Puisi itu seperti gambarnya
Yang tetulis acak dan semrawut
ada tulisan "mampuslah kau di koyak-koyak sepi"
Tapi setara hatinya tak sekusam itu
Ada lara yang lalu dibali ungu
Aku hanya bisa termangu menatap rembulan
yang terbujur kaku di ujung malam
Lalu ku selipkan sekeping do'a merah jambu
Dan tak satu nyawa pun yang tahu
Hanya aku dan DIA
Seperti makna tulisan kalimat ini
Kau takkan pernah mengerti
Lara itu menyimpan Suka
Duka dan untuk siapa
Entahlah......... tiba-tiba kuduknya meregang kaku
membuang nafas terlalu dalam
bersama gumpalan asap yang kian menghilang
padahal dia sedang menatap bintang
yang meski jauh tetap terang
Meski bintang itu gemeralapan
Namun ia tak ingin menggapainya
Karna tangan kecilnya takkan sanggup mengumpulkan
jangankan beribu itu.. satupun teralalu banyak
Jika saja malam kemarin angin tak bertiup
Pastilah lara itu luruh dan luluh
Tapi kemungkinan tetap saja ada
Karna kuasamu dibawah KuasaNYA
Sepertinya hening lebih baik dari pada meratap
Memandang aliran air entah kemana jatuhnya
Yang pasti dia akan mengalir
menelusuri tempat yang lebih rendah
serendah hati yang mestinya masih di tangan
Tapi kini kaku dan kusam
ya sudahlah... lupakan saja
biarkan tanganNya menyulam hidupmu
pasti akan lebih indah dari pada sulamanmu.
Lara-lara itu sudah hampir berhenti
dan kau akan menikmati sisa-sisanya tanpa terperi
nikmati saja..... meski luka tapi pasti akan tetap luar biasa.
Yang tetulis acak dan semrawut
ada tulisan "mampuslah kau di koyak-koyak sepi"
Tapi setara hatinya tak sekusam itu
Ada lara yang lalu dibali ungu
Aku hanya bisa termangu menatap rembulan
yang terbujur kaku di ujung malam
Lalu ku selipkan sekeping do'a merah jambu
Dan tak satu nyawa pun yang tahu
Hanya aku dan DIA
Seperti makna tulisan kalimat ini
Kau takkan pernah mengerti
Lara itu menyimpan Suka
Duka dan untuk siapa
Entahlah......... tiba-tiba kuduknya meregang kaku
membuang nafas terlalu dalam
bersama gumpalan asap yang kian menghilang
padahal dia sedang menatap bintang
yang meski jauh tetap terang
Meski bintang itu gemeralapan
Namun ia tak ingin menggapainya
Karna tangan kecilnya takkan sanggup mengumpulkan
jangankan beribu itu.. satupun teralalu banyak
Jika saja malam kemarin angin tak bertiup
Pastilah lara itu luruh dan luluh
Tapi kemungkinan tetap saja ada
Karna kuasamu dibawah KuasaNYA
Sepertinya hening lebih baik dari pada meratap
Memandang aliran air entah kemana jatuhnya
Yang pasti dia akan mengalir
menelusuri tempat yang lebih rendah
serendah hati yang mestinya masih di tangan
Tapi kini kaku dan kusam
ya sudahlah... lupakan saja
biarkan tanganNya menyulam hidupmu
pasti akan lebih indah dari pada sulamanmu.
Lara-lara itu sudah hampir berhenti
dan kau akan menikmati sisa-sisanya tanpa terperi
nikmati saja..... meski luka tapi pasti akan tetap luar biasa.
0 komentar:
Posting Komentar