Minggu pertama masuk kerja, saya sering terlambat sholat jama'ah di masjid itu, karena saya belum tahu karakter si Bos jika saya meninggalkan pelanggan saat adzan berkumandang, jadi sering masbuq bahkan shalat infirody meski tetap di masjid.
Shlat ashar hari itu saya sendirian, sewaktu saya hendak berdiri tegap dan memasang niat dalam hati, seorang bapak tua berjalan di sampingku dengan gerakannya yang lambat, baju abu-abu dan celana panjang coklat pramuka dengan lobe putih dikepalanya, tak begitu saya hiraukan, saya langsung takbir. Baru saja mulut ini mengucapkan takbiratul ihram "Allah Akbar", terasa ada yang mencolek bahuku, saya sudah mengerti, bahwa ada seorang yang menjadi makmum dibelakangku, tak jauh... hanya jarak sejengkal, dan sikut tangannya menyentuh sikut ku, saya mulai mengeraskan takbir setiap dalam gerakan sholat.
Bapak tua yang tadi kulihat... ternyata dia yang mengikut jadi makmumku, karena saya tahu dia tua dan lamban... saya memperlambat gerakan dan menunggunya selesai membaca dan bergerak.. tapi bapak itu terlalu lamban. pada rakaat kedua setelah sujud saya berdiri, dan bapak itu ternyata tak sanggup lagi berdiri, dia meneruskan dengan sholat duduk.
Setelah salam, saya menjabat tangannya dan memperhatikan wajahnya yang sahdu, bersih dan bersinar karna air wudhu..... masih nampak garis-garis kekhusukan di wajahnya, pasti dia orang yang sholeh, pikirku.....saya sangat senang hari ini bisa menjadi imam seorang yang sholeh...
Saat waktu magrib tiba..... Alhamdulillah saya sempat berjama'ah, dan bapak itu tepat di sampingku, seperti waktu ashar tadi, dia hanya mengikuti takbir pertama dengan berdiri, pada rakaat kedua dia sudah duduk dan tak berdiri lagi hingga sholat magrib usai, aku mundur beberapa centimeter dari sampingnya, dan memperhatikan gerakan mulut, wajah dan matanya sambil aku berdzikir, kerut-kerut di keningnya terlalu nampak tapi lembut tak terlalu tajam, tapi tetap nampak syahdu dan enak di pandang mata mesti dia sudah tua.
Mungkin umurnya sekitar hampir 80 tahun, saya tak tau dirumahnya, yang saya tahu dia selalu ada sholat berjama'ah ketika saya ada disitu, dia sudah tua dan lemah, dan tetap memaksakan diri untuk ke masjid, saya masih kuat dan mampu untuk berjalan.. jauh lebih kuat dari bapak itu, tapi hatiku tak sekuat bapak itu untuk mencapai masjid, sepertinya adzan bukan suara yang istimewa untuk di segerakan dari kegiatan apapun untuk menyambutnya.
Begitu pentingkah baginya sholat di masjid berjama'ah? dan tidak begitu pentingkah bagiku untuk sholat berjama'ah di masjid? seberapa pentingkah sholat ini untuk dikerjakan?
Konon kabarnya, Khalifah Umar Bin Khattab dulu..... beliau sangat gembira ketika adzan tiba, dan menyongsong suara itu dengan segera, katanya...... "waktu yang paling istimewa dan menggembirakannya adalah waktu sholat, tidak ada waktu yang menyenangkan hatinya kecuali waktu sholat... ". Karena sholat adalah audiensi dengan Allah secara langsung. Mungkin melebihi senangnya anak muda zaman sekarang dalam menyambut malam minggu untuk ngapel ke rumah kekasihya, dengan pakain yang bagus dan wewangian, serta rambut yang klimis.
Kalau sholat itu hanya rutinitas spiritual yang biasa-biasa saja, mengapa dia dijadikan sebagai solusi dalam menangani problem yang tak terpecahkan saat kita mengalami sebuah kebuntuan dan pada saat tak ada lagi teman atau saudara yang bisa menolong, cuma ada satu jalan..... dengan firmanNYA "Wasta'inu bishobri wash sholah (Meminta tolonglah (kepada Allah) melalui Sholat dan Sabar"
Ya..... cuma itu.... SHALAT lalu BERSABARlah......sholatnya mungkin mudah... tapi sabarnya yang agak sulit..... :-)
Sabaaar yaa...... Pasti kamu akan di beri jalan keluar.... entah kapan.. tapi tunggu saja... sabar.. sabar itu tiada terbatas... batasnya adalah surga....
