Pages

Banner 468 x 60px

 

Minggu, 30 Juni 2013

Ayahku

1 komentar
Ayahku....kami memanggilnya sehari-hari dengan kata "Abak"
Namanya Muhammad Abduh Jamil, tak banyak yang  memiliki nama itu dikampung kami, hanya ada satu orang sahabat dan tetangganya dulu saat tinggal di Desa Handle namanya Abduh Pohan. Beliau Lahir di Lipat Kajang 71 Tahun  yang lalu tepatnya 15 Maret 1942, saat negeri ini masuh hutan belantara, beliau ikut juga merasakan pahitnya jaman Belanda, Jepang dan PKI di desa terpencil itu, hingga pada saat heboh Referenum dan GAM bergejolak di Aceh, kami merasa resah dan cemas, ayah menangkan ku dan mengatakan "kamu ndak usah khawatir, disini (Rimo) Insya Allah tak akan rusuh, selama hidup ayah  di Rimo ini sejak zaman Belanda, Jepang dan PKI, tak begitu berpengaruh, sebab daerah kita bukan daerah politik, tapi daerah Ekonomi, masyarakat kita tidak begitu peduli dan tak tertarik dengan urusan seperti itu"


Beliau anak Ke 3 dari 4 bersaudara (alm. Ramsis Jamil, Nurhuda Jamil, M. Abduh Jamil dan A. Malik Jamil) ayahnya bernama Muhammad Jamil, kami tak begitu banyak tau tentang kakek itu, yang kami tahu makamnya ada di seberang rumah kami, hanya nenek Hj. Nurhalifah yang biasa kami panggil Uci  yang sempat bertemu dan kami bermanja ria padanya. Beliau juga sudah meninggal sekitar tahun 80an di usianya tepat 80 tahun sewaktu aku duduk di kelas 2 SD Tulaan. Masih segaar dalam ingatanku penyelenggaraan fardhu kifayah nenek yang kami cintai itu.
Ayah jarang bercerita tentang kisah-kisah masa lalunya ataupun silsilah keturun, beliau hanya sering bercerita kepada kami tentang masa depan, angan-angan dan impiannya yang besar,  yang mungkin baginya tak sempat lagi untuk mewujudkannya. Bagi kami beliau adalah seorang yang hebat, hingga suatu hari ayah pernah bertanya pada adikku Ahmad Firdaus yang waktu itu masih duduk di kelas I SD, "kalau kamu disuruh memilih presiden, siapa yang kamu pilih?? spontan saja dia menjawab "Aku pilih ayah...!!" begitulah dia bangganya terhadap ayah meski masih Kelas 1 SD, tapi dia sudah mengidolakan ayah.

Tak banyak yang kami tahu tentang silsilah garis keturunan ayah, kami hanya tahu sebatas kakek Muhammad Jamil, dan itu pun hanya namanya saja, dan beberapa cerita tentang beliau yang sering diceritakan ayah pada sela-sela taushiyahnya kepada kami, mungkin saat dia bercerita tentang kakek, dia sedang merindukannya.

Bagi kami Ayah adalah orang terhebat dan kami banggakan selain dan setelah Rasulullah, dan mungkin semua orang sayang dan bangga pada ayahnya.
Beliau bukan hanya seorang ayah, tapi juga seorang sahabat, tempat bertukar pikiran, diskusi tentang agama maupun bisnis dan tentang apa saja, bercanda dan bercengkrama, duduk disampingnya sangat mengasyikkan dengan berbagai macam nasehat, cerita dan Bual dan candanya karna beliau memang seorang homoris. Dikampung itu saya rasa.... semua orang mengenalnya, dan kadang kami "menjual" nama baiknya untuk kepentingan kami.. :-)
Tak ada yang terlalu istimewa dalam hidupnya, hanya orang biasa yang memiliki impian luar biasa, mendidik anak-anaknya juga tidak begitu luar biasa, Metodenya sangat sederhana.... beliau hanya menerapkan disiplin sholat dan akhlak karimah kepada anak-anaknya, tak terlalu perduli dengan rangking atau nilai kelas anak-anaknya, dan tak pernah bertanya "kamu rangking berapa, IP mu berapa? saat aku kuliah, yang sering dia tanya hanya "bagaimana sholatmu? bagaimana teman-temanmu? apakah kamu sudah punya banyak teman? ceritakan tentang satu orang temanmu pada ayah..."

