugak, tentu banyak manafaat yang akan kita ambil: banyak kegiatan pendidikan dan sosial keagamaan yang dapat kita biayai secara mudah. Karena itu hendaknya jemaah yang membaca tulisan ini berusaha menyelamatkan harta wakaf yang ada di daerahnya masing-masing, antara lain dengan menjelaskan status wakaf harta tersebut, memberdayakan dan mengaktifkan Nazhir, serta berupaya memanfaatkannya secara optimal sesuai dengan syarat yang dibuat oleh wakif, bahkan kalau mungkin menambahnya dan memperluasnya dengan harta wakaf yang baru.
Akhirnya kepada Allah yang Maha Agung kita berlindung dan berserah diri, kepada Nya kita memohon hidayah dan petunjuk serta kepada Nya pula kita persembahkan amal dan bakti. Amin.

copas dari : http://alyasaabubakar.com/2012/09/mengenal-wakaf-habib-bugak-asyi/
Read more...