Anda tak percaya? Bahwa memulai usaha itu diawali dengan langkah yang paling kecil, sebagai bukti bahwa kita sudah action, meski dengan seadanya, Ya.. Seadanya.. tak perlu malu.
Saya akan ceritakan bagaimana saya memulainya, sebagai bukti bahwa kalimat itu adalah benar.
Beberapa tahun lalu, saya tinggal di Medan tanpa pekerjaan dan penghasilan yang semestinya, hanya sebatas bisa bertahan hidup (tidak mati) saja, itu sudah cukup bagi saya.
Dengan bantuan seorang teman, saya dimasukkan ke sebuah percetakan di dekat sebuah Kampus ternama di Sumatera Utara sebagai Desainer, padahal saya cuma desainer Amatiran. Agak berat memang, karena biasanya pekerjaan saya diselesaikan dan dibantu oleh orang lain, tapi pada saat itu saya pula yang mesti harus membantu dan menyelesaikan pekerjaan orang lain.
Satu bulan saya bekerja di situ, sebagai desainer, yang harus menggunakan Potoshop dan Corel, padahal saya tidak begitu mahir menggunakan dua software itu, tapi keadaan sering kali memaksa kita untuk harus bisa. Selama bekerja, ada yang aneh saya perhatikan disitu, Toko itu menerima segala jenis bahan cetakan, mulai spanduk, undangan, kartu nama, ID card dan banyak lagi.
Biasanya setiap adzan zuhur saya izin ke masjid yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat saya bekerja, Tapi hari itu saya terlambat, dan harus shalat di tempat kerja, Si bos mengajak saya sholat Jamaah bersamanya.
"Ayo yar, sudah jam 2, kita sholat",
Saya pun mengikuti langkahnya, dan meninggalkan meja kerja. Sebenarnya saya sudah lama penasaran, ingin melihat mesin Cetaknya, karena setiap orderan yang diterimanya, konsepnya di taruh di mejaku, setelah selesai saya desain, dia mengambil softcopynya, saya tidak pernah melihat bagaimana Finishingnya, tau-tau gambar yang saya desain tadi sudah berada di tempat barang menunggu costumer datang mengambil.
Biasanya setiap adzan zuhur saya izin ke masjid yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat saya bekerja, Tapi hari itu saya terlambat, dan harus shalat di tempat kerja, Si bos mengajak saya sholat Jamaah bersamanya.
"Ayo yar, sudah jam 2, kita sholat",
Saya pun mengikuti langkahnya, dan meninggalkan meja kerja. Sebenarnya saya sudah lama penasaran, ingin melihat mesin Cetaknya, karena setiap orderan yang diterimanya, konsepnya di taruh di mejaku, setelah selesai saya desain, dia mengambil softcopynya, saya tidak pernah melihat bagaimana Finishingnya, tau-tau gambar yang saya desain tadi sudah berada di tempat barang menunggu costumer datang mengambil.
Ajakan si Bos sholat Jamaah itu, saya manfaatkan untuk melihat-lihat isi dalam rumah itu lebih jauh, ternyata pintu yang saya duga di dalamnya mesin itu, hanyalah gudang sampah, tak ada mesin. "Lalu.. bagaimana dan dimana si Bos ini mencetak semua hasil desainan saya?"
Suatu ketika, saat kesibukan begitu memuncak, si bos tidak sempat mengambil softcopy desainan saya, dia perintahkan mengirim Desainan itu lewat email, dengan menggunakan Email Perusahaan, setelah di bukakan Emailnya.
"Yar, kirimkan desainanmu itu ke alamat Email ini." sambil memberi secarik kertas.
Disitu baru saya tau bahwa tempat saya bekerja ini hanyalah menerima order dan desain, produksinya ternyata jauh 10 KM dari tempat ini.
Disitu baru saya tau bahwa tempat saya bekerja ini hanyalah menerima order dan desain, produksinya ternyata jauh 10 KM dari tempat ini.