MASA MUDA
Kadang-kadang ketika memberi wejangan dan nasehat kepada kami, dengan cara mengisahkan masa lalunya, mungkin saat melihat kami dan teringat masa lalunya, spontan beliau bercerita, tapi itu sangat jarang sekali, sekelumit yang pernah kudengar dari mulutnya bercerita...
Semasa kecil beliau tinggal di Panti Asuhan Muhammadiyah Banda Aceh, orang menyebutnya Asrama Penyantun, hingga saat ini asrama itu masih ada, jarak antara ayah dan abangnya alm. Ramsis Jamil terpaut cukup jauh, jarak usia mereka 15 tahun, dan belaiu sangat menyayangi dan menyegani Abang tertuanya itu, karena sepeninggal kakek, abangnya itulah yang mengurusnya, kami memangilnya Pak Tuo.
Sejak Sekolah Dasar ayah sudah tinggal di asrama Yatim, disana beliau di sekolahkan hingga mengecap pendidikan SMEP (Sekolah Ekonomi Pertama) tapi tidak selesai, karena ayah kabur dari asrama.
Beliau kabur karena ngambek sama pengurus asrama, pasalnya....... guru sekolahnya mengintruksikan agar setiap murid membawa pas photo segera dan menyerahkan kepada guru untuk administrasi Ujian Akhir Sekolah.
Kembali dari sekolah, pesan guru itu disampaikannya kepada kepala asrama, kepala asrama menjawab "apa pula pakai foto-foto segala, seperti pejabat saja???!!" dengan nada ketus. Ayah seorang yang mudah t
ersinggung, sore harinya beliau mengemas barang-barang dan meninggalkan asrama, menghilang tak ada kabar berita, dan kembali ke Rimo yang pada waktu itu jarak antara Banda Aceh-Rimo bisa memakan waktu 2 hari perjalanan karena jalannya masih begitu parah dan melalui hutan belantara.
cerita ini sering di ucapkannya padaku, saat beliau menasehati.."jangan mudah tersinggung.... kamu tau nggak, gara-gara sifat itulah ayah dulu gak selesai sekolah, hanya gara-gara omongan kepala asrama tentang pasfoto. karena setelah beberap tahun kemudian ayah menghilang dari asrama, kami bertemu dengan kepala asrama, dan memeluk ayah sambil menangis.... Abduh..abduh.. .. kemana kamu menghilang.. padahal kami mau mengirimmu ke Jawa untuk sekolah disana.. tiba-tiba saja ayah terperanjat dan timbul rasa menyesal yang sangat dalam, "kenapa waktu itu saya mesti kabur?" kalo lah tidak karena sifat itu, mungkin ayah sudah jadi pejabat sekarang..." guraunya.

"BERBAKTI"  KEPADA ABANG
     Di Rimo, ayah tinggal bersama Pak Tuo dan nenek, bekerja membantu Pak Tuo yang memang sorang pedagang kelontong, Pak Tuo sangat di kenal di kampung itu sebagai sudagar dengan Toko Madya Suka, Pak Tuo yang jaraknya sangat jauh dengan ayah, sikapnya layaknya seperti seorang ayah kepada anaknya, berwibawa dan jarang bicara apalagi canda dengan ayah,  Ayah tinggal dan makan disitu, banyak kisah yang diceritakan ayah padaku tentang suka duka tinggal di rumah warisan itu. salah satunya begini.

