Siang itu di Letda Sujono
Tiba-tiba saja kerumunan massa lewat di depan masjid itu, mereka menyeret dua orang lelaki yang diikat tangannya, kepalanya berdarah... darahnya berhamburan di wajahnya, Dua orang polisi menyeretnya seperti menarik kambing.
Seorang Tinggi berbadan bagus, wajahnya berlumuran darah, temannya lebih pendek, meski di seret massa, sepertinya di begitu pasrah, tatapan mata kami beradu.. tiba-tiba saja jantungku berdegup keras, meski berlumuran darah... wajahnya nampak seperti tersenyum saja....
"Kesalahan apakah gerangan yang telah diperbuatnya, hingga wajahnya begitu hancur?"
Di Depan Kantor Polisi itu aku berhenti, dan bertanya pada seorang anak muda di sebelah ku.
"kenapa dia bang, dek?"
"Ah... apa abang gak liat?? habis mukanya dipukuli..., rampok, bang..." katanya bersemangat
"Ngerampok apa, ya?" tanyaku lagi.
"Rampok, baaang.... jambrettt...." jawabnya dengan logat Medan.
Apakah memang harus begitu menghakimi seorang jambret? ih..... ngeri bah....
Sungguh kasihan abang itu, dia harus merampok
Dan massa telah menghakiminya.
Aku bingung saja... KOK BISA BEGITU, YA... antara kasihan dan kasihan......
Ah.. Entah lah mak rossss
0 komentar:
Posting Komentar