Pages

Banner 468 x 60px

 

Senin, 08 Oktober 2012

48 Jam Bersama Achen

0 komentar
Namanya Achen, sebenarnya aku sudah mengenalnya sejak 2 tahun yang lalu, tapi hanya sekedar telponan saja karena ada hubungan bisnis. Ya.. aku baru tahu kalo nama panggilannya adalah achen, seorang chines singapor, usia kami tak jauh beda, tapi mungkin pengalamannya lebih dari pada saya.
48 jam bersamanya, banyak ceritaku dan ceritanya yang terpaut, dia tidak seperti chines biasa yang ku kenal, yang hanya bicara bisnis melulu, dan menuhankan uang, tapi dia soeorang penganut budha yang taat.
Saya baru tahu kalo Taft GT yang kami tunggangi itu namanya Usrok, hampir sampai tempat tujuan, si Usrok ngulah, mulai dari radiator bocor, Diksel jebol, rencana tidak berjalan lancar, semua tertunda dan dan jauh panggang dari api, dan saya sangat merasa tak enak hati, karena saya yang membawa laju kendaraanya, dan rusak di tanganku, "maaf pak..... saya ceroboh dan tidak teliti, kantong bapak jadi koyak gak karuan.." bisikku padanya.
"Ah... gak apa-apa pak..., memang mobil sudah 20 tahun, memang sudah saatnya....." katanya sambil tertawa. Tapi aku tetap tak enak hati, selain itu, semua rencana tertunda, tak ada yang sesuai dengan rencana. Apalah yang bisa saya bantu kecuali mempermudah pekerjaannya.
Hikmah dari kemacetan yang kami alami, akhirnya kami banyak sharing tentang karekater, pola pikir, keluarga, ekonomi bahkan tentang agama, hmm.... tak jauh beda, dan Allah telah mempertemukan saya dengan Si Achen.
Putus asa sudah menyelimuti perjalanan kami, Dia ambil alih setir si Usrok, dan mengelus-elusnya....."usrok....usrok....koq kamu gitu sich..... jangan buat susah saya napa srok......bantuin doonk...., jangan ngulah gitu donk srok.."
Dia bercakap-cakap sendiri dengan si Usrok, seakan-akan Usrok memang bisa bicara, usrok pun bisa di starter dan melaju... lancar sampai tempat tujuan kami"
Lalu dia mulai cerita..."Pak akhyar..... dalam kepercayaan kami, semua yang ada di langit dan dibumi, air, tumbuhan, makanan dinding dan semuanya yang ada itu memiliki jiwa, yang bisa kita ajak berkomunikasi, bicaralah padanya.. dia pasti bisa mendengarkan... seperti makanan yang akan kita makan, kami selalu berdo'a.... wahai nasi.... terima kasih telah bersedia untuk memenuhi kebutuhan kami, semoga esok engkau tumbuh kembali dan memberi manfaat kepada manusia, begitu besar pengorbananmu......"
Semua yang ada dihadapan kita adalah pantulan dari diri kita sendiri, seperti teman kemarin yang ngambek sama saya, dan membenci saya, yang serakah... saya tidak marah padanya, tapi saya menyadari, bahwa sikapnya itu pasti ada pada diri saya, mungkin saya serakah, saya harus intropeksi, dan sekarang kita ditemukan...... dan saya melihat jodoh antara saya dan Pak Akhyar, diri pak akhyar sekarang adalah pantulan dari diri saya sendiri.
Kita di pertemukan bukan karena kebetulan, pak.... tapi dalam kepercayaan kami, kita akan dikelompokan seusuai dengan karakter dan diri kita sendiri.
JIka tidak susuai, dia akan pecah sendiri, dan mencari kelompoknya sendiri. Saya teringat tentang Ayat Allah "yang baik untuk yang baik, yang sholeh untuk yang sholeh, musyrik akan disatukan dengan sesama musrik..." yach... dikelompokkan.....
Jika Bapak menyayangi sesuatu, sesuatu itu akan merasakan, meski dia jauh bermil-mil jaraknya, karena cinta itu bisa menembus jarak dan waktu meski dia jauh di dasar bumi, akan ada kontak dan getaran tersendiri.... ketulusan yang Bapak curahkan, akan dirasakan oleh sesorang yang bapak cintai."
Lalu apa pendapat bapak tentang dosa??? tanyaku.
"Kami tidak  mengenal dosa, pak... tapi yang ada pada agama kami adalah karma, segala sesuatu yang kita lakukan, akan dibalas, mungkin kepada kita saat itu, atau anak kita nanti, atau cucu kita nanti, karena bagi kami, tidak ada jiwa yang mati, meski raganya mati, tapi  jiwanya selalu hidup, dan menempati raga yang lain, dan apa yang telah dilakukan akan menimpa dirinya kembali, makanya kami mengenal ada kaya keturunan, dan miskin keturunan. he.heh"
Bapak tidak mengenal dosa?? lalu kenapa bapak tidak beli nasi "nasi bungkus" saja? mengapa mesti menikah? kan bisa bayar perempuan untuk keperluan sex..."
Hmmm.....jika itu saya lakukan, saya akan mendapat karma itu, mungkin nanti anak saya, atau istri saya, atau cucu saya, juga akan terjadi seperti itu, kalo saya berbuat buruk, maka keburukan itu akan kembali kepada saya lagi, oleh karena itu... apapun keburukan yang terjadi pada diri saya, saya tidak boleh berlekuh kesah dan menyesali, karena menurut keyakinan kami, semua keburukan yang menimpa, adalah hasil perbuatan saya sendiri, kalo pun tidak pada diri saya... mungkin anak saya juga nanti akan dibegitukan orang lain...."
Lalu.. apakah kita tidak bisa menghindar dari keburukan/karma yang telah diperbuat oleh diri kita, atau orang-orang tua kita??
"Tidak bisa pak... kita harus terima..."
lho.. kenapa anda berusaha?
"Saya tidak tahu apa yang telah diperbuat oleh orang-orang saya terdahulu, dan saya sekarang teralahir adalah titisan/jiwa yang dulu menempati jasad orang lain.....mungkin jiwa kakek saya, atau buyut saya, atau bapak saya.. dan saya tidak tau cerita meraka yang lalu... yang penting berusaha, jika tidak sesuai dengan keinginan..berarti itulah karma...."
Terima kasih pak Achen... banyak cerita yang saya serap dari anda.... baiklah.. saya pulang dulu.... sampai jumpa lagi..... Very Glad To Meet you


0 komentar:

Posting Komentar