     "Pak Tuo adalah seorang sudagar yang sangat pintar melihat peluang pada zamannya, mungkin keturunan dari buyut kami, atau kakekya, kono kakeknya adalah soerang saudagar "importir" pada masa itu, yang sering berlayar dan berbelanja di Malaysia dan Singapur, sehingga dia memiliki banyak tanah di daerah Kepulauan Pulau Banyak, dan Pak Tuo lahir disana, karna itu namanya Jaziri yang artinya Pulauku, dan dia dikenal dengan nama Ajo Jiri di kampungku, tapi terahir Pak Tuo merubah namanya  menjadi Ramsis Jamil, aku tak tahu apa alasan nama Raja Mesir itu dibuatnya.
Tapi bagi Pak Tuo Bisnis adalah urusan utama, hingga akhirnya dia tak begitu sempat memperhatikan adiknya itu, sekolahnya ataupun kebutuhannya, Sebenarnya Ayah sering mendongkol sama Pak Tuo, tau nya hanya dagangannya saja yang ada dalam fikirannya,  hingga suatu hari Pak Tua melihat peluang bisnis Kerbau.
Pak Tuo memerintahkan ayah untuk pergi ke Desa Kandang Aceh Selatan, untuk melihat dan membeli Kerbau disana, untuk dibawa ke Rimo dan dijual, Jarak Rimo dengan Desa Kandang 2 hari perjalanan, Ayah berangkat menggunakan sepeda menyusuri bibir Pantai Samudra Hindia dengan berbekal Nasi Ketan, yang dimakan sedikit sedikit hanya sekedar menahan lapar, nasi ketan bisa tahan lebih lama dari pada nasi. Perjalanan yang jauh dan melelahkan itu membuat "pantat" ayah menjadi luka karena sedel sepeda, jika lelah beliau berhenti dan berisitrahat dibawah pohon.
Sesampainya di Desa Kandang dan negosiasi tentang harga, akhirnya Kerbau jadi juga dibawa ke Rimo, tapi ayah sudah tidak sanggup lagi untuk naik sepeda ke Rimo,  Ayah meminta kepada empunya Kerbau yang namanya Muhammad, kami memanggilnya Pak Cut Muhammad, untuk  mengantar sampai ke Rimo, sementara abak menjual sepeda itu dan melanjutkan perjalannya ke Banda Aceh dengan menggunakan Angkutan Umum.
Mendengar kabar itu dari Pak Cut Muhammad ketika sudah sampai di Rimo, Pak Tuo sangat marah, dan mengatakan  "Sepeda Pusaka kau jual, duh????"
Ayah tak perduli, memang tabiat ayah mungkin seperti itu, jika ada suatu hal yang tak disenanginya, dia tak perduli, dan di tinggalkan begitu saja dan tak mau dengar lagi orang yang ngomel.
Ayah tinggal di Banda Aceh untuk waktu beberapa  lama, lalu dari Banda Aceh Ayah pergi ke Medan, disana beliau menginap di rumah Kost anak Pak Tuo yang bernama Dahrusyid yang sedang menyelesaikan Kuliah Kedokteran di Medan,
Beliau menikmati makan dan tidur di kamar Keponaknnya itu, sampai akhirnya Pak Tuo menyuruhnya segera pulang.

AYAH MENIKAH
 bersambung...................................





Read more...

Rabu, 20 Maret 2013

قال لي الوداع

0 komentar

قال لي الوداع وحقوله ايه 
هوة الوداع يتقال في ايه 
إخترته ليه وإخترني ليه 
كان قلبي ليه وقلبه مش ليه 
حسيت إني لقيت حلم السنين 
وصحيت فجأة بقيت من المجروحين 

يا ريته قال حيروح يغيب 
ومكانش قال بقاله حبيب 
يا ريته راح من غير جراح 
حيفيده ايه يسيب جراح فيا 

حسيت إني لقيت حلم السنين 
وصحيت فجأة بقيت من المجروحين 

قال لي الوداع وحقوله ايه 
هوة الوداع يتقال في ايه 
إخترته ليه وإخترني ليه 
كان قلبي ليه وقلبه مش ليا 
حسيت إني لقيت حلم السنين 
وصحيت فجأة بقيت من المجروحين


Read more...

