Pages

Banner 468 x 60px

 

Jumat, 21 September 2012

OOhh.... Bapak itu...

0 komentar
         Sejak mulai mengangkat takbir pada sholat Ashar hari itu, aku mendengar suara orang yang sedang berbicara melalui Handphone dengan suara keras, mengganggu suasana keheningan masjid dan kekhidmatan sholat ku, suaranya yang keras dengan tema ceritanya tentang ibadah dan amalan yang sedang dia lakukan.
"Apa kabar ustadz...... saya sedang mengamalkan puasa daud nih.... sehari puasa, sehari tidak, yach..... untuk kesehatan lah.. ustadz....."
suaranya begitu keras sampai aku mengucapkan salam, dan ku pandang bapak itu dengan sorotan yang kesal, lama ku tatap matanya yang masih saja memegang HP, sengaja ku nampakkan rasa tergangguku dengan tatapan itu, sorot mata kami beradu lama, dia tetap saja berbicara sekitar 3 meter di belakangku, berbaju safari biru, pakai lobe warna hitam, suaranya yang besar menggema itu sudah kubayangkan sejak tadi besar badannya yang berdiameter 80, aku terbayang besarnya badan teman ku si Gafur yang beratnya lebih 1 kuintal, dengan tinggi badan sekitar 190 cm". Sambil berzikir aku tatap terus matanya, tapi dia tambah bersemangat dengan ceritanya.

Hari itu pertama kali aku melihatnya dan membuat kesan di benakku, dan memang ternyata "kesan pertama begitu menggoda" selanjutnya... aku tak suka lagi.....

Sholat magrib hari itu, aku melihat bapak itu lagi, di masih saja duduk di tempat yang sama waktu menelpon tadi siang, kali ini di hadapannya ada tas rangsel, air minum dan dia membuka bungkusan yang berisi nasi dan lauk pauk, mungkin dia sedang berbuka puasa daudnya, dihadapan jama'ah yang berseliweran sehabis mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat magrib, dia berada di tengah-tengah orang lewat sambil mengunyah makannya.... begitu lahap dan tak perduli dengan orang di sekelilingnya yang, padahal di masjid itu ada  loteng yang tidak di pakai untuk sholat dan letaknya dibagian paling belakang, dan tak terlalu tinggi.

Keesokan harinya... aku melihat bapak itu lagi duduk di tempat biasa pada waktu Ashar, sambil membuka-buka lembaran kertas, dihadapannya ada tas rangsel berwarna hitam, kali ini dia tidak sedang menelpon, Ah.. bapak ini.. disini lagi.....gumamku masih kesal dengan suara bisingnya kemarin.

Pada hari selanjutnya.....Magrib itu aku masbuq, imam sudah mengangkat takbir, aku buru-buru mengambil menuju tempat mengambil air wudhu', aku melewati bapak itu lagi yang masih saja duduk disitu, duduk bersila sambil membuka bungkusan makannya, dan makan dengan lahapnya seperti hari kemarin. Setelah mengambil wudhu..... bapak itu tak ada lagi di situ, tapi sudah masuk dalam barisan sholat, aku terlambar 1 rakaat, karena jama'ah sudah duduk diantara dua sujud pada rakaat pertama. Saat imam memberi aba-aba untuk sujud, semua jama'ah sujud, kecuali BAPAK ITU..... dengan mendongakkan kepalanya ke langit dan bersuara.. uakkk..uaaak.. uakkk...., dia bersendawa dengan kerasnya berkali-kali sambil lehernya turun naik-turun naik... aku bertambah heran...... dan aku lama terpana memandangnya sendirian duduk, belum juga ikut sujud sesuai perintah imam pada saat  yang lain pada sujud, sepertinya dia kekenyangan habis makan tadi di tempat biasa,

Kemarin..... aku sholat magrib pada shaf pertama, pada saat duduk diantara dua sujud, imam  memberi aba-aba untuk sujud.... semua makmum bersujud... kecuali DIA.... yaa... kecuali dia... aku tahu itu... karena aku mendengar suara.. uaaak....uuwwaakkkk..ewakk....... panjang sekali, ternyata Bapak itu tepat di belangku.....  dan seperti hari-hari yang lalu... di bersendawa dengan keras saat kami semua sudah sujud...

Ohh... bapak itu membuat ku jengkel, dan aku bertemu dengannya setiap hari....
Ya Allah.... mengapa engkau pertemukan aku dengan Bapak itu setiap hari..... kalau ada mesjid yang lain di tempat kerjaku ini, aku akan sholat di tempat lain, tapi aku hanya bisa sholat disini, yang bersebelahan dengan tempat ku bekerja, yang hanya dikasi waktu sebentar untuk sholat zuhur, ashar dan magrib.
Setiap hari aku melihat Bapak itu duduk sendirian, dan ditangannya ada saja yang dipegang, entarh kertas, entah HP atau tasnya yang sedang di obok-oboknya, bapak itu tidak bisa diam, dia selalu duduk sendirian sementara yang lain berkumpul dengan kelompok-kelompoknya masing-masing, sepertinya dia tidak punya teman di masjid ini, tak ada yang mau  menemaninya ngobrol.

Ya Rabb...Apakah yang sedang Engkau ajarkan padaku... Apakah Engkau sedang mengajariku membuat penilaian terhadap hambamu yang bermacam ragam ini dari "kulit"nya?
Ya Allah... aku benar-benar jengkel, tapi aku tak berani membuat penilaian itu..... hanya Engkaulah yang berhak menilai, mungkin dia lebih baik dariku.

0 komentar:

Posting Komentar