Shlat ashar hari itu saya sendirian, sewaktu saya hendak berdiri tegap dan memasang niat dalam hati, seorang bapak tua berjalan di sampingku dengan gerakannya yang lambat, baju abu-abu dan celana panjang coklat pramuka dengan lobe putih dikepalanya, tak begitu saya hiraukan, saya langsung takbir. Baru saja mulut ini mengucapkan takbiratul ihram "Allah Akbar", terasa ada yang mencolek bahuku, saya sudah mengerti, bahwa ada seorang yang menjadi makmum dibelakangku, tak jauh... hanya jarak sejengkal, dan sikut tangannya menyentuh sikut ku, saya mulai mengeraskan takbir setiap dalam gerakan sholat.
Bapak tua yang tadi kulihat... ternyata dia yang mengikut jadi makmumku, karena saya tahu dia tua dan lamban... saya memperlambat gerakan dan menunggunya selesai membaca dan bergerak.. tapi bapak itu terlalu lamban. pada rakaat kedua setelah sujud saya berdiri, dan bapak itu ternyata tak sanggup lagi berdiri, dia meneruskan dengan sholat duduk.
Setelah salam, saya menjabat tangannya dan memperhatikan wajahnya yang sahdu, bersih dan bersinar karna air wudhu..... masih nampak garis-garis kekhusukan di wajahnya, pasti dia orang yang sholeh, pikirku.....saya sangat senang hari ini bisa menjadi imam seorang yang sholeh...
Saat waktu magrib tiba..... Alhamdulillah saya sempat berjama'ah, dan bapak itu tepat di sampingku, seperti waktu ashar tadi, dia hanya mengikuti takbir pertama dengan berdiri, pada rakaat kedua dia sudah duduk dan tak berdiri lagi hingga sholat magrib usai, aku mundur beberapa centimeter dari sampingnya, dan memperhatikan gerakan mulut, wajah dan matanya sambil aku berdzikir, kerut-kerut di keningnya terlalu nampak tapi lembut tak terlalu tajam, tapi tetap nampak syahdu dan enak di pandang mata mesti dia sudah tua.
Mungkin umurnya sekitar hampir 80 tahun, saya tak tau dirumahnya, yang saya tahu dia selalu ada sholat berjama'ah ketika saya ada disitu, dia sudah tua dan lemah, dan tetap memaksakan diri untuk ke masjid, saya masih kuat dan mampu untuk berjalan.. jauh lebih kuat dari bapak itu, tapi hatiku tak sekuat bapak itu untuk mencapai masjid, sepertinya adzan bukan suara yang istimewa untuk di segerakan dari kegiatan apapun untuk menyambutnya.
Begitu pentingkah baginya sholat di masjid berjama'ah? dan tidak begitu pentingkah bagiku untuk sholat berjama'ah di masjid? seberapa pentingkah sholat ini untuk dikerjakan?
Konon kabarnya, Khalifah Umar Bin Khattab dulu..... beliau sangat gembira ketika adzan tiba, dan menyongsong suara itu dengan segera, katanya...... "waktu yang paling istimewa dan menggembirakannya adalah waktu sholat, tidak ada waktu yang menyenangkan hatinya kecuali waktu sholat... ". Karena sholat adalah audiensi dengan Allah secara langsung. Mungkin melebihi senangnya anak muda zaman sekarang dalam menyambut malam minggu untuk ngapel ke rumah kekasihya, dengan pakain yang bagus dan wewangian, serta rambut yang klimis.
Kalau sholat itu hanya rutinitas spiritual yang biasa-biasa saja, mengapa dia dijadikan sebagai solusi dalam menangani problem yang tak terpecahkan saat kita mengalami sebuah kebuntuan dan pada saat tak ada lagi teman atau saudara yang bisa menolong, cuma ada satu jalan..... dengan firmanNYA "Wasta'inu bishobri wash sholah (Meminta tolonglah (kepada Allah) melalui Sholat dan Sabar"
Ya..... cuma itu.... SHALAT lalu BERSABARlah......sholatnya mungkin mudah... tapi sabarnya yang agak sulit..... :-)
Sabaaar yaa...... Pasti kamu akan di beri jalan keluar.... entah kapan.. tapi tunggu saja... sabar.. sabar itu tiada terbatas... batasnya adalah surga....
0 komentar:
Posting Komentar