Kamis, 03 Januari 2013

Lara-Lara

0 komentar
Puisi itu seperti gambarnya
Yang tetulis acak dan semrawut
ada tulisan "mampuslah kau di koyak-koyak sepi"
Tapi setara hatinya tak sekusam itu
Ada lara yang lalu dibali ungu
Aku hanya bisa termangu menatap rembulan
yang terbujur kaku di ujung malam
Lalu ku selipkan sekeping do'a merah jambu
Dan tak satu nyawa pun yang tahu
Hanya aku dan DIA
Seperti makna tulisan kalimat ini
Kau takkan pernah mengerti 

Lara itu menyimpan Suka
Duka dan untuk siapa
Entahlah......... tiba-tiba kuduknya meregang kaku
membuang nafas terlalu dalam
bersama gumpalan asap yang kian menghilang
padahal dia sedang menatap bintang
yang meski jauh tetap terang

Meski bintang itu gemeralapan
Namun ia tak ingin menggapainya
Karna tangan kecilnya takkan sanggup mengumpulkan
jangankan beribu itu.. satupun teralalu banyak
Jika saja malam kemarin angin tak bertiup
Pastilah lara itu luruh dan luluh
Tapi kemungkinan tetap saja ada
Karna kuasamu dibawah KuasaNYA

Sepertinya hening lebih baik dari pada meratap
Memandang aliran air entah kemana jatuhnya
Yang pasti dia akan mengalir
menelusuri tempat yang lebih rendah
serendah hati yang mestinya masih di tangan
Tapi kini kaku dan kusam
ya sudahlah... lupakan saja
biarkan tanganNya menyulam hidupmu
pasti akan lebih indah dari pada sulamanmu.

Lara-lara itu sudah hampir berhenti
dan kau akan menikmati sisa-sisanya tanpa terperi
nikmati saja..... meski luka tapi pasti akan tetap luar biasa.


Read more...

Senin, 31 Desember 2012

Papa...Kembalikan Tangan Mila..

1 komentar


Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja.
Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.
Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas. Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya.
Hari itu bapak dan ibunya mengendarai motor ke tempat kerja karena ada perayaan Thaipusam sehingga jalanan macet. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.
Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi.Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Mila yg membuat itu papa…. cantik kan!” katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya.
Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya.
Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah.
Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Mila demam…
” jawap pembantunya ringkas.”Kasih minum panadol ,” jawab si ibu.
Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Mila dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Mila terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu.
“Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah.
“Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor.
Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan.
Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.
“Papa.. Mama… Mila tidak akan melakukannya lagi. Mila tak mau dipukul papa. Mila tak mau jahat. Mila sayang papa.. sayang mama.” katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.
“Mila juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.
“Papa.. kembalikan tangan Mila. Untuk apa ambil.. Mila janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Mila mau makan nanti? Bagaimana Mila mau bermain nanti? Mila janji tdk akan mencoret2 mobil lagi,” katanya berulang-ulang.
Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya
Read more...

NURUN 'ALA NURIN

0 komentar
Setengah hari di atas roda berputar-putar antara debu dan kemacetan
tak pernah terasa, tiba-tiba saja sampai
begitu setiap harinya. Entah menikmati....
entah apa lah namanya.
Tapi aku ikut saja seperti air
Menikmati tahapan demi tahapan roda kehidupan ini.
Dan jangan kau tanyakan aku bahagia atau tidak
Yang jelas nikmat Tuhan begitu besar terasa

Dan jika saja kesengsaraan  ku katakan padamu
Niscaya cela juga yang ku dengar
dan jika kebahagiaan kau dengar tentangku
Pastilah Kesisinisan yang kau utarakan.
Tentunya aku harus tak lagi bicara
Karena ucapan ini tak lagi bermakna apa-apa bagimu

Tak perlu sedu sedan itu
Karna hidup ini bukan kita yang punyai
Ada langit diatas langit
Dan cahaya diatas cahaya
Yachh... Cahaya diatas cahaya
NURUN 'ALA NURIN..............