Satu bulan saya bekerja, saya minta Resign, dengan alasan sudah tidak sanggup lama mata memandang Monitor mulai Pagi jam 8.00 sampai jam 10.00 malam nonstop. Gaji pertama saya terima, sekaligus gaji terakhir.
Sampai dirumah, saya ceritakan kepada isitri saya, Bos itu sebenanrya tidak punya apa-apa kecuali kepercayaan, pelayanan, dan teknnologi, "kalau begitu caranya.... saya juga bisa..!!!" kataku pada Istri,
"Ayo, kita mulai..!"
"hmmm... dari mana memulainya?" katanya bingung
"Kita mulai.. bahwa mulai besok kita buka usaha sendiri.."
"Dengan tempat seperti ini?" katanya heran.
karena tempat tinggal kami jauh dari keramaian, masuk gang keluar gang, dan tertutup tembok yang tinggi".
"Ayo, kita mulai..!"
"hmmm... dari mana memulainya?" katanya bingung
"Kita mulai.. bahwa mulai besok kita buka usaha sendiri.."
"Dengan tempat seperti ini?" katanya heran.
karena tempat tinggal kami jauh dari keramaian, masuk gang keluar gang, dan tertutup tembok yang tinggi".
"Ya.. kita mulai, kita buat brosur Iklan, bahwa kita menerima order." katakau mantap.
Dengan Laptop 11 Inci yang kumal dan seadanya, saya buat sebuah brosur, "Menerima Service Komputer, Laptop, Printer, buka 24 Jam"
Brosur itu saya perbanyak sebanyak 50 lembar.
Tapi,... memang saya bukan orang marketing, saya tidak berani menawarkan bahkan menempel brosur itu di luar rumah.
Karena brosur sudah di cetak, tapi tidak berani menempelkannya, akhirnya brosur itu saya tempel banyak-di dinding dalam rumah sebelah Meja Kerja sederhana itu, bahkan di daput".
Sambil senyum-senyum sendiri, "ahh. ini pun jadilah"
Dengan Laptop 11 Inci yang kumal dan seadanya, saya buat sebuah brosur, "Menerima Service Komputer, Laptop, Printer, buka 24 Jam"
Brosur itu saya perbanyak sebanyak 50 lembar.
Tapi,... memang saya bukan orang marketing, saya tidak berani menawarkan bahkan menempel brosur itu di luar rumah.
Karena brosur sudah di cetak, tapi tidak berani menempelkannya, akhirnya brosur itu saya tempel banyak-di dinding dalam rumah sebelah Meja Kerja sederhana itu, bahkan di daput".
Sambil senyum-senyum sendiri, "ahh. ini pun jadilah"
Sambil menunggu Cotumer yang tidak mungkin datang, saya utak atik komputer membuat sebuah Blog Bisnis, yang namana www.medanpercetakan.blogspot.com.
Begitulah kami memulainya, dengan membuat brosur, menggeser dan menyusun meja, berpakaian rapi setiap hari di dalam rumah, seakan-akan itu adalah meja kerja dan siap menerima costumer.
Hari itu saya sudah membuat langkah kecil, tekad dalam hati, dan tindakan yang sangat kecil, tapi dari langkah kecil itulah semua bermula.
"Ya... hanya dengan mencetak brosur dan menempelnya didinding dalam rumah, dan merapikan meja, berpakaian rapi, lalu bertawakkal kepada Allah, karena pada hari itu, hanya begitulah yang kami mampu."
Alhamdulillah, dengan langkah kecil itulah saya sampai ke tahapan ini, dan masih melangkah terus...
Alhamdulillah, dengan langkah kecil itulah saya sampai ke tahapan ini, dan masih melangkah terus...
"Ayo... mulailah usaha anda... lakukan dengan perlahan, dan terus menerus, jangan berhenti... karena langkah-langkah kecil itu akan membawamu meninggalkan tempat yang sulit itu, dan usaha yang paling bagus itu adalah usaha yang di mulai, bukan yang di tanya-tanya melulu.
"Berani memulai, gigih saat bertahan... = Sukses.!
"Berani memulai, gigih saat bertahan... = Sukses.!

0 komentar:
Posting Komentar