Pages

Banner 468 x 60px

 

Jumat, 21 September 2012

Bapak itu (II)

0 komentar
Hari ini aku sholat Ashar sendirian, aku ketinggalan jama'ah, waktu berwudhu tadi, aku melihat seorang orang tua kurus, berbadan kecil, dengan gerakannya yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, mungkin usianya sekitar 65 tahunan.
Sudah sejak lama aku ingin berjabat tangan dan ngobrol dengannya. Di masjid ini aku melihatnya beberapa kali, mungkin 3 atau 4 kali, tapi sebelumnya aku pernah melihatnya di Masjid Raya waktu akan melaksanakan sholat, dan juga beberapa kali aku lihat di di tengah jalan sambil membentangkan poster pada saat lampu merah, poster itu berisi tulisan seperti koran berukuran sekitar 80x70 cm, pernah sekali aku membacanya, isinya kurang lebih "aku di fitnah, di kejar-kejar ingin dibunuh, karena aku memiliki gagasan dan penemuan yang bisa membuat orang pintar dalam waktu sekejap, mereka ingin menjual penemuanku".

Sepintas lalu bapak itu terlihat seperti pengemis, tapi dia mengenakan jas, dari jauh seperti pakaian gembel, tapi kalau di perhatikan secara seksama, pakainnya rapi dan bersih, lalu aku pikir.. ah.. mungkin orang gila.

Tapi sejak beberapa kali aku berjumpa dengannya di masjid dan sholat berjam'ah dengannya, aku tidak lagi berfikir bahwa bapak itu gila, aku tambah penasaran. bulan ramadhan tahun lalu, aku bersamanya sholat jama'ah magrib, dan poster-poster kertas berwarna putih itu di lipatnya, dan diletakkanya di pintu masjid berdekatan dengan tas dan barang-barangnya yang lain. Dia sholat dengan khidmat dan tenang... tidak mungkin bapak itu orang gila.

Hari ini... aku bertemu dengannya lagi di masjid ini, pada rakaat 3 Ashar ku, dia lebih duluan selesai, dalam sholat itu sempat terbesir fikiranku.... ah.. bapak itu mungkin sudah pergi, aku tak sempat berbincang-bincang dengannya. Tapi aku mendengar suaranya memanggil anak-anak yang sedang bermain di teras masjid itu, dan menyuruh mereka berkumpul di depannya, aku dengar anak-anak itu tertawa riang, sambil berakata.... "ah.. kakek ini pande sulap....". he.he.e.. dalam shalat fikiranku tertuju pada bapak tua itu.

Setelah salam, aku berzikir sebentar, tak lagi menengadahkan tangan untuk berdo'a, buru-buru aku hampiri bapak itu yang masih di kerumuni anak-anak kecil, ternyata dia sedang memainkan sulap dengan  kartu joker, aku duduk disebelahnya, dan dia memberiku 1 buah kartu, "anda pegang kartu ini" katanya tiba-tiba. Kartu itu kuterima, dan juga kepada anak-anak lain, dan semua kartu yang kami pegang sama bentuknya..... memang sulap....

Setelah permainan usai, lalu dia bicara ke arahku dengan tatatapan matanya yang lembut dan bicaranya perlahan.
"kawan itu lebih penting dari pada harta, kalo punya harta tapi tak punya kawan... apalah nikmatnya hidup ini,  dan kalo tak punya harta tapi punya kawan banyak, kita tak khawatir dan pasti bisa hidup, menyenangkan hati orang dan membuatnya gembira tentu akan menambah kawan, maka buatlah orang gembira, agar kamu dapat kawan".

Aku hanya termangu dan meresapi kata-katanya, sambil berfikir.... siapa sebenarnya bapak ini? aku masih penasaran... gagasan dan ide apa yang diapunya, yang pernah kubaca di poster yang selalu dibentangkannya di hadapan orang-orang yang sedang menunggu lampu merah itu?

Lalu dia melanjutkan ceritanya.
Saya punya permainan, dan permainan itu sederhana, tapi bisa membuat orang senang dan gembira, dan dia akan menjadi kawan anda. Lalu dia menujuk Nomor polisi sebuah sepeda motor yang berada di depannya, "kamu lihat BK (Nomor Polisi Prov Sumut), BK 4469 XF, angka 4469 itu jika di kalikan 2x2x2x2x2x2x30x10x3, saya bisa menjumlahkannya dengan cepat dengan metode penemuan saya sendiri"

Dia mengeluarkan kalkulator dari sakunya, dan dihadapkan kepada saya, sementara di mengucapkan angka, sambil menekan kalkulator, dan pada saat menjumlahkan hasilnya, di berhenti menekan tanda sama dengan (=), "hasilnya adalah......... sekian.." katanya sambil menekan tanda "=" di kalkulator, dan sangat luar biasa, angka yang muncul di kalkulator dan yang diucapkannya sama dan tidak salah sedikitpun.

Selanjutnya dia mengeluarkan potongan-potongan kertas dari saku baju jasnya, lalu berkata "saya punya permainan yang membuat orang gembira, saya bisa menebak tanggal dan bulan lahirmu dengan kertas ini" potongan kertas yang berukuran 10 cm persegi, sudah bertulis angka-angka acak yang tidak ku mengerti apa maksudnya. lalu dia memintaku... menunjuk kertas-kertas itu, "dimana ada tanggal lahirmu disini, jangan sebutkan, biar ku tebak, sebutkan saja di potongan kertas yang mana..." aku menunjuk salah satu kertas yang memiliki angka acak banyak sekali, "disini ada pak" jawabku sambil menunjuk 1 potongan kertas, spontan dia mengatakan "tanggal lahirmu tanggal 2 Februari".
Aku mengangguk dan penasan..."bagaimana caranya bapak bisa menebak dengan angka-angka acak ini?" dia mengajariku caranya, dan memberi potongan kertas itu satu paket yang sudah dibungkus-bungkusnya dengan plastik es, setiap plastik yang sudah di lem dengan api itu berisi 4 lembar potongan kertas yang berisi angka..."ini saya jugal 10.000 satu paket" tidak ada istimewanya.. hanya untuk permainan, kalo anda suka boleh anda beli."
Sebenarnya saya tidak tertarik untuk memilikinya, tapi aku juga ingin membelinya untuk menyenangkan hatinya, dia sudah berusaha untuk berjualan meski jualan sekecil itu, tapi aku sungguh tidak punya uang waktu itu, hanya ada Rp. 1.500 dikantongku.
"Saya mau, pak.. tapi maaf... saya tidak bawa uang sebanyak itu kali ini".
"Ambillah.... jika kapan-kapan kita bertemu dan kamu sudah punya uang, bayar lah, tapi jika tidak ada, bawa sajalah...."
Aku terima kertas itu, dan dia mulai bercerita tentang temuan-temuan dan ide serta gagasannya yang selama ini membuat aku penasan...... tapi aku sudah terlalu lama duduk di sini, semestinya aku sudah harus masuk kerja, "maaf pak, saya harus masuk kerja, nanti kita ngobrol lagi" aku minta izin, aku sudah terlambat 1 jam, dan masih penasaran dengan BAPAK ITU.
Tapi aku benar-benar senang dan gembira ngobrol dengannya
Seperti bapak itu sendirian dan hidup sebatang kara..... tapi dia tetap rajin ke masjid....YA RABB... APAKAH AKU AKAN BEGINI KELAK.... SEPERTI BAPAK ITU, SEPI DI HARI TUANYA...

0 komentar:

Posting Komentar