Read more...
0 komentar
Siang itu di Letda Sujono

Di Masjid Al Hidayah di Letda Sujono, baru saja selesai sholat zuhur, Duduk di anak tangga masjid sambil memakai sepatu, ditemani seorang bocah yang dari tadi menunggui sepatuku, namanya aku lupa.... Dia masih kelas III SD, dan semua pertanyaan ku di jawab dengan cepat dan lancar.
Tiba-tiba saja kerumunan massa lewat di depan masjid itu, mereka menyeret dua orang lelaki yang diikat tangannya, kepalanya berdarah... darahnya berhamburan di wajahnya, Dua orang polisi menyeretnya seperti menarik kambing.

Seorang Tinggi berbadan bagus, wajahnya berlumuran darah, temannya lebih pendek, meski di seret massa, sepertinya di begitu pasrah, tatapan mata kami beradu.. tiba-tiba saja jantungku berdegup keras, meski berlumuran darah... wajahnya nampak seperti tersenyum saja....
"Kesalahan apakah gerangan yang telah diperbuatnya, hingga wajahnya begitu hancur?" 

Di Depan Kantor Polisi itu aku berhenti, dan bertanya pada seorang anak muda di sebelah ku.
"kenapa dia bang, dek?"
"Ah... apa abang gak liat?? habis mukanya dipukuli..., rampok, bang..." katanya bersemangat
"Ngerampok apa, ya?" tanyaku lagi.
"Rampok, baaang.... jambrettt...." jawabnya dengan logat Medan.

Apakah memang harus begitu menghakimi seorang jambret? ih..... ngeri bah.... 
Sungguh kasihan abang itu, dia harus merampok
Dan massa telah menghakiminya. 
Aku bingung saja... KOK BISA BEGITU, YA... antara kasihan dan kasihan......
Ah.. Entah lah mak rossss

Read more...

AULADI

0 komentar
Siapakah yang tak teringat
perjalanan kisah yang lantun dan dengung
Saat langit berderai dengan beribu cahaya
Saat sirine mendengung dan meraung
diatas langit gemeralapan cahaya api berhamburan
Ketika riak riang berderai menunggu detik
bagai detak jantung berdegub keras lalu lembut dan seterusnya lemah
terhenyak diantara riang tawamu dan tangis serta rengekanmu

Sebagiamana bintang semakin jauh semakin terang
Demikian Dikau semakin jauh semakin terkenang
Saat air matamu membasahi bahuku
lalu kau terdiam dengan tiba-tiba
Setelah tela-tela itu ada di genggamanmu
Tak seberapalah harganya
Tapi kerenyit kening abangmu membuat kau tertawa
berbagi adalah kebahagiaan bagimu

Detik ini kita hitung mulai saat ini
Disaat bumi bagai terbelah oleh suara yang tak kita perkenankan
Biasanya..
Diantara ketakutan dan kegiranganmu
Ada kebahagiaan dan derai tawa jika melihat memblenya bibirmu
Kemudian kau berlari mendekatiku
bergelantungalah di leherku yang dekil
karena seharian debu jalan melekat di tubuhku yang kumal
Tapi biasanya kau tak perdulikan itu

Keadaan  telah memisahkanmu
Dan takdir telah menceritakan kisahnya
Bahwa ada sesuatu yang lain yang tak pernah kita nalar
Suatu saat jika kau telah mengerti
Dan kau takkan pernah berhenti befikir
Harapanku.. hanya jika kelak kita bersua
Aku tetap orang terkasih bagimu......
Karena Kau begitu berharga dalam hidupku .. Zhef.....
Dan aku akan menemukanmu saat kau berada dibalik pintu
seperti biasanya saat ku melepaskan kelelahanku di dekapan kecilmu.
Dan juga untuk mu Fashan...
Gantikan aku dalam relung hati mereka
Meski kau tak begitu mengerti
dan jangan tanyakan "kenapa harus aku"
Tetaplah memberikan sayapmu pada Mayanfauni

1-1-13
Read more...